IDEA JATIM, MALANG – Suasana lapangan SMA Katolik St. Albertus (Dempo) Malang mendadak riuh dan penuh warna pada Sabtu (30/5/2026). Ribuan pasang mata dibuat terpukau oleh kreativitas tanpa batas para siswa dalam gelaran tahunan bergengsi Art Festival Dempo ke-14. Bukan sekadar pentas seni biasa, festival ini menjadi panggung pembuktian kolaborasi apik antara pelestarian budaya Nusantara dan simulasi dunia wirausaha nyata bagi siswa kelas XI tahun ajaran 2025/2026.
Sejak gerbang dibuka pukul 15.00 WIB, energi positif langsung menyelimuti area sekolah. Pengunjung disambut oleh alunan syahdu mini orkestra siswa kelas X di panggung tengah yang membawakan lagu-lagu beraransemen klasik modern.
Tak jauh dari sana, aula bawah disulap menjadi galeri estetis yang memamerkan karya seni rupa dan desain grafis orisinal. Sementara itu, area lapangan futsal, voli, dan kantin berubah menjadi pasar kuliner kreatif yang menggugah selera—buah dari praktik langsung mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU).

Kepala SMA Katolik St. Albertus Malang, Br. Antonius Sumardi, O.Carm, menegaskan bahwa Art Festival Dempo memiliki esensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar hiburan akhir tahun ajaran. ”Kegiatan ini menjadi benteng pelestarian budaya bangsa di tengah arus modernisasi. Pelajaran ini bukan sekadar hiburan melainkan sarana melestarikan identitas nasional, membangun kecerdasan emosional (afektif), kognitif, dan psikomotorik, serta menanamkan nilai-nilai keadaban,” ujar Br. Sumardi.
Beliau menambahkan, festival ini merupakan “ujian hidup” yang sesungguhnya di mana siswa berinteraksi langsung dengan masyarakat, menerima evaluasi objektif dari pengunjung, dan belajar memecahkan masalah secara nyata.
”Kami ingin melatih kerja kelompok, mempertebal pengalaman sosial, melatih untuk bertanggung jawab dan bersikap mandiri, serta melatih untuk membuat suatu perencanaan kerja dan melaksanakan apa yang telah direncanakan,” imbuhnya.
Kemeriahan festival mencapai klimaksnya saat matahari mulai terbenam sekitar pukul 17.00 WIB. Lapangan utama SMA Dempo mendadak hening sebelum akhirnya diguncang oleh pementasan sendratasik (seni drama, tari, dan musik) kolosal berjudul “Tanah Bertuah, Mandau Penjaga”.

Pertunjukan yang memukau ratusan penonton ini mengangkat kisah heroik masyarakat Kalimantan dalam menjaga tanah kelahiran mereka dengan keberanian dan kehormatan.
Menariknya, Br. Sumardi mengungkapkan bahwa pemilihan tema Kalimantan ini tidaklah kebetulan, melainkan memiliki kedekatan filosofis yang kuat dengan nilai utama sekolah.
”Kisah ini menegaskan makna DEMPO—Doa, Egaliter, Melayani, Pekerja Keras, dan Optimis Penuh Harapan—sebagai fondasi kekuatan masyarakat dalam menjaga tanah, cinta, dan masa depan,” pungkasnya.
Melalui kesuksesan gelaran ke-14 ini, Art Festival Dempo membuktikan diri sebagai wadah konsisten bagi generasi muda perkotaan untuk tetap membumi, menghargai warisan leluhur, dan menumbuhkan rasa cinta yang mendalam terhadap Indonesia. (*)





