Ideajatim.id, Malang – Di balik meriahnya pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 tingkat nasional di SMKN 2 Singosari, Kabupaten Malang, Senin (13/7), tersimpan kisah perjuangan seorang ibu yang menginspirasi.
Saat ribuan peserta menyambut kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., perhatian juga tertuju pada Isnaini. Perempuan asal Singosari itu datang mendampingi putrinya, Eka Aprilia Nur Fadhila, yang menggunakan kursi roda dan merupakan penyandang disabilitas.
Tahun ajaran 2026/2027 menjadi babak baru bagi Eka. Setelah menamatkan pendidikan di jenjang SMP, ia diterima di SLB Pembina Lawang, Kabupaten Malang, untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA.
Bagi Isnaini, keberhasilan putrinya melangkah ke jenjang berikutnya bukan sekadar kelulusan, melainkan hasil dari perjuangan panjang menghadapi berbagai tantangan.
“Sebagai orang tua saya selalu mendukung apa pun keinginan anak selama itu untuk kebaikannya, terutama agar tetap semangat sekolah,” ujarnya.
Ia mengaku perjalanan tersebut tidak mudah. Berbagai pandangan negatif, pertanyaan, hingga stigma dari lingkungan sekitar pernah diterimanya. Namun, pengalaman itu justru membuatnya semakin tegar memperjuangkan hak pendidikan bagi sang putri.
“Dulu memang berat. Sekarang saya sudah kebal. Yang terpenting anak saya bisa berkembang dan mendapatkan pendidikan yang layak,” tuturnya.
Perjuangan itu juga diwarnai pengalaman pahit ketika Eka sempat ditolak oleh beberapa sekolah. Meski demikian, Isnaini tidak pernah menyerah mencari tempat belajar yang memberikan kesempatan bagi putrinya untuk terus berkembang.
Menurutnya, pendidikan merupakan hak setiap anak tanpa terkecuali, termasuk anak berkebutuhan khusus. Karena itu, ia terus mendampingi Eka dalam menjalani aktivitas sehari-hari maupun proses belajarnya.
“Bagi saya, setiap jenjang pendidikan yang dilalui putri saya merupakan hasil dari kesabaran, ketekunan, dan prestasi yang luar biasa bagi saya dan keluarga,” ungkapnya.
Kisah Isnaini menjadi gambaran nyata semangat inklusi yang diusung dalam pelaksanaan MPLS Ramah 2026. Di tengah kemeriahan agenda nasional tersebut, perjuangan seorang ibu mengantarkan anaknya meraih pendidikan menjadi pesan kuat bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar, tumbuh, dan menggapai cita-cita. (*)




