IDEA JATIM, MALANG – Agnes Jayanti Triastuti, S.Pd tidak pernah menyangka. Hari itu, per 1 Juli 2026, keputusan Yayasan Pendidikan Kolese Santo Yusup jatuh kepadanya. Agnes resmi ditunjuk memimpin SDK Kolese Santo Yusup 3 (Kosayu) Malang. Sebuah loncatan besar.
​”Kejutan yang sangat-sangat amat membuat saya terkejut, karena saya tidak menyangka sama sekali,” ucapnya jujur. Tanpa tedeng aling-aling.
​Jejaknya di sekolah itu sebenarnya sudah 10 tahun. Panjang. Ia masuk tahun 2015. Waktu itu memegang Bimbingan Konseling. Urusan rasa, karakter, dan mendengarkan anak-anak. Lalu naik jadi Kepala Urusan Kesiswaan. Tapi, memegang kemudi sekolah? Itu cerita lain.
​Duduk di kursi kepala sekolah rupanya beda rasa. Sensasinya beda. “Dulu saya hanya ngajar, ketemu anak-anak, ngobrol. Ternyata sekarang harus manage semuanya, itu tidak mudah,” aku Agnes sambil tertawa kecil. Kursi itu ternyata hangat. Bahkan cenderung panas.
​Tapi Agnes tidak mau meratap. Kuncinya ada di manusia. Di SDM.
​Ia tahu peta kekuatan stafnya. Guru senior kaya pengalaman mengajar. Guru muda mahir IT dan paham Artificial Intelligence. Dua kekuatan ini tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Harus dikawinkan.
​Agnes bikin program: Berbagi Praktik Baik. Guru senior menularkan ilmu penguasaan materi. Guru muda mengajari cara pakai teknologi modern. Saling isi. Tidak ada yang merasa paling pintar.
​Gebrakan dari dalam saja tidak cukup. Agnes tarik tenaga luar. Pengawas sekolah diundang. Perguruan tinggi diajak kerja sama. Semua demi satu target: kurikulum terbaru harus mendarat mulus di kelas.
​Bagaimana kalau ada gesekan internal?
​Bagi Agnes, beda pendapat itu bumbu. Biasa. Yang penting jangan ngerumpi di belakang. “Kalau ada perbedaan pendapat, mari kita diskusikan bersama-sama. Intinya diajak bicara, komunikasi itu kunci,” tegasnya. Sederhana, tapi telak.
​Menanggung beban berat jelas bikin penat. Kepala bisa berasap. Lalu bagaimana Agnes melepaskan penat?
​Bukan jalan-jalan mewah. Cukup di rumah. “Penghiburan ya di rumah bermain dengan anak, atau nonton drakor,” kelakarnya lepas.
​Simpel. Humanis.
​Agnes kini berdiri di depan kapal besar bernama Kosayu 3. Ia tidak membawa tongkat sihir, tapi membawa kehendak untuk terus belajar dan merangkul semua orang. Di tangannya, sekolah itu sedang berlayar menuju era baru. (*)




