Teknologi Sonic Bloom: Solusi Inovatif Menuju Swasembada Kedelai Nasional

IDEA JATIM, ​MALANG – Masalah ketergantungan impor kedelai Indonesia yang mencapai 80 persen menjadi perhatian serius bagi dunia akademik. Menanggapi tantangan tersebut, Prof. Dr. Ir. Hj. Istirochah Pujiwati, M.P., Guru Besar dalam Bidang Ilmu Fisiologi Tumbuhan Universitas Islam Malang (Unisma), menawarkan solusi inovatif melalui pemanfaatan teknologi gelombang suara atau Sonic Bloom.

​Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Inovasi Teknologi Sonic Bloom, Upaya Menuju Kemandirian Pangan Kedelai di Indonesia” pada Sabtu (9/5/2026), Prof. Istirochah menekankan pentingnya meningkatkan kemandirian pangan nasional. Ia memaparkan bahwa teknologi Sonic Bloom bekerja dengan merangsang pembukaan lebar stomata (mulut daun) menggunakan gelombang suara frekuensi tertentu, yakni antara 3.500 hingga 5.000 Hz.

​“Sonic bloom adalah teknologi perangsangan pembukaan lebar stomata dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tertentu diikuti dengan pemberian pupuk cair melalui daun,” jelas Prof. Istirochah dalam orasinya. Dengan terbukanya stomata secara maksimal, penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan metode konvensional.

​Hasil riset yang dilakukan Prof. Istirochah selama bertahun-tahun menunjukkan peningkatan produktivitas yang signifikan. Pada varietas kedelai Anjasmoro, penggunaan teknologi ini mampu meningkatkan hasil produksi hingga 70,87 persen, atau mencapai 3,93 ton per hektar. Selain itu, teknologi ini juga terbukti meningkatkan kandungan protein biji kedelai serta ketahanan tanaman terhadap kondisi kekeringan hingga 75 persen kapasitas lapang.

​Meskipun memiliki potensi besar, Prof. Istirochah mengakui adanya sejumlah tantangan dalam pengembangan teknologi ini ke depan. Beberapa di antaranya meliputi standarisasi protokol sonikasi, dampak terhadap organisme non-target seperti serangga polinator, serta aspek investasi ekonomi bagi petani.

​“Penggunaan teknologi sonic bloom sangat berpeluang untuk dikembangkan guna meningkatkan produktivitas tanaman kedelai khususnya, maupun komoditas pertanian lain pada umumnya,” ungkapnya sebagai kesimpulan materi.

Ia menegaskan bahwa kunci keberhasilan swasembada kedelai terletak pada kolaborasi lintas sektor.
​Dalam penutupnya, Prof. Istirochah menyerukan perlunya kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan petani. “Perlu kiranya adanya kolaborasi positif antara peneliti, akademisi, pemerintah dan petani untuk mewujudkan mimpi bahwa Indonesia bisa swasembada kedelai,” tegasnya. Dukungan regulasi pemerintah dalam mengatur harga di tingkat petani serta pembatasan impor dinilai krusial agar hasil penelitian ini dapat diimplementasikan secara luas di lahan marginal Indonesia. (*)

Berita Terkini

Tingkatkan Kesiapsiagaan, BPBD Kota Batu Gelar Disaster Forum Akademi (DiFA) 2026

IDEA JATIM, BATU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)...

Gali Potensi Seni Sejak Dini, Disdik Kota Batu Resmi Buka FLS3N SD 2026

IDEA JATIM, BATU — Gema kreativitas memenuhi lingkungan SD...

Perkuat Benteng Pencegahan, Polres Batu Edukasi Warga Bumiaji Lawan Narkoba

IDEA JATIM, BATU — Komitmen untuk membersihkan wilayah Kota...
spot_img
Berita Terkait