IDEA JATIM, BATU – Pemerintah Kota Batu terus berupaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif daerah demi mengukuhkan posisinya di tingkat nasional. Langkah nyata tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) yang mencakup proses uji petik dan verifikasi lapangan.
Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Kota Batu, Emilyati, menjelaskan bahwa Kota Batu memiliki potensi ekonomi kreatif yang sangat kuat berbasis kolaborasi lintas sektor. Potensi unggulan daerah ini bertumpu pada sektor pertanian, pariwisata, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta kreativitas masyarakat, khususnya generasi muda.

“Berbagai hasil pertanian Kota Batu tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi telah dikembangkan menjadi beragam produk olahan, kuliner, kriya, desain kemasan, karya seni, konten kreatif, hingga pengalaman wisata,” ujar Emilyati. Menurutnya, potensi tersebut menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Kota Batu sebagai kota gastronomi berbasis pertanian dan ekonomi kreatif.
Ia menambahkan, rangkaian uji petik ini merupakan bagian penting dari verifikasi dan pemetaan lapangan untuk mendukung penetapan Kota Batu sebagai salah satu Kota Kreatif Indonesia.
Melalui kegiatan PMK3I ini, Pemkot Batu menetapkan lima tujuan utama. Diantaranya memverifikasi potensi daerah, termasuk pelaku usaha, produk, rantai pasok, dan kelembagaan ekonomi kreatif.

Mengidentifikasi keterkaitan antara sektor pertanian, gastronomi, pariwisata, UMKM, seni, media, kriya, dan subsektor terkait lainnya. Mendapatkan masukan strategis dari Tim Penilai Nasional guna penguatan subsektor unggulan.
Kemudian menyepakati subsektor unggulan berdasarkan kondisi ekosistem yang telah terverifikasi secara objektif. Merumuskan rekomendasi dan komitmen bersama demi pengembangan ekonomi kreatif Kota Batu yang berkelanjutan.
Dengan penguatan ekosistem dan sinergi bersama tim penilai nasional, Kota Batu optimistis mampu mengoptimalkan sektor ekonomi kreatif sebagai penggerak utama kesejahteraan masyarakat dan daya saing daerah. (*)




