Ideajatim.id, MALANG – Suasana Aula SMPK Kolese Santo Yusup (Kosayu) 2 Malang tampak hidup dan penuh energi pada Rabu (15/7/2026). Di hadapan ratusan siswa baru yang mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Kepala SMPK Kosayu 2 Malang, Elisabeth Maria Irma Susanti, S.Pd, memberikan pembekalan mendalam yang tidak hanya membakar semangat belajar, tetapi juga menyentuh hati.
Dalam paparannya, Elisabeth Maria Irma Susanti menekankan bahwa perjalanan di bangku SMP bukan sekadar tentang mengejar nilai di atas kertas, melainkan sebuah proses membentuk karakter. Ia mengajak seluruh siswa untuk menghidupi lima pilar utama dalam keseharian mereka: Kasih, Kesalehan, Terpelajar, Misioner dan Tetap Bersemangat.
Sebagai mesin penggerak utama, nilai “Tetap Bersemangat” adalah fondasi daya juang, resiliensi (ketangguhan), dan optimisme bagi para siswa. Ibu Suzan mengingatkan bahwa perjalanan belajar tidak akan selalu mulus.
”Pasti ada momen di mana kalian lelah, mendapat nilai jelek, atau menghadapi kegagalan. Saat jatuh, kalian bangkit lagi. Saat lelah, kalian beristirahat, bukan berhenti. Semangat inilah yang menjaga api belajar kalian tetap menyala,” ucap Susan, sapaan akrabnya.
Siswa yang menghidupi nilai ini akan selalu antusias, disiplin, berani mencoba hal baru, serta menjadikan setiap tantangan sebagai batu loncatan untuk bertumbuh, sambil tetap merangkul dan menyemangati teman yang kesulitan.
Nilai berikutnya yang tidak kalah krusial adalah Kesalehan. Ibu Suzan menegaskan bahwa kesalehan sejati tercermin dari keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Siswa Kosayu 2 diharapkan tidak hanya rajin berdoa dan beribadah, tetapi juga menumbuhkan rasa syukur yang tinggi.
Di lingkungan sekolah, nilai ini diwujudkan melalui kejujuran mutlak—seperti tidak menyontek saat ulangan—berani mengakui kesalahan, menghormati perbedaan keyakinan sesama, serta mengambil keputusan berdasarkan moral demi kebaikan bersama.
Mendefinisikan ulang arti kata “Terpelajar”, Susan meluruskan miskonsepsi yang sering terjadi di kalangan pelajar. Menjadi terpelajar bukan berarti harus selalu menjadi peringkat satu di kelas.
”Menjadi terpelajar artinya kalian memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berpikir kritis, terbuka terhadap ilmu baru, dan bijak menggunakan pengetahuan tersebut. Orang terpelajar menggunakan ilmunya untuk membangun, bukan untuk membodohi atau merendahkan orang lain,” tegasnya.
Profil siswa terpelajar digambarkan sebagai pribadi yang suka membaca, bijak berteknologi, mampu berpendapat secara santun, dan memiliki komitmen untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner).
Terakhir, Susan mengajak para siswa untuk keluar dari ego diri sendiri melalui nilai Misioner. Siswa SMPK Kosayu 2 ditantang untuk selalu berpikir, “Apa yang bisa saya berikan untuk lingkungan sekitar saya?”
Menjadi pribadi yang misioner berarti siap menjadi agent of change (agen perubahan). Ketika melihat sampah berserakan atau melihat teman yang dikucilkan, siswa tidak diam, melainkan bergerak membawa solusi. Melalui inisiatif sosial, kerja sama, dan pelayanan, siswa diajak menggunakan bakat mereka untuk menyebarkan kasih dan kebaikan nyata di tengah masyarakat.
Melalui momentum MPLS ini, SMPK Kolese Santo Yusup 2 Malang menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental, kaya secara spiritual, dan berdampak positif bagi sesama. Selamat berdinamika bagi para siswa baru! (*)




