IDEA JATIM, MALANG — Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk mendorong perguruan tinggi di bawah naungan NU menuju panggung global. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Sarasehan dan Focus Group Discussion (FGD) Pra-Muktamar yang digelar di Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (12/8/2026).
Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si, menyampaikan apresiasi tinggi atas progresivitas LPTNU Jawa Timur dalam mengawal arah transformasi perguruan tinggi NU menuju tahun 2045. Menurutnya, langkah ini bukan sekadar konsep, melainkan upaya strategis untuk mengintegrasikan pendidikan tinggi NU ke dalam ekosistem global dan nasional.
”Transformasi PTNU 2045 ini bukan sekadar sebuah konsep atau gagasan, tetapi LPTNU menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem global, sistem nasional, dan tata kelola perguruan tinggi itu sendiri,” ujar Prof. Maskuri saat memberikan sambutan mewakili PWNU Jawa Timur.
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah pentingnya hilirisasi riset akademis agar mampu menembus pasar internasional. Prof. Maskuri menekankan bahwa mahasiswa dan akademisi NU perlu dibekali wawasan mengenai ekspor-impor agar karya riset yang dihasilkan tidak berhenti di atas kertas.
”Ketika kita mau mendunia, maka mau tidak mau kita juga harus melongok ke luar. Kapan LPTNU bisa menampakkan taringnya dalam konteks mendunia? Tidak lain adalah harus mampu memberikan terobosan-terobosan baru, terutama dalam hilirisasi hasil-hasil riset,” tegasnya. Ia menambahkan, jika kolaborasi antar-PTNU terjalin kuat, produk riset berbasis pesantren dan kampus NU berpotensi mendominasi arus perdagangan internasional.
Selain fokus pada ekosistem global, Prof. Maskuri juga menyoroti investasi sumber daya manusia melalui program beasiswa penuh hasil kerja sama PBNU Jawa Timur dengan berbagai perguruan tinggi. Lebih dari 1.000 mahasiswa NU telah menerima manfaat beasiswa ini dalam dua tahun terakhir.
Namun, di balik capaian tersebut, timbul keprihatinan terkait dinamika ekosistem pendidikan tinggi nasional, khususnya kesenjangan antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Pihaknya mendorong hadirnya tata kelola dan orkestrasi yang adil agar PTN tidak mematikan ruang gerak kampus swasta.
”Ekosistem nasional ini membutuhkan satu orkestrasi yang cantik antara PTN dengan PTS, yang sesungguhnya memiliki ruang yang sama dalam pengembangan SDM. Perguruan tinggi negeri jangan jadi ‘kapal keruk’. PTS harus berani menyampaikan aspirasi konkret kepada pemerintah agar ada perubahan yang nyata,” pungkasnya. (*)




