Deklarasi Komitmen Kota Kreatif Indonesia ke-88, Kota Batu Mantapkan Langkah Menuju UNESCO Creative City of Gastronomy

IDEA JATIM, BATU – Pemerintah Kota Batu secara resmi mendeklarasikan komitmen bersama menuju Kabupaten/Kota Kreatif (KaTa Kreatif) Indonesia ke-88 dengan menetapkan Gastronomi sebagai subsektor unggulan. Deklarasi tersebut ditandai dengan Penandatanganan Berita Acara Hasil Uji Petik (BAHUP) Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) dan penandatanganan komitmen bersama seluruh aktor Hexahelix di hadapan Tim Penilai Nasional Kementerian Ekonomi Kreatif di Balai Kota Among Tani, Jumat (31/7/2026).

Penandatanganan BAHUP menjadi puncak dari rangkaian uji petik lapangan yang berlangsung selama tiga hari. Tim Penilai Nasional melakukan verifikasi terhadap ekosistem ekonomi kreatif Kota Batu melalui kunjungan ke berbagai simpul kreatif, diskusi kelompok terarah (FGD), hingga penyusunan komitmen bersama sebagai dasar pengembangan ekonomi kreatif daerah.

Hadir dalam kesempatan tersebut Direktur Fasilitasi Infrastruktur Kementerian Ekonomi Kreatif sekaligus Tim Penilai Nasional PMK3I, Dr. Fahmi Amrin, Wali Kota Batu Nurochman, jajaran Pemerintah Kota Batu, DPRD, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, lembaga keuangan, organisasi profesi, serta seluruh unsur Hexahelix yang selama ini menjadi penggerak ekosistem ekonomi kreatif Kota Batu.

Kota Batu
Deklarasi Komitmen Kota Kreatif Indonesia ke-88, Kota Batu Mantapkan Langkah Menuju UNESCO Creative City of Gastronomy 1

Dalam deklarasi tersebut, Pemerintah Kota Batu menegaskan bahwa gastronomi bukan hanya dimaknai sebagai kuliner, melainkan sebagai pintu masuk pembangunan publik yang menghubungkan sektor pertanian, budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, pendidikan, hingga pelestarian kearifan lokal.
Subsektor kuliner ditetapkan sebagai lokomotif yang menarik dan menggerakkan “gerbong” subsektor prioritas lainnya, yaitu Seni Pertunjukan, Desain Produk, Seni Rupa, Arsitektur Lanskap, Film, Video, dan Animasi, Fotografi, Televisi dan Radio; serta Konten Digital.

Model pengembangan tersebut diharapkan membangun rantai nilai ekonomi kreatif yang saling terhubung, mulai dari proses kreasi, produksi, distribusi, konsumsi hingga konservasi.

Baca Juga:  Perkuat Stabilitas Daerah, Polres Batu Gelar Apel Besar Sabuk Kamtibmas Tahun 2026

Wali Kota Batu Nurochman mengatakan bahwa perjalanan menuju Kota Kreatif merupakan hasil kolaborasi panjang seluruh elemen masyarakat sejak penguatan jejaring ekonomi kreatif beberapa tahun terakhir.

“Terima kasih kepada Pak Dr. Fahmi Amrin beserta Tim Penilai Nasional yang telah melakukan uji petik dan memverifikasi secara langsung kondisi ekosistem ekonomi kreatif Kota Batu. Kami optimistis Kota Batu mampu menjadi Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia dengan subsektor unggulan Gastronomi.” ujar Nurochman.

Menurutnya, penetapan tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari transformasi pembangunan daerah yang lebih terintegrasi.

“Kami akan menyusun roadmap yang menghubungkan pertanian, gastronomi, pariwisata, seni budaya, ekonomi kreatif, hingga inovasi berbasis teknologi. Seluruh masyarakat harus menjadi bagian dari gerakan ini karena Kota Kreatif dibangun oleh kolaborasi, bukan hanya pemerintah.” imbuhnya.

Nurochman juga menegaskan bahwa keberhasilan gastronomi sangat ditentukan oleh keberlanjutan sektor pertanian. Karena itu Pemerintah Kota Batu tengah mengembangkan kawasan Smart and Integrated Farming sebagai model regenerasi petani muda sekaligus penguatan rantai pasok bahan baku gastronomi lokal.

Di sisi lain, pembangunan art center, sebagai implementasi program prioritas daerah Batu Artpreneur, serta optimalisasi kawasan pariwisata bersejarah Selecta akan menjadi infrastruktur pendukung pengembangan ekonomi kreatif.

Direktur Fasilitasi Infrastruktur Kementerian Ekonomi Kreatif Dr. Fahmi Amrin menyampaikan bahwa proses PMK3I dirancang untuk memastikan kesiapan daerah membangun ekonomi kreatif secara menyeluruh.

Menurutnya, penilaian tidak hanya berfokus pada produk unggulan, tetapi juga melihat kualitas kolaborasi antaraktor, keberlanjutan rantai nilai, kepemimpinan daerah, serta komitmen seluruh unsur Hexahelix dalam mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif.

“Uji petik dilakukan untuk mengonfirmasi bahwa data yang disampaikan daerah benar-benar hidup di lapangan. Yang kami lihat bukan hanya kekuatan subsektor unggulan, tetapi bagaimana seluruh ekosistemnya saling terhubung dan mampu tumbuh secara berkelanjutan.”

Baca Juga:  Mewujudkan Mimpi Anak Daerah, 1000 Sarjana Gandeng Universitas Kepanjen Lahirkan Calon Pemimpin Masa Depan

Ia menambahkan bahwa komitmen yang telah ditandatangani menjadi modal penting bagi Kota Batu dalam memperkuat implementasi program setelah proses penilaian selesai.

Koordinator Batu Creative Hub, Alan W. Hafiludin, menilai proses PMK3I membuktikan bahwa Kota Batu telah memiliki modal sosial yang kuat berupa budaya kolaborasi lintas sektor.

“Batu Creative Hub bukan sekadar tempat berkegiatan, tetapi ruang bersama yang mempertemukan ide, kreativitas, inovasi, jejaring, dan kolaborasi dari seluruh forum lintas komunitas. Penetapan Kota Batu sebagai Kota Kreatif harus menjadi awal lahirnya lebih banyak karya, inovasi, dan peluang ekonomi bagi masyarakat.” katanya.

Menurut Alan, Batu Creative Hub akan terus memperkuat posisinya sebagai Forum Lintas Komunitas yang mengoptimasi berbagai aset bangunan dan desa wisata sebagai pusat aktivasi kreatif yang menghubungkan komunitas, pelaku usaha, perguruan tinggi, pemerintah, investor, hingga jejaring nasional maupun internasional agar seluruh subsektor kreatif dapat berkembang secara berkelanjutan.

Ketua Komisi Pelaksana Komite Ekonomi Kreatif Kota Batu, Muhammad Anwar, menilai penandatanganan BAHUP merupakan momentum konsolidasi terbesar ekosistem ekonomi kreatif Kota Batu.

Menurutnya, gastronomi dipilih karena memiliki kemampuan menghubungkan hampir seluruh subsektor ekonomi kreatif dalam satu ekosistem yang utuh.

“Gastronomi bukan hanya soal makanan. Gastronomi adalah budaya yang dimulai dari bertani, mengolah, mendesain produk, mengemas cerita, memotret, membuat film, menghadirkan seni pertunjukan, mempromosikan melalui media dan konten digital, hingga menghadirkan pengalaman bagi wisatawan. Inilah alasan gastronomi menjadi lokomotif pembangunan ekonomi kreatif Kota Batu.” ungkapnya.

Baca Juga:  Bukan Sekadar Minum Susu, WESB Kota Batu Ajak Wisatawan Mengintip Rahasia Keju Mozarella hingga Biogas!

Ia menambahkan bahwa penetapan sebagai Kota Kreatif Indonesia nantinya merupakan pintu masuk bagi program-program publik yang lebih strategis, termasuk penguatan investasi, pengembangan talenta kreatif, perluasan pasar, serta peningkatan daya saing daerah menuju UNESCO Creative Cities Network (UCCN) bidang Gastronomi.

“Sesudah penetapan, pekerjaan kita justru dimulai. Roadmap harus diterjemahkan menjadi aksi nyata. Kolaborasi Hexahelix harus terus diperkuat agar setiap subsektor saling mendukung. Keberhasilan Kota Batu sebagai Kota Kreatif bukan milik pemerintah semata, tetapi keberhasilan seluruh masyarakat Kota Batu.” paparnya.

Komitmen Bersama Seluruh Aktor Hexahelix
Sebagai puncak kegiatan, seluruh unsur Hexahelix menandatangani Komitmen Bersama Kota Batu Agrokreatif Gastronomi, yang melibatkan Pemerintah Daerah, akademisi, dunia usaha, media, lembaga keuangan, Komite Ekonomi Kreatif Kota Batu, jejaring Batu Creative Hub–ICCN, pelaku industri kreatif subsektor kuliner, kriya, seni pertunjukan, seni rupa, desa wisata, serta Tim Penilai Nasional Kementerian Ekonomi Kreatif.

Komitmen tersebut menjadi dasar bersama untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, membangun rantai nilai ekonomi kreatif dari hulu hingga hilir, berakar pemajuan kebudayaan, menjaga keberlanjutan sumber daya lokal, serta mengakselerasi transformasi Kota Batu sebagai Kota Agrokreatif Gastronomi.

Sebagai Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia ke-88, Kota Batu tidak hanya memperoleh pengakuan nasional, tetapi juga memiliki fondasi yang lebih kuat untuk melangkah menuju UNESCO Creative Cities Network (UCCN) bidang Gastronomi. Dengan dukungan kepemimpinan daerah, ekosistem Hexahelix yang solid, serta kekayaan pertanian, budaya, dan kreativitas masyarakat, Kota Batu optimistis mampu memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif berbasis gastronomi di Indonesia. (*)

Berita Terkini

Cak Nur Optimis Batu, Selangkah Lagi Kota Kreatif Gastronomi Indonesia

IDEA JATIM, BATU – Penandatanganan Berita Acara Hasil Uji...

Kota Batu Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif Menuju Kota Kreatif Indonesia

IDEA JATIM, BATU – Pemerintah Kota Batu terus berupaya...

KKN Internasional UMM di Malaysia Dapat Apresiasi Ketua Kampung dan Anggota Dewan

IDEA JATIM, MALASYSIA - Diantara ratusan warga yang memadati...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img