Legacy di Ujung Kelulusan, SMA Islam Sabilillah Malang

IDEA JATIM, MALANG – Biasanya, anak kelas XII itu kalau sudah selesai UTBK, ya, leyeh-leyeh. Cari angin. Tidur siang sepuasnya. Menikmati masa-masa “merdeka” menjelang wisuda.

​Tapi jangan harap pemandangan itu ada di SMA Islam Sabilillah (SMAIS) Malang Boarding School Sistem Pesantren.

​Di sana, tensi justru tidak diturunkan. Malah dinaikkan. Saat sekolah lain sudah kendor, SMAIS justru sedang “ganti gigi” ke persneling tinggi.

Anak-anak yang sebentar lagi lulus itu justru dipacu habis-habisan. Lewat program pembekalan yang bikin dahi mengkerut: dari literasi internasional sampai urusan public speaking.

​Kepala Sekolahnya, Ani Rahmawati, S.Pd., M.Pd.—biasa dipanggil Bu Rahma—punya filosofi sendiri. Dia tidak mau momentum belajar anak-anak putus di tengah jalan. “Mau tidak mau anak-anak memang harus membaca untuk menumbuhkan literasi mereka,” ujarnya.

​Caranya? Konkret. Dan menantang.

​Seluruh siswa tingkat akhir diwajibkan menulis biografi. Bukan tokoh sembarangan. Harus tokoh kepemimpinan internasional yang jadi idola mereka. Formatnya ilmiah populer. Panjangnya harus 5 sampai 8 halaman. Referensinya? Minimal dari 5 buku. Hebatnya lagi, di awal Juni ini, mereka harus mempresentasikan nilai-nilai kepemimpinan tokoh tersebut di depan penguji.

Baca Juga:  Esensi Hardiknas: Membangun Manusia Utuh di SMAIS Boarding School

​Itu cara SMAIS melahirkan profil lulusan yang berjiwa negarawan. Tiga urusan langsung dirangkum jadi satu: budaya membaca mandiri, metodologi riset standar ketat, dan internalisasi nilai leadership global.

​Yang saya suka: karya anak-anak ini tidak akan berakhir di tempat sampah atau sekadar menumpuk di meja guru. Sekolah sudah berkomitmen.

Tulisan-tulisan itu akan dibukukan menjadi antologi resmi. Per kelas. Ada juga kelompok putra dan putri. Itulah legacy. Warisan literasi mereka sebelum meninggalkan sekolah.

​Belum cukup dengan menulis, urusan cuap-cuap juga diasah. Mereka dilatih public speaking. Bukan asal berani bicara di depan mikrofon. Fokusnya berat: kematangan emosional, seni retorika, bahasa tubuh, sampai argumen yang berbasis data.

​”Insyaallah kalau bekal public speaking-nya cukup, mereka tampil percaya diri,” kata Bu Rahma. Benar juga. Di dunia kuliah nanti, mandiri dan percaya diri adalah modal utama.

​Melihat polanya yang “keras” tapi bermutu begitu, wajar kalau SMAIS sekarang bukan lagi sekadar jagoan lokal di Malang Raya. Namanya sudah magnet nasional.

Baca Juga:  Siswi SMAIS Wakili Indonesia di Japan Youth Summit 2025

​Tengok saja data Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) terbarunya.

Angkanya unik. Hampir persis separuh-separuh. Siswa asal Malang Raya berada di angka 50,29 persen. Sementara sisanya, 49,71 persen, adalah anak-anak dari luar daerah. Banyak yang terbang jauh-jauh dari Pulau Kalimantan dan wilayah nusantara lainnya hanya untuk mondok dan sekolah di sini.

​Saat ini, proses PPDB di SMAIS masih menggelinding. Terus berjalan.
​Sistem boarding school yang kompetitif dan agamis rupanya punya daya pikat magis. Memang begitulah cara menyiapkan pemimpin masa depan: tidak dimanja di akhir masa sekolah, tapi justru ditempa sampai matang. Secara akademik, spiritual, maupun sosial.

​Habis UTBK kok santai? Di SMAIS Malang, itu tidak keren. (*)

Berita Terkini

Inovasi UM: Racik Algoritma Cerdas untuk Cegah Pasien Klinik Gigi Berpindah Layanan

IDEA JATIM, MALANG - Persaingan ketat antar-klinik gigi kini...

Digitalisasi Warung Kelontong FILKOM dan FEB Raih Pendanaan P2MW 2026

IDEA JATIM, MALANG - Di tengah gempuran modernisasi ritel,...

Gandeng Pemkab Kapuas Hulu, UNITRI Malang Siap Cetak SDM Unggul Lewat Tri Dharma​

​IDEA JATIM, ​MALANG – Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img