Menyalakan Api Kosayu di SMPK Santo Yusup 2

Ideajatim.id, MALANG – ​RABU lalu, Aula SMPK Kolese Santo Yusup (Kosayu) 2 Malang mendadak riuh. Penuh energi. Ratusan anak remaja tanggung berkumpul di sana. Mereka adalah siswa baru yang sedang mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

​Di depan mereka, berdiri sang Kepala Sekolah: Elisabeth Maria Irma Susanti, S.Pd. Panggilannya akrab: Ibu Susan.
​Hari itu, Susan tidak sedang berpidato formal yang membosankan. Dia sedang membakar semangat. Sekaligus menyentuh hati anak-anak itu.

​Pesan Susan jelas: Masuk SMP itu bukan sekadar urusan mengejar nilai di atas kertas. Bukan! Ini soal membentuk karakter.

​Di Kosayu 2, ada lima jimat yang harus dihidupi: Kasih, Kesalehan, Terpelajar, Misioner, dan Tetap Bersemangat.

​Mesin penggerak utamanya adalah yang terakhir itu: Tetap Bersemangat.

Ini soal daya juang. Soal ketangguhan. Istilah kerennya: resiliensi.

​”Pasti ada momen di mana kalian lelah, mendapat nilai jelek, atau menghadapi kegagalan,” ujar Susan di hadapan murid-muridnya. “Saat jatuh, kalian bangkit lagi. Saat lelah, beristirahatlah, bukan berhenti. Semangat inilah yang menjaga api belajar kalian tetap menyala.”

Baca Juga:  Transformasi Guru Zaman Now: SMPK Kosayu 2 Malang Gelar "Hangout & Learn" Seru di La Luna Space!

​Begitu dalam.

​Susan ingin, anak yang memegang nilai ini tidak mudah lembek. Mereka harus berani mencoba hal baru. Kalau ada teman yang sulit, dirangkul. Bukan diejek.

​Lalu ada nilai Kesalehan. Bagi Susan, saleh itu bukan cuma urusan rajin berdoa di tempat ibadah. Saleh yang sejati itu ada di dunia nyata: satunya kata dengan perbuatan. Wujudnya?

Jujur mutlak. Tidak menyontek saat ulangan. Berani mengakui kalau salah.

​Susan juga meredefinisi kata Terpelajar.

Ini menarik. Selama ini, orang mengira anak terpelajar adalah anak yang selalu juara satu di kelas.

​”Menjadi terpelajar artinya kalian memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berpikir kritis, terbuka terhadap ilmu baru, dan bijak menggunakan pengetahuan tersebut,” tegas Susan.

“Orang terpelajar menggunakan ilmunya untuk membangun, bukan untuk membodohi atau merendahkan orang lain.”

​Mak jleb!

​Anak terpelajar itu harus suka membaca, bijak bermedia sosial, dan santun saat berpendapat.

​Terakhir, nilai Misioner. Ini soal keluar dari ego diri sendiri. Susan menantang anak-anak itu untuk selalu bertanya pada diri sendiri: “Apa yang bisa saya berikan untuk lingkungan sekitar saya?”

Baca Juga:  Napas Panjang Pengabdian Susanti: Merawat Kasih, Menelisik Masa Depan

​Maka, murid Kosayu 2 harus jadi agen perubahan. Lihat sampah berserakan? Ambil. Lihat teman dikucilkan? Dekati dan peluk. Bawa solusi, bukan makian.

​Peta Berbeda, Matrikulasi Tiongkok

​Tahun ajaran baru ini, SMPK Kosayu 2 memang tampil beda. Mereka menerapkan MPLS yang ramah anak.

Murid dijadikan pusatnya.

​Metodenya pun tidak disamaratakan. Kelas 7 fokusnya adaptasi. Maklum, dari SD ke SMP itu transisinya besar.

Sedangkan kelas 8 dan 9 lebih ke penguatan dan refleksi.

​Durasinya pun unik. Kalau kakak kelasnya cuma ikut MPLS lima hari—Senin sampai Jumat—anak-anak baru kelas 7 harus tambah satu hari lagi. Sampai Sabtu.

​Untuk apa? Matrikulasi. Ada tes kemampuan awal untuk empat mata pelajaran inti: Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan… Bahasa Mandarin!

​Mengapa harus ada tes awal?

​Sebab, murid Kosayu 2 ini datang dari mana-mana. Ada yang dari dalam kota Malang, luar kota, bahkan banyak yang menyeberang pulau. Latar belakangnya beda-beda. Kemampuan mereka harus diselaraskan dulu.

​Hebatnya, sekolah tidak lepas tangan. Bagi anak-anak yang hasil tes awalnya belum memenuhi standar, sekolah sudah menyiapkan program pendampingan intensif. Durasinya tidak main-main: lima minggu ke depan!

Baca Juga:  Serah Terima Lulusan Tahun Ajaran 2025-2026 SMPK Kolese Santo Yusup 2 Malang, Lulus 100 Persen, Capaian Prestasi Membanggakan

Mereka dikawal sampai bisa.

​Di akhir penjelasannya, Susan memberikan wejangan penting. Bukan untuk murid, tapi untuk para orang tua yang hadir. Tiga tahun ke depan adalah perjalanan panjang. Orang tua harus sabar. Harus punya keteladanan.

​”Kita harus memberi kesempatan kepada anak-anak kita untuk beradaptasi di awal. Tidak mudah takut gagal, tetapi terus mau mencoba,” kata Susan, optimis.

​Mendidik anak, bagi Susan, tidak bisa instan. Tidak bisa dipaksa-paksa seperti mengkarbit pisang. Harus seimbang antara nilai akademik di sekolah dan pembentukan karakter di rumah.

​”Artinya orang tua harus bersabar, memahami tahap proses perjalanan kehidupan anak-anaknya. Tidak terlalu banyak menuntut, tetapi boleh menuntut asalkan ada keteladanan dari orang tua juga,” pungkas Susan.

​Tegas. Padat.

​Selamat berdinamika, anak-anak baru. Jalanmu masih panjang, tapi fondasimu sudah diletakkan dengan benar. (*)

Berita Terkini

Wali Kota Batu Semangati Siswa Baru Jalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di MI Baiturrohmah

IDEA JATIM, BATU – Wali Kota Batu, Nurochman, meninjau...

Napas Panjang Pengabdian Susanti: Merawat Kasih, Menelisik Masa Depan

​Ideajatim.id, MALANG - ​Ia tidak pernah meminta panggung itu. ​Sejak...

Sambut Tahun Ajaran Baru, MATAMUDA MIN 1 Kota Malang Suguhkan Edukasi Penuh Cinta

Ideajatim.id, MALANG – Tawa ceria anak-anak memecah keheningan di...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img