Ideajatim.id, MALANG – Semangat persatuan dan keberagaman menggema di panggung Art Performance SMAS Katolik Cor Jesu Malang, Jumat (17/07/2026) lalu. Menginjak usia yang ke-75 tahun, pergelaran seni tahunan ini tampil berbeda dan jauh lebih istimewa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini, Cor Jesu mengusung tema kolosal yang sarat makna sejarah: “Sang Mahapatih Pemersatu Nusantara”.
Ketua Panitia Art Performance 2026, Irene Retno, S.Pd., mengungkapkan bahwa pemilihan figur Patih Gajah Mada bukan tanpa alasan. Kisah perjuangan menyatukan Nusantara dinilai sangat relevan dengan realitas kehidupan di lingkungan sekolah Cor Jesu sendiri.
”Di Cor Jesu, anak-anak didik kita berasal dari berbagai macam latar belakang budaya, daerah, bahkan bangsa. Lewat pergelaran ini, kita ingin menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan sebuah kekuatan untuk menyatu—sama seperti semangat yang dibawa oleh Mahapatih Gajah Mada,” ujar Irene saat ditemui di sela-sela persiapan acara.
Pertunjukan seni kali ini menjanjikan suguhan yang megah berkonsep kolosal. Setidaknya ada tujuh cabang seni budaya yang dilebur menjadi satu kesatuan cerita yang utuh. Mulai dari seni teater, seni suara, tari tradisional dan modern, hingga aransemen musik yang menggabungkan ensemble gesek, gitar, serta format band.
Menariknya, seluruh pengisi acara murni digerakkan oleh potensi internal siswa. Irene menegaskan bahwa para siswa tidak hanya tampil di atas panggung, tetapi memegang peranan penuh di belakang layar.
”Semua pendukung acara ini adalah anak-anak. Mulai dari pemain teater, penyanyi, hingga pemusik. Bahkan siswa yang mengambil peminatan seni rupa turut andil penuh dalam menyiapkan pameran karya dan mendekorasi seluruh panggung utama. Jadi, kami menyebut mereka ini sebagai ‘artis’ yang sesungguhnya untuk acara ini,” tambahnya.
Panggung megah ini didukung penuh oleh keterlibatan sekitar 200 siswa-siswi dari kelas 11 dan kelas 12. Tak hanya itu, perayaan pesta perak ke-75 ini juga merangkul seluruh keluarga besar Cor Jesu. Unit-unit lain mulai dari KB/TK, SD, SMP, SMK, hingga ikatan alumni turut diundang untuk memeriahkan acara sebagai pengisi panggung pra-acara.
Berbeda dari pergelaran tahun-tahun sebelumnya yang kerap menyewa gedung eksternal seperti Graha Cakrawala, tahun ini panitia sengaja memilih menyelenggarakan acara di “rumah sendiri”. Langkah ini diambil agar seluruh civitas akademika dapat merasakan langsung atmosfer kehangatan dan rasa memiliki terhadap sekolah di momen ulang tahun yang sakral ini.
Satu lagi hal istimewa yang membedakan pergelaran tahun 2026 ini adalah kehadiran siswa-siswi kelas 10. Jika pada tahun-tahun lalu art performance hanya diperuntukkan bagi kelas 10 dan 11, pergeseran waktu pelaksanaan tahun ini membuat formasi penonton berubah. Kelas 11 dan 12 kini berkolaborasi sebagai konseptor dan penampil utama, sementara kelas 10 bertindak sebagai audiens.
Format baru ini sengaja dirancang sebagai bentuk ucapan selamat datang yang hangat bagi para murid baru. Melalui skema ini, diharapkan siswa kelas 10 dapat terinspirasi dan memiliki gambaran besar untuk meneruskan tongkat estafet kreativitas di tahun depan. (*)




