IDEA JATIM, BATU – Tak hanya belajar tentang lingkungan, sekitar 150 pelajar dari berbagai sekolah di Kota Batu diajak menelusuri bangunan-bangunan bersejarah dan mengenal perjalanan kotanya melalui Heritage Walking Tour dalam rangkaian Greenation
“Garis Hijau” peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.
Pagi masih muda ketika kabut turun perlahan di lereng Panderman. Udara dingin menyelimuti Kota Batu, sementara langkah demi langkah mulai menapaki jalanan yang menyimpan banyak cerita. Di kota yang pernah dijuluki De Kleine Zwitserland atau Swiss Kecil di Pulau Jawa ini, ratusan pelajar diajak tidak sekadar berjalan kaki, tetapi menelusuri jejak sejarah yang membentuk wajah Kota Batu hingga hari ini.

Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Lebih dari seabad lalu, lanskap pegunungan yang hijau, udara yang sejuk, serta deretan villa peristirahatan membuat kawasan ini menjadi destinasi favorit masyarakat Eropa pada masa kolonial. Namun jauh sebelum itu, Batu telah dikenal sebagai kawasan peristirahatan sejak masa kerajaan, menjadikannya salah satu wilayah yang menyimpan perjalanan sejarah panjang di Jawa Timur.
Gambaran itu terasa begitu dekat ketika sekitar 150 siswa-siswi tingkat SD, SMP dan SMA se-Kota Batu yang tergabung dalam Saka Kalpataru mengikuti kegiatan Heritage Walking Tour bersama Batu Guide Community. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Greenation “Garis Hijau” dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu.

Para peserta diajak menyusuri jejak sejarah Kota Batu mulai dari kawasan Alun-Alun Kota Batu hingga Hotel Kartika Wijaya. Sepanjang perjalanan, mereka diperkenalkan dengan berbagai bangunan bersejarah yang menjadi saksi perkembangan kota, mulai dari bangunan peninggalan kolonial, klenteng, Galeri Raos, hingga sejumlah titik yang memiliki nilai penting dalam perjalanan Kota Batu dari masa ke masa.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu, Dian Fachroni, mengatakan kegiatan ini menjadi cara baru untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup dengan pendekatan yang lebih dekat kepada generasi muda.
“Kami menggandeng Batu Guide Community agar anak-anak tidak hanya belajar tentang lingkungan, tetapi juga mengenal sejarah kotanya sendiri. Ini menjadi pengalaman pertama dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dipadukan dengan kegiatan berjalan kaki menelusuri jejak sejarah Kota Batu,” ujarnya.

Kota Batu sendiri memiliki luas wilayah sekitar 199,09 kilometer persegi yang terbagi dalam tiga kecamatan, yakni Batu, Bumiaji, dan Junrejo. Sekitar 75 persen wilayahnya masih didominasi perbukitan, pegunungan, hutan, serta lahan pertanian yang menjadi identitas kota sejak lama.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Kota Batu tercatat sekitar 190 ribu jiwa pada 2010 dan meningkat menjadi sekitar 213 ribu jiwa pada 2020. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah tersebut diproyeksikan mencapai 225 hingga 230 ribu jiwa. Di tengah pertumbuhan tersebut, Batu terus berkembang sebagai kota wisata tanpa melepaskan identitas sejarah dan lingkungan yang dimilikinya.
Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Batu, Asep, menilai kegiatan semacam ini penting untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap kota tempat mereka tumbuh.
“Kegiatan seperti ini sangat positif karena anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada sejarah bangunan-bangunan yang menjadi bagian dari perjalanan Kota Batu, tetapi juga diajak memahami pentingnya menjaga lingkungan. Harapannya, pengalaman ini dapat menumbuhkan kecintaan terhadap kota mereka sendiri sekaligus mendorong kesadaran untuk menjaga warisan yang dimiliki
Kota Batu,” katanya.
Hal senada disampaikan Alvi, guru SDN Tulungrejo 3 yang turut mendampingi peserta. Menurutnya, pembelajaran di luar ruang memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran di dalam kelas.
“Anak-anak terlihat antusias karena bisa melihat langsung tempat-tempat yang selama ini mungkin hanya mereka dengar atau pelajari di sekolah. Pengalaman seperti ini membuat sejarah terasa lebih dekat dan mudah dipahami. Semoga kegiatan ini juga mendorong mereka untuk terus mengenal sejarah dan budaya yang ada di daerahnya sendiri,” ujarnya.
Bagi para peserta, perjalanan yang ditempuh justru menjadi pengalaman yang berkesan. Alea, siswi SDN Songgokerto 3, mengaku banyak mendapatkan pengetahuan baru selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Seru sekali. Walaupun jalannya cukup jauh dari Alun-Alun sampai Hotel Kartika Wijaya, saya jadi tahu sejarah bangunan-bangunan yang ada di Kota Batu dan asal-usulnya,” tuturnya.
Lebih dari sekadar kegiatan berjalan kaki, Heritage Walking Tour menjadi ruang belajar yang mempertemukan sejarah, lingkungan, dan generasi muda dalam satu perjalanan. Di balik udara sejuk dan geliat pariwisata yang berkembang pesat, Kota Batu menyimpan jejak panjang tentang bagaimana sebuah kawasan peristirahatan di pegunungan tumbuh menjadi kota agropolitan, lalu berkembang
menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur.
Melalui langkah-langkah kecil para pelajar yang menelusuri jalanan kota pagi itu, sejarah tidak lagi hanya tersimpan dalam buku atau cerita masa lalu. Ia hadir di antara bangunan-bangunan tua, jalan-jalan yang dilalui setiap hari, dan ruang-ruang kota yang terus berkembang. Sebab memahami sejarah adalah cara untuk mengenali jati diri sebuah kota, sementara menjaga lingkungan adalah
upaya memastikan cerita itu tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)




