IDEA JATIM, MALANG – Ada energi berbeda di lapangan SD Islam Sabilillah (SDIS) Malang 2. Lebih hangat. Lebih riuh. Namun, sangat khidmat.
Sebanyak 179 bocah berdiri tegap. Dadanya membusung. Ada rasa bangga yang meletup-letup dari balik seragam cokelat yang mereka kenakan.
Hari itu, momen Peringatan Hari Pramuka tidak sekadar diisi seremonial hampa. Ada keringat dan perjuangan kecil anak-anak sekolah dasar yang diganjar penghargaan: Pelantikan Pramuka Siaga Mula dan Tata.
”Untuk kelas dua, ada 100 anak yang naik dari Siaga Dasar ke Siaga Mula. Lalu yang kelas tiga, 79 siswa sukses menembus Siaga Tata,” ujar Kepala SD Islam Sabilillah Malang 2, M. Isnin H., S.Pd., dengan nada mantap.
Angka-angka itu bukan hadiah cuma-cuma. Ada proses panjang yang mereka lewati. Anak-anak kecil ini harus melahap serangkaian ujian Syarat-Syarat Kecakapan Umum (SKU).
Mereka diuji, dilatih, dan ditempa. Sekolah tidak mau Pramuka sekadar jadi rutinitas penggugur kewajiban di hari Jumat. Harus ada bekasnya. Harus ada dampaknya.
Begitu badge baru terpasang di lengan, urusan belum selesai. Ujian sesungguhnya justru baru dimulai.
Anak-anak itu langsung diterjunkan ke medan penjelajahan di sekitar sekolah.
Mereka menyusuri rute, memecahkan teka-teki, dan menguji keberanian. Di sanalah kemandirian dan kerja sama tim yang sebenarnya diuji—bukan di atas kertas.
Isnin punya mimpi besar. Pembinaan bulanan dan penjelajahan ini barulah fondasi awal. Target akhirnya jelas: melahirkan Pramuka Garuda dari bumi SD Islam Sabilillah Malang 2.
”Dwisatya dan Dwidarma itu bukan untuk dihafalkan. Tapi untuk dijalankan sehari-hari,” tegas Isnin.
Pesan senada ditiupkan oleh Pembina Upacara, Kak Samsul. Di hadapan ratusan pasang mata yang menatapnya polos, ia memberi wejangan yang menancap mendalam.
”Naik pangkat itu bukan soal berganti atribut. Itu soal tanggung jawab,” ujar Kak Samsul. “Adik-adik harus lebih disiplin. Tidak boleh malas-malasan lagi. Harus siap jadi teladan buat adik-adiknya di kelas satu!”
”SAYA SIAP!”
Jawaban itu membahana. Serempak. Kompak. Suara lantang dari mulut-mulut kecil itu menggelegar menyapu seluruh sudut lapangan upacara. Menyentak siapa saja yang mendengarnya.
Tentu, disiplin Pramuka tidak boleh berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Kak Samsul mewanti-wanti agar karakter itu dibawa sampai ke rumah. Rajin PR, tidak bolos salat, dan patuh pada orang tua.
Upacara pun ditutup dengan doa bersama. Pasukan dibubarkan, namun semangat baru jelas sudah menyala.
Dari lapangan SD Islam Sabilillah Malang 2 ini, benih-benih manusia mandiri, berkarakter, dan berakhlak mulia itu resmi disemai. (*)





