IDEA JATIM, MALANG — Gelombang teknologi kian deras mengikis fokus generasi muda. Di tengah gempuran gadget, SMPK Mardi Wiyata Malang mengambil langkah strategis. Sekolah Katolik ini menggelar peringatan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) pada Rabu, 16 September 2026. Kegiatan ini dirancang seru sekaligus membumi.
Tahun ini, BKSN mengusung tema “Yesus Guru yang Penuh Kuasa”. Tema ini diajarkan bukan sekadar sebagai teori. Siswa diajak menjadikan Yesus sebagai cermin dan pahlawan nyata dalam hidup sehari-hari.
“Kami ingin anak-anak bercermin pada Yesus. Beliau bukan hanya nabi, tetapi juga seorang guru,” ujar Koordinator BKSN SMPK Mardi Wiyata, Debritus Billy Lamianto Putro, M.Ag.
Kegiatan diawali dengan kebiasaan literasi kitab suci setiap pagi. Para siswa diminta membaca ayat, memilih kalimat berkesan, lalu menuliskan komentar pribadi. Kebiasaan ini kemudian dikemas lebih segar lewat kompetisi antarkelas.
Ada delapan jenis perlombaan yang digelar. Semua dirancang inklusif. Tidak ada siswa yang duduk diam tanpa kegiatan. Mulai dari Lomba Mazmur, Lektor-Lektris, Menyusun Ayat Alkitab, Mewarnai, Teka-Teki Silang, Cerdas Cermat, hingga Puzzle Gambar Rohani.
Puncak acara ditutup dengan lomba paduan suara (choir). Seluruh siswa dari kelas 7 hingga 9 tampil kompak membawa nama kelas masing-masing. Mereka mengasah harmonisasi dan kreativitas selama tiga minggu penuh latihan.
Penilaian paduan suara berfokus pada tiga hal. Yakni harmonisasi suara, ketepatan nada, dan kreativitas susunan lagu.
“Ada yang membawakan teknik kanon, bersaut-sautan, hingga pecah empat suara. Kami membebaskan anak-anak berkreasi sesuai standar usia remaja,” jelas Billy.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Tantangan mendidik moral anak era digital dinilai kian berat. Tanpa pendampingan spiritual yang kuat, remaja rentan terseret arus perubahan zaman.
“Tantangan hari ini jauh lebih berat. Jika tidak bisa mengendalikan diri, anak-anak bisa mengalami krisis iman,” tegas Billy.
Ia menilai, krisis iman terjadi ketika keyakinan anak-anak tergerus tren media sosial. Hidup mereka rawan disetir oleh layar ponsel, bukan nilai-nilai kebaikan.
Melalui kemasan BKSN yang interaktif ini, SMPK Mardi Wiyata berupaya membelokkan fokus para siswa. Anak-anak yang semula asing dengan kitab suci kini mulai menemukan pesan-pesan moral yang berharga.
“Dengan cara yang menyenangkan ini, kami memaksa mereka menyentuh kitab suci. Harapan kami sederhana, agar iman anak-anak tetap terjaga dan terawat di tengah jaman,” tutupnya. (*)





