IDEA JATIM, MALANG – Di tengah pesatnya arus modernisasi, Universitas Islam Malang (Unisma) terus membentengi diri dengan spiritualitas. Berkolaborasi dengan Majelis Sema’an Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin Jantiko Mantab, Unisma menggelar acara religi akbar yang memadati Masjid Ainul Yaqin Unisma, Selasa (2/6/2026). Agenda ini menjadi bukti nyata komitmen kampus dalam menjaga tradisi intelektual yang seimbang dengan ketajaman batin. Hadir dalam acara tersebut jajaran yayasan, civitas akademika, para huffadz (penghafal Al-Qur’an), serta ratusan jemaah dan santri yang larut dalam kekhusyukan.
Wakil Rektor 3 Unisma, Dr. H. Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd., yang hadir mewakili Rektor, menyampaikan apresiasi mendalam atas istikamahnya kampus Unisma sebagai pusat syiar Al-Qur’an dan zikir. Menurutnya, kemajuan zaman yang masif saat ini wajib diimbangi dengan benteng spiritual yang kokoh.
”Pengembangan ilmu pengetahuan harus diimbangi dengan kegiatan spiritualitas. Apalagi dengan kemajuan modern saat ini, kalau tidak diimbangi dengan spiritualitas maka akan terjadi kegersangan hati yang berdampak pada ketidakseimbangan fisik dan jiwa kita,” ujar Dr. Muhammad Yunus di hadapan jemaah.
Tak hanya itu, Yunus juga mengajak seluruh civitas akademika untuk membudayakan membaca Al-Qur’an dan berzikir sebagai perisai digital. Hal ini krusial untuk memperkuat jati diri kaum Nahdliyin dari gempuran sentimen negatif di media sosial.
”Insyaallah Unisma tetap berkomitmen untuk memperjuangkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, nilai-nilai perjuangan di bawah panji Mbah Hasyim As’ari di bawah Nahdlatul Ulama,” tegasnya.
Suasana majelis semakin khidmat saat memasuki sesi Mauidzah Hasanah (tausiyah) yang disampaikan oleh KH. Agus Ferry Husnul Ma’ab (Gus Ferry), putra dari ulama kharismatik Gus Sabuth. Dengan gaya penyampaian yang kental nuansa budaya Jawa, Gus Ferry mengajak jemaah merefleksikan kembali pentingnya akhlak, sopan santun, dan sifat andap asor (rendah hati) yang menjadi fondasi ajaran Islam. Ia mengingatkan agar esensi zikir dan semaan ini dijadikan sarana untuk mengetuk pintu rahmat Allah, bukan tempat menyombongkan kuantitas ibadah.
Gus Ferry kemudian mengisahkan sebuah hikmah mendalam tentang seorang hamba yang telah beribadah selama 500 tahun, namun tetap membutuhkan kasih sayang Allah untuk bisa melangkah ke surga.
”Sebanyak apa pun ibadah panjenengan, salat panjenengan, zikir panjenengan, siam (puasa), sedekah panjenengan, yang jenengan andalkan bukan ibadah-ibadah itu, tapi yang jenengan harapkan adalah rahmat kasih sayangipun Allah,” tutur Gus Ferry.
Di akhir ceramahnya, Gus Ferry menambahkan bahwa duduk bersama menyimak lantunan 30 juz Al-Qur’an dan mengamalkan Dzikrul Ghofilin adalah modalitas termudah sekaligus paling utama untuk membasuh hati manusia di akhir zaman dengan berkah dan rahmat-Nya.
Perhelatan sakral ini ditutup dengan doa Khatmil Qur’an yang syahdu, meninggalkan kesan keteduhan spiritual yang mendalam bagi seluruh keluarga besar Unisma. (*)





