IDEA JATIM, MALANG – Suasana penuh semangat kebangsaan menyelimuti Stadion Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM) pada Senin (17/8). Ribuan sivitas akademika—mulai dari mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan—tumpah ruah mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Istimewanya, momen bersejarah ini juga dihadiri oleh mahasiswa dari 29 negara beserta empat pendamping, yang kian mempertegas wawasan global perguruan tinggi tersebut.
Bertindak sebagai pembina upacara, Rektor UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menyampaikan amanat mendalam mengenai makna hakiki sebuah kemerdekaan. Di hadapan para peserta, ia menegaskan bahwa merdeka bukan sekadar terlepas dari cengkeraman kolonialisme, melainkan juga keberanian meruntuhkan feodalisme demi mewujudkan keadilan sosial.
“Sebagai insan cendekia yang terdidik, mari kita refleksikan kembali sejauh mana kemerdekaan telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemerdekaan perlu diwujudkan melalui sikap sebagai warga yang adil dan berdaulat,” tegas Prof. Hariyono dalam pidatonya.
Semangat kemanusiaan dan kepedulian sosial turut menjadi sorotan utama. Menjawab kepedihan masyarakat terdampak gempa bumi berkekuatan 7,0 SR di Nusa Tenggara Timur (NTT), UM bergerak nyata melalui penggalangan dana dan penyaluran bantuan bagi mahasiswa yang terdampak. Bantuan ini menjadi bukti sahih bahwa solidaritas akademisi tak terbatas oleh jarak.
Tak hanya khidmat, upacara ini menjadi awal dari babak baru perjalanan kampus. UM secara resmi meluncurkan logo Dies Natalis ke-72, yang menandai dibukanya rangkaian peringatan hari jadi sekaligus refleksi atas kontribusi besar universitas di dunia pendidikan.
Kemeriahan acara makin memuncak saat 72 mahasiswa baru secara energik mempersembahkan Senam Cakrawala. Gelak tawa dan tepuk tangan meriah membaur dalam kebersamaan, menyatukan seluruh elemen kampus dalam satu irama semangat nasionalisme.
Melalui momentum ganda ini, Universitas Negeri Malang menegaskan kembali perannya: mencetak insan terdidik yang tak sekadar mengekor perubahan, melainkan berani tampil di depan untuk mengarahkan masa depan bangsa yang adil, berdaulat, dan bertanggung jawab. (*)





