Bimtek di SMPK Frateran Celaket 21 Malang : Akselerasi Digitalisasi Pembelajaran

IDEA JATIM, ​MALANG – Digitalisasi di dunia pendidikan tidak boleh berhenti pada penyediaan perangkat canggih semata, melainkan harus menjadi pendorong utama perubahan cara belajar-mengajar. Pesan bernas ini ditegaskan oleh Kepala SMPK Frateran Celaket 21 Malang, Fr. Yohanes, saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi yang digelar di Aula SMPK Frateran Celaket 21 Malang, Kamis (17/9/2026).

​Fr. Yohanes menggarisbawahi esensi utama dari pemanfaatan teknologi di lingkungan sekolah. ​“Digitalisasi bukan sekadar teknologi, melainkan jembatan menuju transformasi pembelajaran yang lebih modern dan bermakna bagi murid, guru, dan sekolah,” tegas Fr. Yohanes di hadapan para peserta.

​Sebagai tuan rumah, ia menyampaikan rasa bangga dan kehormatannya atas kepercayaan yang diberikan kepada SMPK Frateran Celaket 21 Malang untuk memfasilitasi agenda strategis ini. Menurutnya, antusiasme dan kehadiran para peserta merupakan bukti nyata komitmen bersama dalam memajukan mutu pendidikan daerah.

​Melalui Bimtek ini, seluruh peserta diajak untuk mengikuti rangkaian acara dengan semangat, keterbukaan, serta tekad kuat untuk membawa perubahan positif di ruang kelas masing-masing. Kegiatan ini diharapkan tak sekadar menjadi agenda formalitas, melainkan mampu memberikan manfaat nyata dan dampak berkelanjutan bagi peningkatan kualitas pembelajaran anak didik di era modern.

Baca Juga:  SMPK Frateran Celaket 21 Malang Gelar Diklat OSIS, Wujudkan Pemimpin Gen Z Berintegritas

Pemateri Bimtek Digitalisasi Pembelajaran sekaligus Kepala SDN Sukoharjo 1, Murthofiatis Zahrok, S.Pd., M.Pd mengatakan, tantangan utama digitalisasi pembelajaran saat ini adalah pemanfaatan teknologi yang masih sering salah kaprah. Penggunaan perangkat seperti Interactive Flat Panel (IFP) atau LCD proyektor kerap kali hanya sebatas alat bantu visual tanpa disertai interaksi kognitif, sehingga justru membuat para siswa menjadi pasif dan mengantuk.

​”Jadi kalau digital bukan hanya sebagai alat saja, tapi harapannya jadi cognitive tool-nya. Jadi mendapatkan pengetahuan di situ. Guru dengan literasi harapannya dimasukkan ke dalam digitalisasi berupa kognitifnya. Jadi siswa tidak hanya melihat proyektor lalu selesai, tapi bagaimana ada interaksinya di situ,” ujar Zahrok.

​Ia menambahkan bahwa integrasi teknologi yang tepat akan mengubah posisi peserta didik menjadi subjek utama dalam proses belajar mengajar. Melalui pendekatan ini, peran guru bergeser menjadi fasilitator yang menciptakan media pembelajaran interaktif untuk memperkuat literasi dan numerasi siswa.

​Kegiatan bimbingan teknis ini sendiri merupakan tindak lanjut atas penerimaan dana BOS Kinerja Terbaik yang diraih oleh sejumlah sekolah di Kota Malang. Murthofiatis menjelaskan bahwa bantuan tersebut diberikan oleh pemerintah pusat kepada sekolah-sekolah yang berhasil mencatatkan peningkatan signifikan pada rapor pendidikan dan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI).

Baca Juga:  Ciptakan Real Leaders, SMPK Frateran Celaket 21 Malang Cetak Gen Z Berintegritas Lewat Diklat OSIS

​Terkait penggunaan anggaran tersebut, ia menegaskan bahwa aturan pengelolaan BOS Kinerja Terbaik sangat ketat dan tidak diperbolehkan untuk pengadaan sarana fisik. Regulasi tersebut mewajibkan alokasi dana difokuskan sepenuhnya pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sekolah.

​”Kegiatannya tidak boleh dibelanjakan modal, tapi berupa peningkatan kompetensi untuk Bapak dan Ibu Guru serta Kepala Sekolah. BOS Kinerja Terbaik ini khusus untuk guru, beda dengan BOS Prestasi yang diperuntukkan bagi siswa, atau BOS Reguler dan Bosda yang dialokasikan untuk operasional sekolah,” kata mantan Bendahara SMPN 21 Malang tersebut.

​Ia juga menekankan bahwa kriteria penerima BOS Kinerja tidak hanya melihat besaran nilai akhir, melainkan melonjaknya grafik peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itu, sekolah yang memiliki nilai sama belum tentu kembali menerima bantuan tersebut jika peningkatannya dianggap kurang signifikan oleh kementerian.

​”Harus up-nya tinggi, kenaikannya bisa 50 persen atau 80 persen dari tahun sebelumnya. Kalau naik cuma sedikit, belum tentu dapat. Jadi tidak bisa dijadikan patokan antara satu sekolah dengan sekolah lain meskipun nilainya sama,” pungkasnya. (*)

Baca Juga:  SMPK Frateran Celaket 21 Malang, FCC Digelar Besok, Ratusan Siswa SD Siap Berkompetisi

Penulis

Berita Terkini

FBiPK UB dan Faculty of Educational Studies UPM Perkuat Ekosistem Pendidikan Global

IDEA JATIM, ​MALANG — Kemitraan strategis antara Universitas Brawijaya...

SMPK Frateran Celaket 21 Malang Gelar Pesta Demokrasi Pemilihan Ketua OSIS 2026–2027

IDEA JATIM, MALANG – Suasana di hall terbuka SMP...

HARAPAN KELUARGA KEMBALI MENYALA, PENYELAM BASARNAS TEMUKAN SATU KORBAN KM VIRGO TRANSPORT 8

IDEAJATIM - Di tengah operasi pencarian yang terus berlangsung,...
spot_img
Berita Terkait
spot_imgspot_img