Gen Z, Kurban, dan Teposliro di Unitama

IDEA JATIM, MALANG – ​Saya selalu tertarik melihat bagaimana kampus mendidik mahasiswanya di zaman sekarang. Zaman ketika nilai akademis di atas kertas sering kali tidak lagi berbanding lurus dengan ketahanan mental di lapangan.

​Rabu kemarin, Universitas Waskita Dharma Malang (Unitama), Jalan Indragiri IV, punya cara menarik.

Mereka memanfaatkan momentum Idul Adha. Bukan sekadar potong hewan kurban, lalu bagi-bagi daging. Bukan itu. Target utamanya justru ada pada mentalitas mahasiswanya. Khususnya mereka yang masuk kategori Gen Z.

​Ada lima ekor hewan kurban tahun ini. Tiga dipotong di kampus: satu sapi, dua kambing. Dua ekor lagi dikirim jauh ke selatan. Ke Desa Panggungsari, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Itu desa binaan Unitama.

​Pembina Yayasan Waskita Dharma Malang, Dr. Sigit Wahyudi, MP, punya filosofi yang dalam soal ini. Bagi Sigit, kurban itu media krusial untuk menempa survival skill generasi muda.

​”Berbagi itu tidak harus menunggu kita kaya,” ujar Dr. Sigit di sela-sela kesibukan di kampus, kemarin. “Kalau tidak bisa dengan harta, kita bisa berkontribusi dengan tenaga.”

​Kalimat itu sederhana. Tapi menohok.
​Di era sekarang, banyak anak muda yang pintar. IQ-nya tinggi. Tapi begitu kena benturan sosial, langsung rapuh.

Zona nyamannya terlalu tebal. Melalui kepanitiaan kurban inilah ego itu dikikis. Mahasiswa dipaksa berkeringat. Mengurus tali, membersihkan darah, memotong daging, hingga membagikannya tepat sasaran.

​Itulah portofolio nyata. Bukan portofolio digital yang estetik di media sosial, melainkan portofolio kehidupan. Di sana ada kebersamaan. Ada kerja sama. Dan yang paling penting: teposliro—tenggang rasa.

​Dr. Sigit benar. Di dunia kerja nyata nanti, orang-orang yang selamat dari goncangan kehidupan bukanlah mereka yang sekadar punya IPK cumlaude. Melainkan mereka yang punya kecerdasan emosional (EQ) dan spiritual (SQ) yang tinggi. Yang punya kepedulian.

​Ada satu lagi catatan menarik dari sang akademisi. Soal bedanya kurban dan zakat.

​Kalau zakat, sasarannya sudah ditentukan secara ketat: mustahik. Delapan asnaf. Tapi kurban? Dimensi sosialnya jauh lebih luas dan universal. Sifatnya cair. Daging kurban bisa dinikmati oleh siapa saja di sekitar kita. Tanpa memandang status sosial. Yang miskin dapat, yang kaya pun boleh mencicipi. Ada rasa cinta dan kasih sayang yang melintasi sekat-sekat strata.

​Melalui lima ekor hewan kurban itu, Unitama tidak hanya sedang menjalankan ritual tahunan. Mereka sedang menyuntikkan nilai-nilai kemanusiaan ke dalam dada para mahasiswanya.

​Sebab, sekadar pintar saja hari ini sudah banyak saingannya. Tapi pintar yang peduli? Itu yang mulai langka. (*)

Berita Terkini

SMK PLUS Almaarif Singosari Antar Lulusan Menuju Dunia Kerja, Kampus, dan Peluang Global

IDEAJATIM.ID, MALANG – Suasana haru dan penuh kebanggaan mewarnai...

Saskia Rahma Harumkan MA Almaarif Singosari, Sabet Juara 1 Economic UM Cup 2026

IDEAJATIM.ID, MALANG – Kabar membanggakan kembali datang dari MA...
spot_img
Berita Terkait