IDEA JATIM, MALANG – Lebaran kurban selalu punya cerita. Tapi cerita dari Jalan Kartini, Malang, Rabu kemarin (27/5), punya magnetnya sendiri.
Pagi itu, halaman SMA Islam Malang mendadak riuh. Ratusan siswa kelas 10 dan 11 sudah rapi. Mereka bersiap salat Id berjemaah.
Pihak sekolah sengaja tidak mau monoton. Mereka tahu psikologi anak muda. Maka, didatangkanlah khatib dari luar: Ustaz Fahmi, M.Pd. Segar.

Antusiasme pun terjaga. Khotbah tidak lagi jadi pengantar tidur.
Tapi, magnet utamanya bukan di situ.
Bukan juga soal jumlah hewan
kurbannya: empat ekor sapi dan dua ekor kambing. Jumlah segitu, untuk ukuran sekolah, tentu sudah banyak.
Yang luar biasa adalah: dari mana sapi-sapi itu berasal.
Ternyata, mayoritas hewan kurban itu lahir dari sebuah gerakan. Gerakan gotong royong. Bergotong royongnya pun kilat: hanya satu bulan!
”Kami membuka program kurban kolektif,” ujar Kepala SMA Islam Malang, Suharmanto, S.Ag. Wajahnya sumringah.
Bagaimana rumusnya?
Suharmanto rupanya lihai menggerakkan potensi. Dibentuklah grup-grup kurban. Satu grup isinya tujuh orang. Terdiri dari kolaborasi guru dan orang tua siswa. Hasilnya mengejutkan: terkumpul tiga grup.

Berarti sudah tiga ekor sapi di tangan.
Lalu, bagaimana dengan siswanya?
Di sinilah edukasi itu bekerja. Para siswa diajak patungan. Sukarela. Guru-guru ikut nembel. Eh, terkumpul lagi satu sapi tambahan. Ditambah dua ekor kambing titipan dari guru dan siswa.
Total: empat sapi, dua kambing. Dahsyat.
Bagi Suharmanto, ini bukan sekadar ritual tahunan. Bukan urusan menyembelih hewan lalu selesai. “Esensi kurban itu bukan sekadar jumlah hewan,” katanya filosofis. “Tapi semangat mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya demi kemanusiaan.”
Dia ingin murid-muridnya seimbang. Hablum minallah-nya dapat, hablum minannas-nya jalan.
Hebatnya lagi, anak-anak tidak cuma disuruh menonton. Urusan manajemen kurban—mulai dari jagal hingga distribusi—sepenuhnya diserahkan ke anak-anak OSIS. Mereka dilatih jadi manajer lapangan. Belajar repot. Belajar capek.
Distribusinya pun dibuat masif. Tidak egois hanya berputar di dalam sekolah.
Daging kurban itu menyebar ke mana-mana. Ke panti asuhan, ke aparat kelurahan, hingga ke tetangga-tetangga sekitar rumah guru dan siswa yang membutuhkan. Targetnya jelas: lil fuqara wal masakin.
Suharmanto berharap, keberadaan SMA Islam Malang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.
Melihat anak-anak muda itu sibuk menenteng kresek daging dengan peluh di dahi, rasanya masa depan kepedulian sosial kita tidak sedang sedang mati suri. Mereka sedang belajar menjadi manusia. Dari seonggok daging kurban. (*)





