IDEA JATIM, MALANG – Pertanian berkelanjutan kini bukan lagi sekadar konsep ramah lingkungan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan ketahanan pangan masa depan. Hal ini ditegaskan oleh Prof. Dr. Dwi Susilowati, S.P., M.P., dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besarnya di Universitas Islam Malang (UNISMA), Sabtu (9/5/2026). Ia memaparkan urgensi “Inovasi Model Partisipatoris Kolaborasi Agribisnis Hulu-Hilir Berbasis Sekolah Lapang” sebagai solusi strategis bagi tantangan agribisnis modern.
Dalam kesimpulan orasinya, Prof. Dwi menekankan bahwa keberhasilan pertanian berkelanjutan sangat bergantung pada kekuatan kolaborasi di seluruh rantai nilai. Kolaborasi ini tidak boleh terbatas pada satu lini saja, melainkan harus mengintegrasikan seluruh aktor, mulai dari pemasok bahan baku di sektor hulu hingga distributor produk akhir di sektor hilir.
Model yang ia kembangkan menunjukkan bahwa kolaborasi bertindak sebagai variabel mediasi kunci yang menghubungkan aktivitas agribisnis dengan pencapaian kinerja keberlanjutan yang nyata.
”Pertanian berkelanjutan dapat dicapai secara optimal dengan mendorong kolaborasi yang efektif di seluruh rantai nilai agribisnis,” ujar Prof. Dwi dalam paparan penutupnya.
Indikator keberhasilan dari model ini dapat diukur melalui empat dimensi utama: sosial, ekonomi, lingkungan, dan efisiensi rantai pasok. Integrasi ini sangat krusial, mengingat selama ini aspek ekonomi seringkali mendominasi, sementara aspek lingkungan dan sosial cenderung terabaikan dalam operasional agribisnis.
Lebih lanjut, orasi tersebut menyoroti bahwa para pelaku agribisnis perlu meningkatkan komitmen, komunikasi, dan kepercayaan timbal balik untuk menghadapi arus globalisasi. Di tengah tuntutan pasar yang semakin tinggi terhadap kualitas dan tanggung jawab lingkungan, inovasi teknologi seperti sistem manajemen modern dan teknologi pangan berkelanjutan harus segera diadopsi secara kolaboratif.
Prof. Dwi merekomendasikan agar pemerintah mengambil peran aktif dengan merancang kebijakan dan regulasi yang mendukung kemitraan kolaboratif ini. Salah satu instrumen yang diusulkan adalah penguatan program Sekolah Lapang, khususnya yang berkaitan dengan pertanian organik, untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di tingkat akar rumput.
Model inovasi ini diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi teoritis pada manajemen rantai pasok, tetapi juga menjadi panduan praktis untuk memastikan keberlanjutan usaha individu sekaligus memperkuat ketahanan sistem agro-pangan nasional secara keseluruhan di masa depan. (*)





