Kanker payudara masih menjadi salah satu jenis kanker yang paling banyak dialami perempuan di Indonesia. Meskipun demikian, peluang kesembuhan penyakit ini sangat tinggi apabila ditemukan pada stadium awal. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk membiasakan melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) sebagai langkah sederhana namun efektif dalam mendeteksi kelainan pada payudara sejak dini.
SADARI merupakan pemeriksaan payudara yang dapat dilakukan sendiri di rumah tanpa memerlukan alat khusus. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengenali kondisi normal payudara sehingga setiap perubahan dapat segera diketahui dan dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Banyak kasus kanker payudara baru diketahui setelah muncul benjolan yang cukup besar atau bahkan telah menyebar ke organ lain. Padahal, apabila ditemukan lebih awal, pilihan pengobatan lebih beragam dan peluang keberhasilan terapi menjadi jauh lebih baik.
SADARI hanya membutuhkan waktu beberapa menit setiap bulan, tetapi manfaatnya sangat besar. Semakin cepat perubahan pada payudara dikenali, semakin cepat pula pemeriksaan lanjutan dan penanganan dapat dilakukan. Jangan menunggu sampai muncul rasa sakit, karena kanker payudara pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan nyeri.
SADARI dianjurkan dilakukan setiap bulan oleh perempuan mulai usia 20 tahun. Bagi perempuan yang masih mengalami menstruasi, waktu terbaik melakukan SADARI adalah sekitar 7–10 hari setelah hari pertama menstruasi, ketika kondisi payudara tidak lagi bengkak atau nyeri. Sementara bagi perempuan yang sudah menopause, pemeriksaan dapat dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulan agar lebih mudah diingat.
Dalam melakukan SADARI, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain melihat bentuk dan ukuran payudara di depan cermin, memperhatikan perubahan pada kulit atau puting, meraba seluruh bagian payudara dan ketiak untuk mengetahui adanya benjolan, serta mengamati apakah terdapat cairan yang keluar dari puting tanpa sebab yang jelas.
Masyarakat juga perlu mengenali beberapa tanda yang harus segera diperiksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan, seperti munculnya benjolan yang tidak hilang, perubahan bentuk atau ukuran payudara, kulit yang tampak berlesung seperti kulit jeruk, puting yang tertarik ke dalam, keluarnya cairan berdarah dari puting, maupun luka pada payudara yang tidak kunjung sembuh.
Selain melakukan SADARI secara rutin, perempuan usia tertentu juga dianjurkan menjalani pemeriksaan klinis oleh tenaga kesehatan (SADANIS) sesuai rekomendasi, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti riwayat kanker payudara dalam keluarga, obesitas, atau kebiasaan merokok. Bagi kelompok usia yang memenuhi indikasi, pemeriksaan mamografi dapat menjadi bagian dari skrining sesuai anjuran dokter.
Penerapan pola hidup sehat juga berperan penting dalam menurunkan risiko kanker payudara. Menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi konsumsi alkohol, tidak merokok, serta memberikan ASI bagi ibu menyusui merupakan beberapa langkah yang dapat membantu menjaga kesehatan payudara.
Seluruh perempuan dihimbau untuk menjadikan SADARI sebagai kebiasaan setiap bulan. Deteksi dini bukan sekadar menemukan penyakit lebih cepat, tetapi juga memberikan kesempatan yang lebih besar untuk sembuh, mengurangi risiko komplikasi, dan mempertahankan kualitas hidup.
Mari mulai dari diri sendiri. Luangkan beberapa menit setiap bulan untuk melakukan SADARI. Jika menemukan perubahan yang mencurigakan, segera periksakan diri ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit terdekat. Ingat, mengenali lebih awal adalah langkah terbaik untuk melindungi kesehatan dan masa depan. (*)



