Di tengah ekonomi global yang penuh gejolak, Indonesia tidak bisa terus bergantung pada satu mata uang asing, terutama dolar AS, untuk menopang perdagangan dan investasi lintas negara. Karena itu, Bank Indonesia (BI) semakin memasifkan kebijakan Local Currency Transaction (LCT), yaitu penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral dengan negara mitra, sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.. Kebijakan ini menjadi semakin relevan justru ketika kondisi ekonomi sedang tidak stabil, sebab tekanan global biasanya langsung terasa pada kurs, biaya impor, dan harga-harga di dalam negeri.
Bagi pembaca non-ekonomi, LCT dapat dipahami secara sederhana sebagai upaya agar transaksi dagang tidak selalu harus melewati dolar AS. Ketika eksportir Indonesia bertransaksi dengan mitra di Malaysia, Thailand, Jepang, atau Tiongkok, penggunaan Rupiah dan mata uang lokal mitra dapat mengurangi ketergantungan pada dolar yang sering berfluktuasi tajam saat pasar global bergejolak. Dengan cara itu, dunia usaha memiliki ruang yang lebih aman untuk merencanakan pembayaran, mengatur harga, dan menekan ketidakpastian biaya transaksi.
Kebijakan ini penting karena ketidakstabilan ekonomi global tidak hanya menjadi urusan bank sentral atau pelaku pasar keuangan, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat sehari-hari. Ketika nilai tukar bergejolak, harga bahan baku impor bisa naik, ongkos produksi membesar, dan pada akhirnya masyarakat ikut merasakan tekanan melalui kenaikan harga barang atau biaya layanan tertentu. Dalam konteks inilah BI terus mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas Rupiah, termasuk melalui perluasan implementasi LCT.
Langkah memasifkan LCT juga tidak muncul tanpa dasar akademik.Sejumlah penelitian di jurnal Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral dapat menjadi instrumen penting untuk mengurangi efek dolarisasi dan menekan risiko yang timbul akibat volatilitas kurs global .Sebuah studi misalnya, menyoroti bahwa penggunaan mata uang lokal antara Indonesia, Malaysia, dan Thailand dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan politik, serta berpotensi memberi manfaat berupa efisiensi transaksi dan pengurangan tekanan terhadap dominasi dolar. Selain itu, beberapa penelitian terkait LCT membahas dampaknya terhadap aktivitas perdagangan Indonesia dengan negara mitra .Sejumlah studi menemukan bahwa ketika penggunaan mata uang lokal semakin diperluas, pelaku usaha memiliki kepastian yang lebih baik dalam mengelola pembayaran internasional, terutama pada saat nilai tukar dolar sangat fluktuatif.Artinya, LCT bukan hanya kebijakan simbolik, tetapi memiliki fungsi nyata sebagai bantalan tambahan bagi ekonomi nasional ketika pasar global sedang tidak menentu.
Dampak positif ini sangat penting bagi UMKM yang mulai masuk ke pasar ekspor. Selama ini banyak pelaku usaha kecil menghadapi kendala bukan hanya pada produksi dan pemasaran, tetapi juga pada risiko kurs yang sulit mereka kendalikan. Ketika dolar menguat tajam, biaya transaksi bisa berubah mendadak dan membuat margin keuntungan menjadi sangat tipis. Melalui LCT, sebagian beban itu dapat dikurangi karena pelaku usaha tidak selalu harus berhadapan langsung dengan gejolak dolar.
Beberapa studi juga menunjukkan bahwa kebijakan LCT memiliki keterkaitan dengan volume dan nilai ekspor Indonesia, sehingga membuka peluang penguatan bagi sektor riil, termasuk usaha skala kecil dan menengah. Sementara itu, kajian lain mengenai Local Currency Settlement menegaskan bahwa penggunaan mata uang lokal dapat memperkuat stabilitas sistem keuangan sekaligus memberi ruang yang lebih inklusif bagi pelaku usaha yang sebelumnya terbebani oleh biaya transaksi valas. Dengan kata lain, LCT bukan hanya bicara soal kurs dan pasar keuangan, tetapi juga soal bagaimana pelaku usaha domestik dapat tumbuh dalam situasi ekonomi yang tidak ramah.
Pada level kebijakan, langkah BI memasifkan LCT juga menunjukkan perubahan cara pandang dalam mengelola stabilitas ekonomi. Stabilitas tidak lagi hanya dijaga melalui intervensi jangka pendek ketika Rupiah tertekan, tetapi juga melalui penguatan struktur transaksi internasional agar ekonomi Indonesia tidak terlalu rentan terhadap gejolak satu mata uang global. Itulah sebabnya kerja sama LCT terus diperluas dengan berbagai negara dan didukung oleh penguatan kerangka regional di kawasan Asia.
Pendekatan ini penting karena tantangan ekonomi ke depan diperkirakan tetap kompleks. Ketidakpastian geopolitik, perubahan arah kebijakan moneter negara maju, dan fluktuasi harga komoditas akan terus memengaruhi stabilitas nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam situasi seperti itu, LCT dapat dibaca sebagai strategi antisipatif: bukan menunggu krisis datang, tetapi membangun bantalan sejak awal agar tekanan eksternal tidak langsung mengguncang fondasi ekonomi domestik.
Karena itu, memasifkan LCT pada saat ekonomi Indonesia tidak stabil bukanlah langkah berlebihan, melainkan keputusan yang masuk akal dan strategis. Kebijakan ini memperlihatkan bahwa menjaga stabilitas Rupiah tidak cukup hanya dengan merespons gejolak harian di pasar, tetapi juga memerlukan pembenahan cara bertransaksi dengan dunia luar. Beberapa penelitian LCT dan dampaknya di Indonesia, LCT layak dipandang sebagai bagian penting dari upaya memperkuat kedaulatan ekonomi, melindungi sektor usaha, dan menjaga agar gejolak global tidak sepenuhnya dibayar mahal oleh masyarakat di dalam negeri.




