IDEA JATIM, BATU- Suasana khidmat sekaligus penuh haru menyelimuti rangkaian kegiatan Haflah Akhirussanah dan Takhtiman ke – 8 TPQ Nurul Huda yang mencapai puncaknya pada Sabtu (27/6/2026)
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para santri setelah menyelesaikan proses pembelajaran Al-Qur’an sekaligus sebagai bentuk rasa syukur atas capaian pendidikan yang telah ditempuh dalam beberapa tahun.
Rangkaian Haflah tahun terbagi dalam dua agenda utama. Agenda pertama adalah tahsih, yakni proses verifikasi bacaan dan hafalan Al-Qur’an, yang dirangkai dengan kegiatan sowan kepada para masyayikh di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan lebih awal pada (13/06/2026) sebagai bagian ikhtiar menjaga kualitas bacaan sekaligus memperkuat sanad keilmuan.

Puncak kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, (27/6/2026) dengan agenda sehari penuh. Acara dimulai sejak pagi melalui Khatmil Qur’an hingga siang hari. Selanjutnya, sore hari digelar kegiatan tumpengan sebagai wujud rasa syukur bersama. Memasuki malam haru, kegiatan dilanjutkan dengan Murottilil Qur’an Jus 39, prosesi pemberian ijazah, serta momen haru ketika para santri sungkeman kepada ustadz/ustadzah dan kedua orang tu mereka.
Tidak hanya diisi dengan agenda religius, haflah juga menghadirkan berbagai hiburan edukatif seperti pertunjukan tari, dram, hingga menyanyi bersama oleh para santri. Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan Mauidhoh Hasanah yang disampaikan oleh KH Ahmad Ali Khidir dari Pondok Pesantren An-Najah Denanyar Jombang.
Kepala TPQ Nurul Huda sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Junrejo, Gus Saifullah, menjelaskan bahwa konsep Haflah yang dilaksanakan di TPQ Nurul Huda memiliki ciri khas tersendiri dibanding lembaga lain karena berupaya menjaga tradisi pesantren yang selama ini menjadi pondasi pendidikan santri.
“Rangkaian Haflah di TPQ Nurul Huda memang berbeda dengan yang lain karena kami berupaya menjaga sanad dan tradisi pesantren. Untuk bacaan, meskipun sudah diajarkan sesuai ketentuan, tetapi perlu diuji ulang agar lebih meyakinkan. Selain itu, momen sowan juga menjadi cara menanamkan karakter santri agar selalu menghormati dan mengingat para guru”, ujarnya.
Dalam sambutannya pada malam puncak acara, Ketua Panitia, Eri Hendro Kusuma menyampaikan apresiasi besar terhadap perjuangan para ustadz dan ustadzah dalam mendidik para santri hingga mencapai tahap khatam Al-Qur’an. Menurutnya, proses mengajarkan Al-Qur’an bukan perkara sederhana. Para pengajar harus memulai dari mengenalkan huruf hijaiyah, merangkai kata, membaca kalimat, hingga membantu santri memahami makna bacaan, yang semuanya membutuhkan kesabaran dan keikhlasan tinggi.
“Sampai dititik ini adalah sebuah perjuangan besar, karena di luar sana masih banyak anak usia remaja bahkan dewasa yang belum mampu membaca Al-Qur’an. Yang tak kalah luar biasa, di tengah banyaknya kapitalisasi pendidikan saat ini, para ustadz dan ustadzah di sini tetap mengajar dengan semangat ikhlas beramal dan berhasil mencetak generasi Qur’ani sebagaimana yang kita saksikan bersama malam ini,” ungkapnya.
Senada dengan hal itu, Pengasuh TPQ Nurul Huda, Ustad Hadi Purnomo, menegaskan bahwa mendidik anak usia dini memiliki tantangan tersendiri. Karakter anak yang beragam, mulai dari aktif, usil, mudah takut, hingga membutuhkan waktu lama dalam menerima pelajaran, menjadi ujian bagi setiap tenaga pengajar.
“Mengajar anak-anak usia dini memang penuh tantangan. Karena itu diperlukan kesabaran dan keikhlasan luar biasa dari para ustadz/ustadzah hingga akhirnya para santri mempu mencapai tahap khatam Al-Qur’an seperti hati ini,” tuturnya.
Melalui Haflah Akhirussanah ke-8 ini, TPQ Nurul Huda kembali menegaskan komitmennya untuk terus mencetak generasi Qur’ani dengan tetap menjaga tradisi pesantren, memperkuat sanad keilmuan, serta menanamkan nilai penghormatan kepada orangtua dan guru sebagai pondasi utama pendidikan Islam. (*)




