Layaknya sesosok Zombie yang terlihat hidup, namun tak bernyawa, Pelari Zombie akan merasa dirinya tak jauh dari itu. Ia masih tetap berlari, tapi tidak ada kenikmatan di dalamnya. Alasannya untuk berlari sudah mulai luntur dan menghilang. Tergantikan tekanan-tekanan dari luar, ataupun dari pikirannya sendiri.
Banyak pelari mengawali langkahnya tidak untuk menjadi juara. Berat badan sering menjadi alasan utama, selain alasan lain seperti untuk sehat atau sekadar mencari aktifitas olahraga baru. Namun, niat awal itu perlahan akan samar saat bertemu dengan hal lain, yakni target waktu.
Pace, mileage, dan target yang terus bertambah, membuat kesenangan lari menjadi jadwal harian yang tak kalah melelahkan dari pekerjaan. Bukan lagi menjadi hal yang sering ditunggu, tapi seringnya malah membuat menggerutu.