Ada masa ketika waktu tidak lagi terasa mengalir, melainkan berputar dalam lingkaran yang rapat dan menyesakkan. Ia seperti ular yang menggigit ekornya sendiri, bergerak tanpa arah, hidup tanpa kemajuan. Dalam lingkaran itulah manusia sering terjebak, merasa berjalan jauh padahal sesungguhnya hanya kembali ke titik semula. Zaman kita hari ini memperlihatkan gejala itu dengan gamblang. Kita menyaksikan gerak, tetapi kehilangan makna gerak itu sendiri. Kita melihat perubahan, tetapi tidak menemukan pembaruan.
Aku datang kepadanya bukan sebagai murid, bukan pula sebagai pengagum, melainkan sebagai seseorang yang letih. Letih oleh waktu yang seperti ular: berkelok, melingkar, dan entah sejak kapan mulai memangsa dirinya sendiri. Di hadapanku duduk seorang Begawan. Wajahnya tenang, tetapi matanya seperti menyimpan banyak cerita yang tak sempat terselesaikan. Di dalam dirinya, waktu tampak tidak gaduh, seolah telah dijinakkan oleh kesabaran panjang seorang yang telah terlalu lama bergaul dengan luka zaman.
“Romo,” kataku pelan, “apakah zaman memang selalu sekejam ini, atau kita saja yang terlalu lemah untuk menanggungnya?