IDEA JATIM, MALANG – Peta kekuatan ilmu pengetahuan dan ekonomi global mengalami pergeseran besar. Kiblat yang selama ini mengarah ke Barat kini mulai beralih ke Timur. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Widya Karya (UWK) Malang meresmikan Mandarin Club sekaligus menggelar Pekan Mandarin, Sabtu (19/9/2026).
Rektor UWK Malang, Prof. Dr. Ir. A. Maria Kukuk Yudiono, M.S., menegaskan bahwa Tiongkok telah berkembang menjadi raksasa baru. Perkembangannya melompat sangat jauh dan melampaui perkiraan.
”Begitu menginjak tahun 1990-an ke atas, perkembangan Tiongkok luar biasa. Perkembangannya melompat sangat jauh,” ujar Prof. Kukuk saat membuka acara.
Perubahan peta global ini paling terasa di dunia akademik. Penulis dan akademisi asal Tiongkok kini mendominasi riset serta publikasi jurnal internasional bereputasi tinggi.
Prof. Kukuk menyebutkan bahwa riset berkualifikasi tinggi tidak lagi didominasi oleh negara-negara Eropa. “Dari 10 universitas, mungkin tiga sampai lima di antaranya dari China yang menguasai jurnal-jurnal ini. Negara-negara Eropa mulai tersisih,” tegasnya.
Menurutnya, Tiongkok berhasil mengombinasikan dua hal yang selama ini dianggap mustahil: kualitas tinggi dan biaya yang terjangkau. Strategi ini membuat pengaruh teknologi dan ilmu pengetahuan mereka merambah ke seluruh dunia dengan sangat cepat.
Penguasaan bahasa Mandarin kini bukan lagi sekadar pilihan atau hobi, melainkan kebutuhan strategis. Investasi Tiongkok di Indonesia terus melonjak pesat. Banyak industri dan perusahaan besar yang membutuhkan tenaga kerja terampil dengan kemampuan bahasa Mandarin.
Rektor UWK menekankan pentingnya menyiapkan lulusan yang siap bersaing di pasar kerja global. Mahasiswa tidak bisa lagi hanya mengandalkan bahasa Inggris.
”Mau tidak mau, kita tidak hanya belajar bahasa Inggris. Bahasa Mandarin harus kita kuasai agar lulusan kita lebih cepat diterima di dunia kerja,” tutur Prof. Kukuk.
Sementara itu, Pakar Studi Tiongkok, Dr. Novi Basuki, sebagai narasumber menegaskan pentingnya menguasai bahasa Mandarin di era global saat ini. Hal tersebut ia sampaikan sebagai pembicara utama dalam seminar Gebyar Mandarin.
Alasan pertama adalah peluang komunikasi yang sangat masif. Populasi Tiongkok kini menembus angka 1,4 miliar jiwa. Angka ini belum memperhitungkan jutaan diaspora Tionghoa di berbagai negara, mulai dari kawasan Asia Tenggara hingga kawasan Timur Tengah.
”Bayangkan kalau kita bisa bahasa Mandarin, kita akan bisa berkomunikasi dengan paling tidak 1,4 miliar manusia yang ada di planet bumi ini,” ujar Novi Basuki.
Namun, faktor jumlah penduduk bukanlah satu-satunya alasan utama. Jika hanya berpatokan pada populasi, India kini sudah menyalip Tiongkok dengan jumlah penduduk lebih dari 1,4 hingga 1,5 miliar jiwa.
Alasan kedua yang jauh lebih krusial adalah kekuatan dan laju ekonomi Tiongkok yang melesat cepat.
”Tiongkok adalah entitas perekonomian dengan laju perekonomian tercepat di dunia,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa posisi dominan ekonomi Tiongkok sangat sulit ditandingi oleh negara berkembang lainnya dalam waktu dekat.
”Hanya dalam 30 tahun, Tiongkok yang dulunya jauh lebih miskin dari Indonesia, kini melompat menjadi raksasa ekonomi dunia,” ungkap Dr. Novi.
Menguasai bahasa Mandarin kini bukan lagi sekadar pilihan pengembangan diri, melainkan kunci strategis untuk terlibat langsung dalam lanskap ekonomi global. Langkah UWK Malang mendirikan Mandarin Club menjadi bagian dari persiapan jangka panjang. Perguruan tinggi harus berani mengambil ancang-ancang dan beradaptasi dengan arah perkembangan zaman. (*)





