IDEA JATIM, MALANG — Tim siswa SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School Sistem Pesantren kembali mengukir prestasi membanggakan di tingkat internasional. Tujuh siswa sukses meraih juara 3 dalam kompetisi Short Film Contest tingkat internasional yang diselenggarakan oleh International School Association, beberapa waktu lalu.
Ajang bergengsi ini melibatkan banyak sekolah dari berbagai benua, mulai dari Malaysia, Cina, Amerika Serikat, Argentina, Spanyol, hingga Turki. Waka Humas SMA Islam Sabilillah Malang, M. Abdu Atho’illah, S.Pd., menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian tersebut mengingat ketatnya kompetisi tahun ini.
”Ini sudah kali kedua kita ikut lomba ini. Tahun lalu kita juga ikut dan juga meraih juara. Untuk tahun ini lebih ketat untuk persaingannya, tapi alhamdulillah anak-anak tetap dapat juara,” ujar Atho’illah.
Tujuh siswa yang tergabung dalam tim berprestasi ini terdiri dari M. Daffa Fachri Akbaril, Muhammad Rafiudin Sasmito, Andhika Satrya Wibawa, Hanum Ainur Althafunisa, Setyari Azizan Kosyatulloh, Kenzie Nareindra Justine, dan Dafa Almer Dzaky.
Film pendek yang diusung tim siswa SMAIS berjudul Concern (Kepedulian) dengan durasi maksimal 5 menit. Atho’illah menjelaskan bahwa alur cerita film dikemas secara mendalam agar pesan moralnya dapat menyentuh para penonton.
”Karakter utamanya di awal itu dia acuh tak acuh dengan lingkungan sekitar. Sampai suatu ketika ada plot twist di mana dia semacam tersadarkan karena ada satu peristiwa yang mengagetkan dia. Akhirnya sejak saat itu dia berubah perilakunya untuk lebih peduli ke orang lain. Di akhir cerita dia menyimpulkan bahwasanya kepedulian adalah kunci untuk saling berbagi kebaikan dengan sesama,” jelasnya.
Proses produksi film berdurasi pendek ini terbilang sangat intensif karena hanya memakan waktu sekitar satu minggu di tengah tenggat waktu yang mepet. Pengambilan gambar pun tidak hanya dilakukan di area sekolah, melainkan juga merambah ke ruang publik hingga kediaman siswa agar jalan cerita terasa lebih hidup.
Proses produksi film pendek ini menuntut kolaborasi yang solid antaranggota tim, mulai dari penulisan naskah, pengambilan gambar, hingga tahap penyuntingan. Keberhasilan ini juga tak lepas dari peran wadah sinematografi sekolah bernama Luxera. Sekolah turut memberikan dukungan penuh melalui fasilitas studio mini Broadcast Edupark, peralatan, serta alokasi waktu dispensasi.
Atho’illah menilai kompetisi ini menjadi bahan evaluasi berharga untuk mengasah kemampuan siswa di masa depan, terlebih persaingan di tingkat internasional dan domestik makin kompetitif.
”Tantangannya adalah bagaimana mengonsep sebuah tema besar menjadi pesan-pesan yang sangat efektif dan efisien disampaikan. Kuncinya ada pada peningkatan jam terbang nantinya, biar anak-anak lebih tajam secara insting seninya ada, sinematografinya ada,” tururnya.
Atho’illah mengapresiasi kerja keras anak didiknya yang mampu menunjukkan kreativitas dan daya saing global di tengah padatnya aktivitas pembelajaran berbasis pesantren. Prestasi ini sekaligus menjadi bukti nyata komitmen SMA Islam Sabilillah Malang dalam mewujudkan visi World Class Islamic Education untuk mencetak generasi pemimpin peradaban dunia.
Koordinator Club Sinematografi Luxera
SMA Islam Sabilillah Malang, Zalfa Amirah Khusniyah, S.Pd., juga mengungkapkan rasa bangga atas dedikasi dan passion yang ditunjukkan oleh anak-didiknya selama proses produksi karya.
”Anak-anak itu memang benar-benar passion, bukan hanya sekadar hobi saja, tetapi mereka memiliki bakat murni untuk pengambilan video dan hal teknis lainnya. Prinsip utama mereka adalah membuat video dan poster tanpa menggunakan AI,” ujar Zalfa saat ditemui di sekolah.
Proses produksi yang dilalui para siswa tidaklah singkat. Mereka rela menghabiskan waktu hingga larut malam untuk mengasah ide, menyusun konsep, hingga merampungkan proses pengambilan gambar secara mandiri dengan pendampingan dari pihak sekolah.
Zalfa berharap capaian ini dapat menjadi inspirasi bagi seluruh siswa untuk terus mengeksplorasi potensi diri serta berani bersaing di panggung internasional. Dan keberhasilan ini membuktikan bahwa pendidikan berbasis pesantren mampu mencetak generasi yang tak hanya unggul dalam ilmu keagamaan, tetapi juga adaptif, kreatif, dan berdaya saing global di bidang seni sinematografi.
“Melalui karya audio-visual yang kreatif, anak-anak kami berhasil memikat juri internasional dan menyisihkan peserta dari berbagai penjuru dunia. Semoga capaian ini menjadi inspirasi bagi seluruh siswa untuk terus berkarya dan mengukir prestasi di tingkat internasional,” harapnya. (*)




