IDEA JATIM, BATU – Kota Batu menghadirkan narasi baru dalam mengusung subsektor gastronomi menuju penobatan Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia. Tidak hanya berfokus pada olahan pangan dan industri wisata, potensi gastronomi Kota Batu ditegaskan memiliki akar sejarah dan kebudayaan yang kuat melalui warisan Prasasti Sangguran.
Ketua Komisi Pelaksana Komite Ekonomi Kreatif Kota Batu, M. Anwar, menjelaskan bahwa Prasasti Sangguran membuktikan Kota Batu telah memiliki tata kelola pertanian dan kehidupan berkelanjutan sejak zaman Jawa Kuna.
“Gastronomi Batu memiliki kesinambungan sejarah, mulai dari manuskrip budaya dalam Prasasti Sangguran hingga praktik budaya hari ini seperti tradisi Selamatan Desa dan Nasi Tumpeng. Inilah yang membedakan Batu—bukan hanya kota wisata, tapi kota yang memiliki peradaban gastronomi,” ungkap Anwar.
Nilai sejarah tersebut akan ditegaskan kembali dalam perhelatan Puja Manusuk Sima Prasasti Sangguran Kaping V pada 2 Agustus 2026. Momentum ini menjadi jembatan antara nilai adiluhung masa lalu dengan arah pembangunan ekonomi kreatif masa kini.

Dengan menyatukan pertanian sebagai penyedia bahan baku, budaya sebagai ruh, dan gastronomi sebagai etalase utamanya, Kota Batu membuktikan bahwa identitas lokal dapat menjadi motor penggerak pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Ditambahkan Koordinator Forum Lintas Komunitas Batu Creative Hub (BCH), Alan W. Hafiludin, mengatakan bahwa kekuatan utama Kota Batu justru terletak pada kolaborasi lintas komunitas yang tumbuh secara organik.
“Program KaTa Kreatif membuktikan bahwa membangun kota kreatif tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Yang paling menentukan adalah kemampuan seluruh ekosistem untuk berkolaborasi. Di Batu, komunitas, pelaku usaha, akademisi, media, pemerintah, hingga lembaga keuangan telah membangun ruang kolaborasi yang saling menguatkan,” paparnya.
Menurut Alan, proses uji petik menjadi kesempatan memperlihatkan bagaimana setiap subsektor saling terhubung membentuk rantai nilai ekonomi kreatif.
“Ketika petani menghasilkan bahan baku, pelaku kuliner mengolahnya menjadi produk, desainer memperkuat identitas merek, media mempromosikannya, komunitas menggerakkan aktivitas kreatif, dan sektor pariwisata menghadirkan pengalaman kepada wisatawan, di situlah ekosistem ekonomi kreatif bekerja. Kolaborasi seperti inilah yang menjadi modal utama Batu menuju Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia,” urainya.

Ia berharap pengakuan sebagai KaTa Kreatif nantinya menjadi awal penguatan ekosistem ekonomi kreatif yang semakin inklusif, berkelanjutan, dan berakar pada potensi lokal.
Selama tiga hari pelaksanaan uji petik, Tim Penilai Nasional mengunjungi sejumlah lokus strategis yang menggambarkan rantai nilai gastronomi Kota Batu. Hari pertama diawali di Pasar Induk Among Tani untuk melihat aktivitas pusat kuliner dan distribusi bahan pangan, dilanjutkan ke Kampung Ekraf Rejoso yang memperlihatkan keterhubungan subsektor kriya dengan kuliner melalui produksi alat dapur tradisional, kemudian ke Kampung Tempe Beji yang menampilkan kolaborasi kuliner, kriya, desain, dan budaya melalui olahan tempe serta batik motif tempe. Tim juga mengunjungi PLUT UMKM Kota Batu, melakukan audiensi bersama Wali Kota Batu, serta meninjau sentra kuliner di kawasan Alun-Alun Batu.
Pada hari kedua, verifikasi berlanjut ke Punk Potatoes, Pabriek Apel, Wisata Dusun Kuliner, Ramayana, SLB EM, Flamboyan, Studio ATV, Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), hingga Galeri Raos guna melihat integrasi inovasi produk, desain, media, seni, dan promosi ekonomi kreatif. Sementara pada hari ketiga, Tim Penilai Nasional bersama unsur akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, media, dan lembaga keuangan mengikuti Focus Group Discussion (FGD) di Balai Kota Among Tani untuk memaparkan hasil observasi lapangan, menyepakati subsektor unggulan, menyusun rekomendasi pengembangan ekonomi kreatif, serta menandatangani Berita Acara Hasil Uji Petik.

Bagi Kota Batu, penguatan gastronomi tidak hanya dibangun melalui kualitas produk dan ekosistem ekonomi kreatif, tetapi juga berpijak pada sejarah panjang peradaban. Prasasti Sangguran menjadi artefak penting yang memperlihatkan Batu sebagai wilayah Sima yang memiliki tata kelola kehidupan, pertanian, dan kebudayaan yang berkelanjutan. Nilai-nilai tersebut masih hidup melalui tradisi Nasi Tumpeng Selamatan Desa, sebuah ritual gastronomi yang diwariskan turun-temurun sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi dan keselamatan masyarakat.
Melalui proses verifikasi KaTa Kreatif dan penguatan narasi sejarah tersebut, Kota Batu tidak hanya menawarkan pengalaman kuliner, tetapi juga menghadirkan sebuah peradaban gastronomi yang berakar pada pertanian, budaya, dan identitas lokal. Dengan dukungan seluruh unsur pentahelix, Kota Batu optimistis memperkuat posisinya sebagai Kota Agro Kreatif Gastronomi, sebuah kota yang menjadikan sejarah sebagai pijakan, budaya sebagai ruh, pertanian sebagai kekuatan, dan gastronomi sebagai wajah pembangunan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. (*)




