IDEA JATIM, MALANG – Sabtu kemarin, 6 Juni 2026, atmosfer di SMPK Kolese Santo Yusup (Kosayu) 2 Malang agak beda. Ada haru. Ada bangga. Campur aduk.
Hari itu adalah hari pelepasan. Serah terima lulusan tahun ajaran 2025-2026.
Bagi anak-anak kelas IX, ini bukan akhir. Ini baru gerbang pertama. Pintu pembuka menuju rimba masa depan yang lebih luas.
Saya tertarik dengan pidato Drs. Lindung Ratwiawan. Beliau Pengurus Yayasan Pendidikan Kolese Santo Yusup. Pidatonya renyah, tapi isinya berbobot. Pak Lindung tidak mau jemawa. Dia langsung menegaskan: kelulusan ini bukan sukses instan. Ini buah dari napas panjang. Pengorbanan bersama.
Yayasan sadar betul. Mendidik anak zaman sekarang tidak mudah. Maka, ucapan terima kasih pertama justru dialamatkan kepada para orang tua.
”Kepercayaan itu amanah berharga bagi kami,” ujar Pak Lindung.
Kalimatnya mantap. Intinya, yayasan berjanji menjaga mutu pendidikan, karakter, dan nilai kemanusiaan yang berlandaskan iman.
Lalu, ada satu teori penting yang dia lemparkan siang itu: Sinergi Tiga Pilar.
Apa itu? Kerja sama segitiga emas antara sekolah, keluarga, dan yayasan.
Pendidikan yang merata dan optimal tidak akan pernah lahir kalau salah satu pilarnya goyah. Sekolah hebat tapi orang tua cuek? Ambruk. Orang tua peduli tapi yayasan ogah-ogahan? Selesai.
Di Kosayu 2, tiga pilar itu tampaknya menyatu kokoh.
Kepada para alumni baru, Pak Lindung menitipkan pesan pendek yang menancap: “Jangan cepat puas. Terus belajar, berani bermimpi besar, tapi tetap rendah hati.”
Sederhana, tapi berat melaksanakannya.
Kepala Sekolahnya, Theofilda Wulan Dwiningsih, S.Pd –biasa dipanggil Bu Filda– tak kalah bersemangat. Perempuan ini tahu betul bagaimana cara membakar motivasi.
Dia berdiri di depan. Memandang wajah-wajah muda yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah itu.
Bu Filda langsung memberikan hormat setinggi-tingginya kepada para guru, staf, dan orang tua. Mereka-mereka inilah yang berada di balik layar. Yang menyeka keringat dan air mata anak-anak selama tiga tahun terakhir.
Lalu, Bu Filda mengucapkan satu kalimat yang rasanya layak dikutip di buku harian para lulusan:
”Jangan pernah berhenti belajar, karena hidup tidak pernah berhenti memberikan pelajaran.”
Kalimat itu puitis, tapi realistis. Dunia di luar sana berubah begitu cepat. Siapa yang berhenti belajar, dia akan digilas zaman. Bu Filda ingin anak-anak Kosayu 2 menjadi petarung yang bersinar di mana pun mereka berada.
Acara pun ditutup dengan pekikan khas yang membakar ruangan: “Selamat, kami bangga pada kalian. Terima kasih, dan tetap bersemangat!”
Masa depan memang penuh teka-teki. Tapi kalau bekal karakternya sudah kuat sejak dari Kosayu 2 Malang, rasanya kita tidak perlu cemas berlebihan pada masa depan anak-anak ini.
Mereka sudah siap terbang. (*)





