IDEA JATIM, MALANG — Di balik perawakan tegas khas pria kelahiran Larantuka, Flores Timur, tersimpan kelembutan hati yang luar biasa dari Frater Maria Chrysostomus, BHK. Pria yang akrab dipanggil Frater Tommy ini membuktikan bahwa pendekatan terbaik dalam mendidik anak usia dini dan sekolah dasar bukanlah dengan doktrin yang kaku atau nada suara yang tinggi, melainkan lewat kehadiran, teladan, dan kesabaran tanpa batas.
Bagi Frater Tommy, perjalanan panggilannya sebagai frater pendidik di lingkungan Yayasan Mardi Wiyata merupakan bentuk pengabdian total. Sejak mengawali perannya sebagai bapak asrama di Ende dan Maumere, bertugas selama enam tahun (2006–2012) sebagai misionaris di Kenya, Afrika, hingga kini dipercaya memimpin satuan pendidikan KB-TK dan SD Mardi Wiyata Malang, ia meyakini satu hal: jiwa seorang pendidik sejati selalu terpaut pada dunia anak-anak.
Satu prinsip utama yang selalu dipegang teguh oleh Frater Tommy adalah tidak pernah memarahi anak-anak. Menurutnya, anak-anak tidak membutuhkan penghakiman atas kesalahan yang mereka perbuat, melainkan tuntunan yang penuh kasih dan rasa aman.
”Banyak orang melihat fisik saya sebagai orang Flores dan berpikir karakter saya akan sangat keras atau menyeramkan. Padahal, jiwa saya sepenuhnya ada bersama anak-anak. Mendidik mereka tidak bisa dengan kemarahan; mereka butuh dirangkul dan dipahami,” ujar Frater Tommy penuh kehangatan saat ditemui pada Kamis (27/08/2026).
Prinsip mendidik tanpa amarah ini lahir dari perenungan panjangnya selama berinteraksi langsung dengan anak-anak dari berbagai latar belakang budaya, baik saat bertugas di pelosok Flores, Afrika, hingga di Kota Malang. Bagi lulusan S1 PGSD Universitas Kanjuruhan Malang ini, mendidik adalah proses menyentuh hati sebelum mengisi otak.
”Kalau kita mendekati anak-anak dengan wajah muram atau nada tinggi, pintu hati mereka akan tertutup. Tetapi jika kita masuk ke dunia mereka dengan ketulusan dan senyuman, anak-anak akan belajar dengan rasa aman dan gembira,” tambah Frater Tommy.
Inspirasi keterbukaannya dalam dunia pendidikan tak lepas dari sosok sang ayah yang merupakan seorang pensiunan kepala sekolah, serta teladan para frater senior yang mengasuhnya semasa di SMA Katolik Frateran Larantuka. Dari sanalah ia belajar bahwa ketegasan seorang pemimpin dan pendidik tidak diukur dari seberapa keras ia bersuara, melainkan seberapa konsisten ia memberi teladan hidup.
”Inspirasi awal saya menjadi frater pendidik salah satunya karena melihat teladan hidup para frater terdahulu. Saya melihat bagaimana mereka hadir untuk anak-anak, mengayomi, dan menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang nyaman,” ungkapnya mengenang masa-masa awal panggilannya.
Kini, di tahun ajaran 2026, amanah untuk kembali memimpin KB-TK Mardi Wiyata Malang diterimanya dengan penuh rasa syukur. Bagi Frater Tommy, setiap harinya di sekolah adalah kesempatan untuk terus menanamkan benih kasih, mendampingi tumbuh kembang anak-anak tanpa ketakutan, dan membimbing mereka dengan prinsip kelembutan hati. (*)





