Guru SMPN 13 Malang Ciptakan Aplikasi Absensi Haid Siswa, Raih Juara Inotek 2025

IDEAJATIM.ID, MALANG -Berangkat dari keresahan sederhana di ruang kelas, Wifqi Muwaffiqur Rohman Yusuf justru melahirkan inovasi yang menginspirasi. Guru PAI di SMP Negeri 13 Malang ini membuktikan bahwa solusi nyata dari masalah sehari-hari bisa menjelma menjadi karya teknologi yang berdampak luas.

Dari karya tersebut, ia sukses meraih Juara Harapan 1 dalam Lomba Inovasi Teknologi (Inotek) 2025 kategori digital yang diselenggarakan Bappeda Kota Malang.

Yusuf, begitu ia akrab disapa, menciptakan aplikasi khusus untuk absensi siswa yang sedang haid. Inovasi ini lahir dari pengalaman pribadinya sebagai guru PAI yang kerap mengalami kesulitan dalam mendata siswa perempuan yang berhalangan mengikuti pelajaran tertentu.
“Sebelumnya masih manual, memakan waktu dan sering kurang akurat,” ungkapnya.

Berangkat dari persoalan tersebut, Yusuf mulai merancang sistem digital sejak Agustus 2025. Ia melakukan berbagai uji coba hingga akhirnya aplikasi tersebut siap digunakan. Tak disangka, inovasinya berhasil menembus 10 besar ajang Inotek dan membawanya ke tahap presentasi di hadapan dewan juri.

Dari situ, Yusuf terus melangkah hingga masuk lima besar dan akhirnya meraih Juara Harapan 1. Sebuah pencapaian yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga membuka peluang pengembangan lebih lanjut.

“Awalnya hanya ingin menyelesaikan masalah di sekolah. Ternyata bisa sampai sejauh ini,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, semangat inovasi Yusuf terus berkembang. Ia kini tengah mengembangkan aplikasi lain bernama E-Jurnal, yang ditujukan untuk mempermudah administrasi guru.
Melalui E-Jurnal, guru dapat mengisi jurnal mengajar secara digital dari berbagai perangkat. Menariknya, cukup satu kali input, data bisa langsung terintegrasi menjadi laporan harian, mingguan hingga bulanan. Kepala sekolah pun dapat memantau aktivitas pembelajaran secara real time.

Menurut Yusuf, ide E-Jurnal juga berangkat dari permasalahan serupa: sistem manual yang kurang praktis dan menyita waktu.
Prestasi ini bukanlah yang pertama bagi Yusuf. Pada 2021, ia juga pernah meraih penghargaan di tingkat Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam bidang kepegawaian.

Kini, Yusuf semakin termotivasi untuk terus berinovasi. Baginya, teknologi bukan sekadar alat, tetapi jembatan untuk mempermudah tugas guru dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Kisah Yusuf menjadi bukti bahwa inovasi besar tidak selalu lahir dari laboratorium canggih, melainkan dari kepekaan terhadap masalah kecil yang dihadapi setiap hari. Sebuah inspirasi bahwa setiap guru memiliki potensi untuk menjadi pencipta perubahan. (*)

Berita Terkini

Inovasi UM: Racik Algoritma Cerdas untuk Cegah Pasien Klinik Gigi Berpindah Layanan

IDEA JATIM, MALANG - Persaingan ketat antar-klinik gigi kini...

Digitalisasi Warung Kelontong FILKOM dan FEB Raih Pendanaan P2MW 2026

IDEA JATIM, MALANG - Di tengah gempuran modernisasi ritel,...

Gandeng Pemkab Kapuas Hulu, UNITRI Malang Siap Cetak SDM Unggul Lewat Tri Dharma​

​IDEA JATIM, ​MALANG – Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img