IDEAJATIM, BATU — Bagi Genuk Rahayu, Agustus tahun ini menjadi kesempatan kedua untuk kembali ke lereng Gunung Panderman, Kota Batu. Ia ikut membentangkan Merah Putih raksasa bersama puluhan relawan dan pecinta alam dalam tradisi yang sudah dijaga CANSABALAS selama 14 tahun.
Minggu (16/8/2026), sekitar 50 relawan berkumpul di lereng Panderman. Mereka membawa dan membentangkan bendera Merah Putih seluas 1.000 meter persegi. Kegiatan ini rutin dilakukan CANSABALAS setiap menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi Genuk, ini baru kali kedua ia terlibat dalam kegiatan tersebut. Namun, pengalaman itu cukup membuatnya ingin kembali.
“Saya sangat senang, sebagai warga asli Batu bisa ikut merayakan pengibaran bendera raksasa di lereng Gunung Panderman,” ujar Genuk.
Sementara bagi CANSABALAS, pengibaran bendera raksasa ini bukan kegiatan baru. Selama 14 tahun, komunitas relawan dan pecinta Merah Putih tersebut konsisten membawa tradisi itu ke lereng gunung yang menjadi salah satu ikon Kota Batu.

Ketua pelaksana kegiatan, Riyadi, mengatakan konsistensi tersebut terus dijaga sebagai bentuk kecintaan terhadap Merah Putih sekaligus mempertahankan tradisi yang telah tumbuh di Kota Batu.
“Tahun ini 14 tahun kami konsisten mengibarkan bendera raksasa di lereng gunung yang menjadi ikon Kota Batu,” kata Riyadi.
Gunung Panderman memiliki ketinggian sekitar 2.045 meter di atas permukaan laut dan menjadi salah satu tujuan pendakian di Kota Batu. Bagi masyarakat setempat, gunung ini bukan hanya bagian dari lanskap kota, tetapi juga salah satu penanda yang lekat dengan identitas Batu.
Setiap Agustus, lerengnya mendapat pemandangan berbeda. Di antara hijau pepohonan dan kontur pegunungan, Merah Putih seluas 1.000 meter persegi dibentangkan oleh para relawan.
Pekerjaan itu membutuhkan banyak tangan. Bendera yang begitu besar harus dibawa dan dibentangkan bersama-sama, mengikuti medan lereng yang tidak mudah.
Empat belas tahun berjalan, bukan berarti tradisi ini tanpa tantangan. Bendera yang selama ini digunakan mulai memudar karena telah berulang kali digunakan dan terpapar kondisi alam.
Riyadi berharap ke depan kegiatan tersebut bisa mendapat dukungan lebih baik, sehingga tradisi yang sudah dijaga selama belasan tahun dapat terus berjalan.
“Mewakili komunitas, kami berharap ke depan ada bantuan pemerintah untuk membuat kegiatan positif ini lebih baik lagi, seperti halnya bendera yang sudah mulai memudar. Semoga pemerintah bisa membantu,” ujarnya.
Genuk berharap apa yang dilakukan para relawan tidak berhenti pada generasi sekarang. Ia ingin semakin banyak anak muda Kota Batu yang ikut datang dan mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.
“Semoga ke depan semakin banyak anak muda yang ikut bergabung. Biar tradisi seperti ini tetap ada dan bisa diteruskan bersama-sama,” ujar Genuk.
Minggu pagi itu, Merah Putih kembali membentang di lereng Panderman. Bagi CANSABALAS, ini adalah tahun ke-14 mereka menjaga tradisi tersebut. Bagi Genuk, ini baru kali kedua.
Ia berharap, tahun-tahun berikutnya akan ada lebih banyak anak muda Kota Batu yang datang, ikut membentangkan Merah Putih, dan meneruskan tradisi yang sudah dijaga selama belasan tahun itu.
Setiap Agustus, Merah Putih kembali dibentangkan di Panderman. Di sana, para relawan kembali merawat sebuah tradisi yang telah menemani perjalanan perayaan kemerdekaan di Kota Batu selama 14 tahun. (*)




