Kadang sungai itu seperti ibu tua
yang terus memasak untuk anak-anaknya
meski dapurnya dibakar sedikit demi sedikit.
Kita, manusia abad ini,
mewarisi sejarah panjang Brantas
tanpa benar-benar belajar darinya.
Kita membangun rumah di daerah resapan,
menebang pohon di hulu,
menyempitkan bantaran,
lalu terkejut ketika banjir datang mengetuk pintu.
Brantas tetap mengalir.
Membawa masa lalu kerajaan-kerajaan tua,
membawa sampah-sampah abad modern,
membawa doa para petani,
dan mungkin juga harapan kecil
bahwa suatu hari manusia akan kembali belajar
cara hidup berdampingan dengan sungai.
Sebab sungai bukan sekadar air yang bergerak.
Ia adalah sejarah yang terus berjalan.
dan selama Brantas masih mengalir dari pegunungan menuju kota,
ia akan terus mengingat siapa kita sebenarnya.




