IDEA JATIM, MALANG – Tantangan dunia pendidikan di era digital dan kecerdasan buatan (AI) kian kompleks. Menanggapi fenomena ini, pakar komunikasi Santi Djiwandono menekankan bahwa guru masa kini tidak boleh lagi sekadar mengandalkan kemampuan kognitif. Kunci utama agar guru tetap relevan dan tak tergantikan oleh teknologi adalah mumpuni dalam keterampilan komunikasi yang memanusiakan manusia.
Hal tersebut disampaikannya di sela-sela agenda Hangout & Learn Guru dan Tendik SMPK Kolese Santo Yusup 2 Malang, Senin (8/6/2026) hari ini, di Kafe Laluna Space. Menurut Santi, esensi dari kompetensi guru saat ini adalah kemampuan untuk membangun komunikasi dua arah atau komunikasi dialogis.
Di era di mana gawai dan interaksi online mendominasi, tantangan guru semakin berat karena lahirnya Generasi Z dan Generasi Alfa yang cenderung apatis terhadap lingkungan sekitar. Substitusi teknologi yang begitu besar dinilai perlahan mengikis keterampilan relasi antarmanusia yang orisinil dan hangat. “Guru harus mengembalikan lagi keterampilan relasi antarmanusia yang orisinil, yang unik, yang dekat, dengan cara keterampilan komunikasi yang membangun dialog itu,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa guru masa kini harus memiliki kecakapan untuk menciptakan “ruang aman” bagi siswa. Guru harus bisa menciptakan ruang di mana orang lain merasa nyaman dan aman untuk menyampaikan semua yang harus disampaikan. Menurutnya, hal ini penting dilakukan sehingga tidak ada informasi yang tersembunyi karena intimidasi atau karena komunikasi yang keliru, yang akhirnya membuat percakapan itu terhenti.
Meskipun prinsip dasar komunikasi sebenarnya tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang, hilangnya keterampilan ini akibat substitusi teknologi membuat guru harus belajar memunculkannya kembali. Santi menyebutkan ada tiga aspek penting yang saling berkaitan, yaitu pemilihan kata, kemampuan mendengarkan, dan bobot intelektual dalam percakapan itu sendiri.
Guru perlu memilih kata-kata yang sedemikian rupa sehingga orang lain akhirnya mau memberikan perhatian. Selain itu, guru juga harus melatih keterampilan mendengarkan yang dinilai tidak mudah serta membutuhkan ketelatenan dan teknik khusus agar tidak semua orang sekadar bicara. “Percakapan itu ternyata ada intelektualnya, jadi bercakap-cakap itu ternyata juga butuh keterampilan dan inteligensi,” tambahnya.
Saat ditanya mengenai kondisi riil para pendidik saat ini, Santi menyebutkan bahwa kemampuan komunikasi guru sangat bergantung pada budaya yang dibangun oleh sekolah masing-masing, terutama apakah komunikasi dialogis menjadi prioritas atau justru terjebak pada pola satu arah. Ia menyayangkan jika masih ada ekosistem sekolah yang berkomunikasi seadanya.
“Komunikasinya ala kadarnyalah, jalan aja yang penting pekerjaan kelar. Nah, budaya itu yang harus ditanamkan kembali dalam sekolah,” tegasnya mengenai pentingnya beralih dari komunikasi top-down ke komunikasi tatap muka yang dialogis.
Di akhir wawancara, Santi mengingatkan keterkaitan yang sangat erat antara kemampuan komunikasi dan perkembangan kognitif anak. Jika kemampuan kognitif anak tidak dibarengi dengan soft skill yang empatik dan hangat, anak-anak hanya akan tumbuh menjadi ‘robot’ yang di masa depan justru paling rentan digantikan oleh teknologi. “Di zaman AI, orang-orang yang hanya kognitif itulah yang akan diserap oleh AI. Mereka yang punya otak kanan, punya keterampilan yang empatik, memanusiakan manusia, itu susah digerus oleh AI. Karena keunikan manusia itu yang menjadi prioritas sebenarnya dalam komunikasi,” pungkasnya. (*)





