IDEA JATIM, MALANG – SABTU lalu, Balai Pertiwi Universitas Ma Chung berubah jadi saksi. Bukan saksi ujian skripsi yang kaku. Bukan pula seminar ekonomi yang dahi berkerut.
Ini soal hati. Soal lidah yang fasih melafalkan kalam Ilahi.
Ada 114 siswa SMP Insan Amanah Malang di sana. Mereka sedang menempuh “ujian nyali” yang sebenarnya: Khotmul Qur’an dan Imtihan Akbar III.
Saya menyebutnya ujian nyali karena ini uji publik. Terbuka. Disaksikan orang tua yang matanya berkaca-kaca.
Diuji langsung oleh ahlinya: M. Chafidz, LC dari Ummi Malang.
Bayangkan. Anak usia belasan tahun berdiri di panggung. Lalu, penguji melempar potongan ayat. Secara acak. Si anak harus menyambungnya. Detik itu juga. Tanpa salah tajwid. Tanpa ragu makhraj.
Hasilnya? Lulus semua.
Ada yang ambil kategori Tartil. Ada Tahfidz Juz 30, 29, 28, hingga Juz 1 dan 2.
Luar biasa.
Kepala SMP Insan Amanah, Sri Endah Pujiningrum, S.Si., sampai tidak bisa menyembunyikan binar matanya. Bagi Endah, ini bukan sekadar kelulusan rutin. Ini prestasi puncak.
”Kalian sudah mencapai prestasi membanggakan di sekolah ini,” ujar Endah.
Suaranya mantap, tapi ada nada haru di sana.
Endah tahu persis betapa berat perjuangan siswanya. Zaman sekarang, godaan remaja itu luar biasa. Ada gadget. Ada game. Ada tugas sekolah yang menumpuk. Belum lagi kegiatan non-akademik dan vokasi.
Kurikulum sekolah itu padat. Sangat padat. Tapi 114 anak ini bisa membagi waktu. Mereka tetap menjaga interaksi dengan Al-Qur’an di tengah kepungan tugas matematika atau bahasa Inggris.
”Anak-anak ini mampu mengatur waktu dengan baik sehingga mereka berhasil melampaui semuanya,” tambah Endah.
Itulah kuncinya: manajemen waktu. Dan disiplin.
Metode Ummi yang digunakan sekolah memang dikenal ketat. Tidak ada istilah “lulus kasihan”. Semua harus lewat munaqosah yang terstandar. Jika tidak fasih, ya tidak lulus. Tapi Sabtu itu, Balai Pertiwi penuh dengan senyum kemenangan.
Data sekolah menunjukkan tren menarik. Tahun ini jumlah peserta naik. Ada 39 anak di kelas Tartil, 38 anak di Juz 30, dan 28 anak di Juz 28. Ini sinyal bagus. Literasi Al-Qur’an di SMP Insan Amanah sedang tumbuh subur.
Namun, Endah tidak ingin siswanya cepat puas. Baginya, imtihan ini hanyalah gerbang. Bukan tujuan akhir.
”Jangan berhenti di sini. Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup selamanya,” pesan Endah kepada para wisudawan.
Puncaknya adalah saat sesi pelukan. Mendekap erat anak-anak mereka. Di sana, Al-Qur’an bukan lagi sekadar hafalan di kepala, tapi sudah meresap ke dalam rasa.
SMP Insan Amanah sudah membuktikan satu hal: menjadi pintar secara akademik itu wajib, tapi memiliki kedalaman spiritual itu mutlak.
Mereka tidak hanya mencetak lulusan yang siap kerja atau siap lanjut SMA favorit. Mereka sedang menyiapkan penjaga ayat-ayat Allah untuk masa depan.
Balai Pertiwi hari itu memang riuh. Tapi riuh yang suci. Riuh yang membawa harapan bahwa masa depan bangsa ini masih punya cahaya. Cahaya dari anak-anak yang lidahnya basah oleh Al-Qur’an.
Hebat!





