IDEA JATIM, MALASYSIA – Diantara ratusan warga yang memadati Laman Naluri, Lorong Setia 12, Kampung Setia, Kuang, Selangor, Minggu (2/8/2026), ada sebelas wajah muda yang sedikit berbeda. Rompi dan tanda pengenal yang mereka kenakan membuat keberadaan mereka mudah dikenali di tengah warga Melayu yang sejak pagi berkumpul mengikuti kegiatan kampung.
Mereka bukan warga setempat. Sebelas anak muda itu datang dari Indonesia, ribuan kilometer dari rumah, membawa nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka tengah menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Malaysia.
Hari itu, lebih dari 300 warga Kampung Setia berkumpul mengikuti berbagai kegiatan sosial, mulai dari pengobatan massal, bazar murah hingga sosialisasi pengolahan sampah. Di tengah kegiatan itulah mahasiswa UMM tak sekadar hadir sebagai tamu. Mereka ikut berbaur dengan warga dan terlibat dalam aktivitas kampung.
Sambutan hangat bahkan datang langsung dari Ketua Kampung Setia, Jamaluddin bin Wahab. Di hadapan warga, ia secara khusus memperkenalkan mahasiswa UMM yang sedang menjalani pengabdian di wilayahnya.
“Selamat datang tamu kehormatan, adik-adik mahasiswa dari UMM Indonesia. Saya sudah mengecek melalui internet, ternyata UMM adalah kampus besar dan ternama. Kami bangga menjadi tuan rumah untuk kampus besar seperti UMM,” kata Jamaluddin.

Bagi Jamaluddin, kehadiran mahasiswa Indonesia membuka ruang yang lebih luas daripada sekadar menjalankan program KKN. Ia berharap warga Kampung Setia dapat mengenal budaya Indonesia, sementara mahasiswa yang datang juga memperoleh kesempatan mengenal kehidupan dan budaya masyarakat Malaysia secara langsung.
Semangat serupa disampaikan Hasnal Rezua bin Habib Merican, anggota dewan lokal Selangor yang turut hadir di tengah warga. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa bersama masyarakat menunjukkan kebersamaan yang semestinya tumbuh dalam kegiatan seperti ini.
Sebagai bentuk apresiasi, Hasnal menyerahkan sertifikat kepada UMM melalui perwakilan mahasiswa, termasuk kepada masing-masing peserta KKN. Mahasiswa UMM juga memberikan sertifikat apresiasi kepada Kampung Setia yang telah menerima mereka dengan tangan terbuka.
Kehangatan itu tak berhenti ketika kegiatan kampung selesai.
Hasnal kemudian mengajak para mahasiswa makan siang di Kedai Ayu Setia Kuang, tak jauh dari lokasi acara. Kedai tersebut dimiliki Yayuk Susanti, perempuan asal Indonesia yang telah lebih dari 20 tahun hidup dan menjalankan usahanya di tengah masyarakat setempat.
Tempat itu juga menjadi salah satu ruang pengabdian mahasiswa selama berada di Malaysia. Kepada para pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di kedai tersebut, mahasiswa memberikan pelatihan keterampilan digital sebagai bekal persiapan kerja ke depan.
Bagi Koordinator KKN Selangor, Muhammad Arya Dwipa Ananta, sambutan masyarakat Kampung Setia meninggalkan kesan tersendiri. Mahasiswa semester enam Program Studi Ilmu Hukum UMM itu mengaku tidak menyangka kehadiran mereka mendapat perhatian hingga dari perangkat kampung dan anggota dewan.
“Terima kasih sebesar-besarnya kepada Dato’ Jamaluddin, Dato’ Hasnal dan Bu Ayu atas kesempatan yang sangat baik ini,” kata Arya.
Tim KKN yang mereka beri nama Dhirgantara itu, menurut Arya, bertekad tidak hanya datang untuk menyelesaikan agenda akademik. Mereka ingin meninggalkan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat selama berada di Selangor.
Pengalaman berbaur dengan warga lokal juga menjadi bagian penting dari tujuan KKN Internasional tersebut. Dosen Pendamping Lapangan (DPL) KKN UMM, Nasrullah, melihat keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kampung sebagai kesempatan belajar yang mungkin sulit diperoleh hanya dari ruang kelas.
“Sejak bertemu dengan Dato’ Jamaluddin, saya sudah sampaikan agar mahasiswa dilibatkan di acara kampung. Beliau setuju, bahkan akan mengadakan acara Kemerdekaan RI dan Hari Merdeka Malaysia yang sama-sama diperingati bulan Agustus ini nanti,” ungkap Nasrullah, dosen Ilmu Komunikasi UMM.
Rencana itu sekaligus membuka babak lain dari perjumpaan mahasiswa Indonesia dengan warga Malaysia. Dua negara bertetangga yang sama-sama merayakan kemerdekaan pada Agustus akan dipertemukan dalam satu kegiatan kampung.
Kegiatan di Kampung Setia sendiri hanya menjadi satu bagian dari perjalanan sebelas mahasiswa tersebut selama menjalani KKN Internasional di Malaysia.
Agenda rutin mereka berada di Sanggar Bimbingan (SB) Kubu Gajah, Kampung Sungai Pelong. Di tempat itu, mahasiswa UMM mengajar anak-anak Indonesia. Mereka juga memberikan pelatihan keterampilan digital untuk persiapan kerja serta penyuluhan hukum bagi pekerja di Kedai Ayu Setia, Kuang.
“Agenda rutin kami adalah mengajar di SB Kubu Gajah dan memberi pelatihan digital skill untuk persiapan kerja dan penyuluhan hukum untuk pekerja Kedai Ayu Setia di Kuang,” terang Arya.
Di luar kegiatan pengabdian tersebut, mahasiswa dijadwalkan bertukar wawasan dengan dosen di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Negeri Sembilan, serta berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur.
Namun, perjumpaan dengan masyarakat Kampung Setia memberi pengalaman yang berbeda. Di sana, batas antara mahasiswa yang datang untuk mengabdi dan masyarakat yang menjadi tempat pengabdian perlahan menjadi lebih cair.
Mereka datang sebagai sebelas mahasiswa dari Malang. Di tengah ratusan warga Kampung Setia, mereka kemudian belajar satu hal yang barangkali tidak tertulis dalam agenda KKN: menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di negeri orang. (*)



