ideajatim.id, Malang – Di tengah derasnya arus transformasi digital, lanskap pendidikan anak usia dini saat ini dituntut untuk bergerak cepat tanpa harus kehilangan jati diri. Menjawab tantangan kompetensi global abad ke-21 yang kian kompleks, Program Studi S2 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universitas Negeri Malang (UM) sukses menggelar International Conference on Innovative Early Childhood Education (ICIECE) 2026 pada Kamis, 2 Juli 2026.
Acara berskala internasional ini dilaksanakan secara hybrid, memadukan kehadiran fisik di Aula GKB A19 Lantai 9 Universitas Negeri Malang dan ruang virtual melalui aplikasi Zoom. Ajang besar ini berhasil mempertemukan sekitar 350 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, peneliti, praktisi PAUD, guru, dosen, hingga mahasiswa.
Guna membedah masa depan pendidikan anak, konferensi ini menghadirkan deretan narasumber kompeten lintas negara yang ahli di bidangnya. Para pakar yang membagikan gagasannya antara lain Prof. Dr. Imron Arifin, M.Pd. dari Indonesia, Mohd Shawani Ahmad Sabri, BA (Hons), M.Ed., Ph.M.D. dari Malaysia, serta Evania Yafie, M.Pd., Ph.M.D. dari Indonesia. Guna menyatukan visi para pakar tersebut, panitia mengusung tema utama “Nurturing the Next Generation: Integrating Play, Culture, and Technology in the Global Early Childhood Education”. Turut hadir sebagai pembicara utama dalam sesi talk show, Arumi Bachsin.
Ketua Panitia ICIECE 2026, Safira Badzlin, mengungkapkan bahwa konferensi ini diinisiasi berdasarkan keresahan mendalam terhadap realitas ekosistem tumbuh kembang anak zaman sekarang. Menurutnya, anak-anak masa kini tumbuh dalam lingkungan yang saling terkoneksi secara global dan terpapar teknologi sejak dini, namun sering kali terasing dari budayanya sendiri.
”Anak-anak kita hari ini tumbuh dalam ekosistem yang bergerak sangat cepat. Sayangnya, integrasi kebudayaan lokal dalam pembelajaran sering kali belum dilakukan secara sistematis. Jika kondisi ini dibiarkan, ada risiko besar anak-anak kita akan kehilangan identitas karakternya di tengah arus globalisasi,” ujar Safira saat ditemui di sela-sela acara.
Lebih lanjut, Safira menyoroti bagaimana dunia pendidikan masih kerap gagap dalam menyikapi kehadiran teknologi digital untuk anak usia dini. Pemanfaatan teknologi di lapangan dinilai masih berada di dua kutub ekstrem yang sama-sama kurang tepat.
”Saat ini kita melihat ada pihak yang menolak teknologi sepenuhnya untuk anak, tetapi ada juga yang justru menggunakannya secara bebas tanpa kerangka pedagogis yang jelas. ICIECE 2026 hadir untuk menjembatani masalah tersebut. Kami ingin memosisikan teknologi bukan sebagai pengganti interaksi manusia, melainkan sebagai media untuk memperkaya pengalaman bermain dan eksplorasi anak secara tepat, kontekstual, serta berorientasi pada perkembangan,” tegasnya.
Penyelenggaraan konferensi ini memiliki beberapa tujuan strategis, di antaranya meningkatkan pemahaman konseptual mengenai cara mengintegrasikan aspek permainan, budaya, dan teknologi dalam konteks pendidikan global. Forum ini juga menjadi wadah penting untuk mengidentifikasi faktor kesiapan belajar anak dalam mendukung model pembelajaran yang berbasis bermain, responsif terhadap budaya, dan adaptif terhadap zaman.
Melalui ruang kolaborasi ini, Safira berharap kegiatan ICIECE 2026 dapat memberikan manfaat yang luas dan berkelanjutan bagi dunia pendidikan anak usia dini, baik bagi peserta maupun dunia akademik secara umum.
”Melalui ruang diskusi ini, kami berharap dapat mendorong lahirnya inovasi pedagogis baru melalui play-based learning yang responsif budaya. Selain meningkatkan keterampilan praktis peserta, kami juga ingin memperluas jejaring kemitraan global guna meningkatkan mutu PAUD secara berkelanjutan,” tambah Safira.
Selain memperkaya kompetensi para praktisi, konsep konferensi ini juga dirancang untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) poin ke-4 mengenai pendidikan berkualitas. Sebagai luaran konkret yang bernilai akademik, karya tulis ilmiah para partisipan yang berhasil lolos seleksi akan dipublikasikan dalam bentuk prosiding nasional ber-ISSN. (*)




