IDEA JATIM, MALANG – Langkah monumental diambil Universitas Negeri Malang (UM) di tengah riuk-pikuk penyambutan mahasiswa baru. Tak sekadar membuka tirai Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 di Graha Cakrawala, Senin (10/8), UM secara resmi meluncurkan Gedung Klinik Utama UM. Kehadiran fasilitas medis anyar ini bukan hanya menghadirkan layanan kesehatan komprehensif, melainkan juga berfungsi ganda sebagai laboratorium terpadu bagi integrasi riset dan pendidikan lintas disiplin.
Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menegaskan bahwa pendirian klinik ini merupakan wujud apresiasi mendalam kampus terhadap kepercayaan ribuan mahasiswa baru yang resmi bergabung tahun ini. Pembangunan kampus modern, menurutnya, tidak boleh kaku dan hanya berfokus pada capaian IPK semata, melainkan wajib ditopang oleh ekosistem pendukung yang menjamin kesejahteraan fisik dan mental warganya.
“Sebagai rasa syukur bahwa saudara-saudara memilih UM, UM berupaya tumbuh dan terus meningkatkan pelayanan. Salah satu pelayanannya adalah pelayanan kesehatan,” ujar Prof. Hariyono di hadapan ribuan mahasiswa baru yang memadati tribun Graha Cakrawala.
Keunggulan utama Klinik Utama UM terletak pada konsep pengembangannya yang multifungsi.
Fasilitas ini didesain sebagai ruang pembelajaran praktis (hands-on learning) untuk memperkuat kompetensi akademis di bidang kesehatan dan sains Hayati.
Prof. Hariyono menjelaskan bahwa gedung ini diproyeksikan menjadi sarana laboratorium pendukung utama bagi mahasiswa dan dosen dari empat pilar keilmuan strategis di UM, yaitu:
Fakultas Kedokteran: Untuk simulasi dan praktik penanganan klinis secara riil.
Ilmu Kesehatan Masyarakat: Dalam memetakan serta merancang program pencegahan penyakit di lingkungan kampus.
Kebidanan: Mendukung layanan kesehatan reproduksi dan perawatan ibu-anak.
Bioteknologi: Sebagai ruang riset terapan untuk pengembangan obat maupun uji diagnostik.
“Fasilitas ini mengintegrasikan pelayanan kesehatan langsung dengan kegiatan pendidikan, pembelajaran, dan pengembangan keilmuan di lingkungan UM. Jadi mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga melihat penerapan ilmunya secara langsung di lapangan,” tambah Prof. Hariyono.
Hal lain yang mencuri perhatian adalah skema pendanaan fasilitas megah ini. Pembangunan Gedung Klinik Utama UM murni lahir dari efisiensi dan pengelolaan Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa yang dikelola secara transparan dan akuntabel. Pendekatan ini membuktikan komitmen UM untuk mengembalikan dana pendidikan dari mahasiswa dalam bentuk layanan publik yang manfaatnya dapat dirasakan secara instan oleh seluruh sivitas akademika.
Dari sudut pandang global, peresmian fasilitas ini secara langsung mendongkrak kontribusi UM terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, yakni Good Health and Well-being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera).
“Dengan kesaksian dan persetujuan kita semua, hari ini mari kita resmikan Gedung Klinik Utama Universitas Negeri Malang,” tutur Prof. Hariyono yang disusul dengan seruan Basmallah.
Gema tepuk tangan dan sorak sorai riuh mahasiswa baru langsung membahana menyambut ucapan tersebut. Dengan resminya Klinik Utama ini, UM tidak hanya memantapkan posisinya sebagai pencetak generasi unggul secara akademis, tetapi juga sebagai institusi pendidikan yang aman, sehat, dan peduli pada kualitas hidup warganya. (*)




