Ideajatim.id, Malang – Sabtu kemarin, Lapangan Pemimpin Peradaban di Sekolah Sabilillah itu menjadi saksi pengukuhan 681 siswa baru. Mereka resmi dikukuhkan. Yang mengukuhkan, Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd. Beliau Direktur Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Sabilillah.
Kalimat pengukuhannya pendek, tapi bergetar: “Atas dasar keyakinan bahwa hadza min fadhli rabbi—semua karena pertolongan Allah SWT—maka pada hari ini… saya secara resmi mengukuhkan Ananda sekalian…”
Orang tua yang hadir banyak yang terharu. Merinding.
Acara ini rangkaian dari OSPIS (Orientasi Sistem Pendidikan Islam Sabilillah). Sekaligus mengawali MBK (Masa Pembentukan Karakter). Siswa yang dikukuhkan lengkap. Mulai dari yang masih imut-imut di TK Islam Sabilillah Malang 1 dan 2, anak-anak SD Islam Sabilillah Malang 1 dan 2, remaja SMP Islam Sabilillah Malang, sampai yang sudah mulai beranjak dewasa di SMA Islam Sabilillah Boarding School Sistem Pesantren.
Mengapa acara seremonial seperti ini begitu penting?
Bagi Sabilillah, ini bukan sekadar tanda masuk sekolah. Ini adalah ritual penyerahan mandat. Mandat yang amat berat dari para orang tua kepada sekolah. Visi sekolah ini memang tidak main-main: World Class Islamic Education. Sekolah Islam berkelas dunia.
Bagaimana caranya?
Ternyata tidak melulu lewat rumus matematika yang rumit. Atau hafalan biologi yang tebal. Kuncinya ada pada karakter. Sabilillah punya rumus sendiri: “Siswa Sabilillah Penuh Cinta”.
Ada delapan pilarnya. Mulai dari cinta Allah dan Rasul, cinta orang tua dan guru, cinta diri sendiri, cinta alam, hingga cinta ilmu pengetahuan dan tanah air.
Saya merenungkan delapan pilar itu.
Begitu indahnya kalau anak-anak kita punya basis spiritual yang kuat, tapi sekaligus siap bertarung di kancah global dengan sains dan bahasa internasional.
Sekretaris Yayasan Sabilillah Malang, Drs. Ishom Ihsan, M.Pd., bahkan punya sudut pandang yang lebih dalam lagi.
“Anak-anak yang hadir sekarang ini bukan hanya murid baru,” katanya.
“Tapi amanah Allah, amanah keluarga, dan amanah masa depan bangsa.”
Beban itu ada di pundak para guru dan tenaga kependidikan (tendik).
Maka, sebelum murid-murid baru itu datang, para guru sudah “dihajar” dulu dengan berbagai pelatihan. Tujuannya satu: bagaimana mengubah sekolah menjadi rumah kedua yang nyaman.
Setiap anak itu unik. Gaya belajarnya beda-beda. Guru di Sabilillah harus paham itu.
”Insyaallah Bapak dan Ibu tidak salah meletakkan putranya, menyerahkan untuk dididik di Sabilillah,” tegas Ishom.
Nada bicaranya penuh keyakinan.
Ada satu poin dari Ishom yang saya catat betul. Ini soal cara pandang terhadap kesalahan anak.
Di Sabilillah, targetnya bukan lagi sekadar nilai rapor yang berderet angka 90 atau 100. Bukan pula sekadar hafalan di atas kertas. Orientasinya sudah bergeser ke hal yang lebih substantif.
”Harapan kami nanti, bagaimana anak datang ke sekolah bukan takut salah,” ujar Ishom. “Tapi anak-anak ke sekolah belajar dari kesalahan, membuka kekurangan di masa kecil tapi menemukan jalan untuk tumbuhnya.”
Hebat. Ini filosofi pendidikan yang matang. Anak-anak diajari berproses. Bukan ditakut-takuti oleh angka-angka akademis. Indikator suksesnya adalah pertumbuhan akhlak, daya pikir, dan seberapa bermanfaat hidup mereka kelak untuk masyarakat.
Semua itu diramu dalam tiga pilar: keagamaan, kebangsaan, dan kecendekiaan. Tiga hal yang tidak boleh dipisah. Harus komplet. Religius, cerdas, dan cinta Indonesia.
Tentu, sekolah tidak bisa jalan sendiri. Sabilillah memang menerapkan full day school dan sistem mahad (asrama) untuk SMA. Tapi, rumah pertama—yaitu keluarga—tetap yang utama.
Harus ada sinergi satu suara antara rumah dan sekolah. Mulai dari urusan disiplin waktu sampai urusan ibadah.
Kini, Yayasan Sabilillah Malang sudah memasuki usia yang matang: 30 tahun. Usia tiga dekade adalah usia matang-matangnya sebuah lembaga. Mereka berjanji untuk tidak lelah berinovasi.
Melihat antusiasme Sabtu lalu, rasanya masa depan peradaban itu memang sedang dijemput dari Malang.
Membawa anak-anak itu terbang tinggi, tanpa kehilangan akar Qur’ani mereka. (*)




