MENGGIGIT EKOR WAKTU: PERCAKAPAN DENGAN SANG BEGAWAN

Ada masa ketika waktu tidak lagi terasa mengalir, melainkan berputar dalam lingkaran yang rapat dan menyesakkan. Ia seperti ular yang menggigit ekornya sendiri, bergerak tanpa arah, hidup tanpa kemajuan. Dalam lingkaran itulah manusia sering terjebak, merasa berjalan jauh padahal sesungguhnya hanya kembali ke titik semula. Zaman kita hari ini memperlihatkan gejala itu dengan gamblang. Kita menyaksikan gerak, tetapi kehilangan makna gerak itu sendiri. Kita melihat perubahan, tetapi tidak menemukan pembaruan.

Aku datang kepadanya bukan sebagai murid, bukan pula sebagai pengagum, melainkan sebagai seseorang yang letih. Letih oleh waktu yang seperti ular: berkelok, melingkar, dan entah sejak kapan mulai memangsa dirinya sendiri. Di hadapanku duduk seorang Begawan. Wajahnya tenang, tetapi matanya seperti menyimpan banyak cerita yang tak sempat terselesaikan. Di dalam dirinya, waktu tampak tidak gaduh, seolah telah dijinakkan oleh kesabaran panjang seorang yang telah terlalu lama bergaul dengan luka zaman.

“Romo,” kataku pelan, “apakah zaman memang selalu sekejam ini, atau kita saja yang terlalu lemah untuk menanggungnya?

”Ia tidak langsung menjawab. Seperti biasa, ia membiarkan pertanyaan itu hidup lebih lama daripada yang kuharapkan. Dalam keheningan itu terasa bahwa pertanyaan bukan sesuatu yang harus segera dipadamkan dengan jawaban, melainkan sesuatu yang harus dibiarkan berakar, agar kelak bertumbuh menjadi pengertian.

“Zaman,” katanya akhirnya, “tidak pernah benar benar kejam. Yang kejam adalah manusia yang kehilangan rasa malu dan akal sehat.”

Kalimat itu sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya ia menampar. Di kepalaku berkelebat wajah wajah yang akrab dalam pemberitaan dan percakapan sehari hari: mereka yang berkuasa, yang dengan enteng melanggar hukum yang mereka buat sendiri; mereka yang berselingkuh dengan kekuasaan dan kekayaan; mereka yang menyebut kebohongan sebagai strategi, dan ketidakadilan sebagai kebijakan. Dalam diri mereka, hukum kehilangan daya, dan norma kehilangan suara. Yang tersisa adalah kekuasaan yang telanjang, tidak lagi merasa perlu menyembunyikan diri.

“Lalu kita ini apa, Romo?” tanyaku lagi. “Rakyat yang tidak berdaya? Penonton dari sebuah sandiwara yang bahkan kita tidak ingin menontonnya?

”Sang Begawan tersenyum samar. “Kita sering merasa tidak berdaya karena kita terlalu percaya bahwa daya itu hanya milik mereka yang berkuasa.”

“Tapi bukankah kenyataannya begitu?” aku menyela, agak putus asa. “Hukum bisa dibeli, suara bisa dibungkam, kebenaran bisa dipelintir. Para cendekia diabaikan. Yang ngawur justru menang. Yang benar malah ditertawakan.

”Ia menghela napas panjang, seperti menarik seluruh kelelahan zaman ke dalam dadanya. Dalam tarikan napas itu, terasa bahwa yang dihadapinya bukan sekadar peristiwa, melainkan sesuatu yang lebih dalam: sebuah retakan dalam kebudayaan.

“Kau ingat sajak itu?” tanyanya. “Tentang waktu yang berular ularan?”Aku mengangguk.

“Kita hidup dalam lingkaran itu,” lanjutnya. “Masa lalu menggigit masa depan, masa depan menelan masa kini. Dan manusia sering terjebak di dalamnya, berlari mengejar sesuatu yang sudah hilang, sambil kehilangan apa yang sedang ia miliki.”

Dalam kata-katanya, waktu tidak lagi sekadar urutan peristiwa, melainkan pengalaman batin. Masa lalu bukan hanya kenangan, tetapi luka yang belum selesai. Masa depan bukan hanya harapan, tetapi hasrat yang tidak terkendali. Di antara keduanya, masa kini menjadi kosong. Dan dari kekosongan itulah lahir keputusan keputusan yang rapuh, mudah digoyahkan oleh kepentingan, mudah dibelokkan oleh godaan.

“Jadi kita harus diam?” tanyaku, setengah marah setengah putus asa. “Menerima semua ini sebagai takdir?”

“Tidak,” jawabnya tegas. “Justru kita harus menggigit ekor ular itu.”

Kalimat itu terdengar ganjil, tetapi sekaligus mengandung daya. Seolah ada undangan untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang melampaui kebiasaan pasrah yang selama ini diam-diam kita pelihara.

“Menggigit ekor waktu,” katanya pelan, “artinya berhenti menjadi korban dari alur yang tak kita sadari. Kau lihat kekacauan ini, korupsi yang merajalela, norma yang dilanggar tanpa rasa bersalah, itu semua terjadi karena manusia berhenti hadir di kini. Mereka hidup dalam nafsu masa depan, kekuasaan dan kekayaan, lalu membenarkan apa pun dari masa lalu untuk mencapainya.”

Di sini, kegelisahan sosial menemukan akarnya yang paling dalam. Bukan semata soal sistem yang rusak, tetapi soal manusia yang tercerabut dari kehadirannya sendiri. Ketika manusia tidak lagi tinggal di dalam kini, ia mudah mengorbankan apa saja. Nilai menjadi alat, bukan lagi dasar. Kebenaran menjadi pilihan, bukan lagi keharusan.

“Lalu kita?” aku lirih bertanya.

“Kita harus kembali ke kini,” jawabnya. “Ke kejujuran yang sederhana. Ke keberanian untuk mengatakan salah itu salah, meskipun tak ada yang mau mendengar. Ke kesetiaan pada nilai, meskipun dunia menertawakannya.”

Jawaban itu tidak menawarkan jalan pintas. Ia tidak menjanjikan perubahan yang cepat atau kemenangan yang gemilang. Ia justru mengajak kembali ke sesuatu yang paling dasar, yang sering kita anggap terlalu kecil untuk diperhitungkan.

“Tapi itu terasa kecil, Romo. Tidak cukup untuk mengubah apa pun.”

Sang Begawan menatapku dalam dalam. “Segala yang besar selalu lahir dari yang dianggap kecil. Kekacauan ini juga dimulai dari pembiaran yang kecil kecil.”

Di titik itu, aku mulai melihat bahwa keputusasaan sering kali lahir dari cara pandang yang keliru. Kita menunggu perubahan besar, sambil mengabaikan tanggung jawab kecil yang sebenarnya ada dalam jangkauan kita. Kita ingin dunia berubah, tetapi enggan mengubah cara kita hadir di dalamnya.

Angin sore masuk perlahan, membawa bau tanah dan sesuatu yang sukar dijelaskan, mungkin sisa harapan yang belum sepenuhnya padam. Aku mulai memahami, meski belum sepenuhnya menerima. Pemahaman itu tidak datang sebagai ledakan, melainkan sebagai kesadaran yang perlahan mengendap.

“Jadi harapan itu masih ada?” tanyaku.Ia tersenyum, kali ini lebih hangat. “Harapan tidak pernah pergi. Ia hanya tertutup oleh ketakutan dan keputusasaan kita sendiri.”

Dalam kalimat itu, harapan tidak lagi tampak sebagai sesuatu yang besar dan jauh, melainkan sesuatu yang dekat, hampir tersembunyi, menunggu untuk disadari kembali. Harapan bukan janji akan masa depan yang lebih baik, tetapi keberanian untuk tidak menyerah pada kegelapan sekarang.

Aku menunduk. Di dalam diriku, ada sesuatu yang bergerak, bukan semangat yang meledak-ledak, tetapi sesuatu yang lebih tenang, lebih dalam. Seperti benih yang mulai retak di dalam tanah, belum tampak di permukaan, tetapi sudah mulai hidup.

“Mungkin,” lanjutnya, “keabadian yang kita cari bukan di masa depan yang gemilang, melainkan di keberanian untuk hidup benar di saat ini. Di tengah gelap, tetap berjalan. Di tengah kebisingan, tetap jujur.”

Di sana, aku seperti diajak melihat kembali arti kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan bukan sekadar warisan atau simbol, melainkan cara manusia hadir dan bertindak. Ketika kehadiran itu jujur, kebudayaan menemukan napasnya. Ketika kehadiran itu palsu, kebudayaan perlahan mati, meski bentuknya masih tampak utuh.

Aku mengingat bait terakhir sajak itu: tentang kebahagiaan yang ditemukan di sini dan sekarang. Bukan di masa depan yang belum tentu datang, bukan pula di masa lalu yang tidak bisa kembali, tetapi di dalam keberanian untuk utuh di dalam kini.

Dan untuk pertama kalinya, di tengah semua kekacauan yang terasa tak masuk akal, aku tidak sepenuhnya merasa kalah.

Mungkin benar, kita tidak bisa menghentikan ular waktu. Lingkarannya terlalu besar, terlalu panjang untuk diputus oleh satu tangan. Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana berdiri di dalamnya. Apakah akan terus dililit olehnya, kehilangan arah dan diri, atau berani menggigit ekornya, memutus lingkaran itu di dalam diri sendiri, dan dengan cara itu membebaskan diri, meski hanya sekejap, untuk hidup dengan utuh di masa kini.

Dari sekejap ke sekejap itulah, barangkali, sebuah perubahan yang lebih dalam diam-diam mulai terjadi. Bukan perubahan yang gaduh, tetapi perubahan yang mengendap. Dan dari kedalaman itulah, suatu hari, kebudayaan mungkin menemukan kembali wajahnya yang jernih.

Batu, 19-04-2026usai obrolan dengan Romo Sindhunata

Berita Terkini

Imigrasi Pasuruan Beri Kemudahan, Difabel, Lansia dan Anak Bisa Dilayani Tanpa Antrean Online

IDEAJATIM.ID, PASURUAN – Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI...

Pasporia Hadir di CFD Pandaan dan Pasuruan Kota, Imigrasi Pasuruan Dekatkan Layanan Paspor ke Masyarakat

IDEAJATIM.ID PASURUAN – Masyarakat di Kota Pasuruan dan Pandaan...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img