IDEA JATIM, MALANG – Pendidikan pascasarjana seringkali dipersepsikan sebagai tumpukan teori dan riset yang kaku di dalam laboratorium atau perpustakaan. Namun, Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Malang (SPs UM) mencoba mendobrak stigma tersebut. Melalui kolaborasi teranyar dengan Universiti Sains Malaysia (USM), SPs UM sedang merajut jalan bagi para mahasiswanya untuk menjadi pemain utama di panggung akademik dunia.
Langkah ini bukan sekadar urusan administratif antar-universitas. Di balik tajuk Guest Lecture “Empowering Future Leaders Through SDGs Awareness and Global Mobility” yang digelar di Aula Lantai 9 Gedung A20 (6/5), tersimpan ambisi besar: mencetak pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga fasih dalam pergaulan global.
Direktur SPs UM, Prof. Dr. Syamsul Bachri, S.Si, M.Sc., memandang bahwa di era sekarang, isolasi akademik adalah kemunduran. Mahasiswa harus dipaksa untuk keluar dari zona nyaman mereka.
”Kami ingin mahasiswa tidak hanya melihat dinding kampus. Kolaborasi ini adalah jembatan agar mereka memiliki kacamata global. Kita berbicara tentang SDGs, dan itu adalah bahasa dunia yang harus dikuasai oleh calon pemimpin dari UM,” tutur Prof. Syamsul dengan nada optimis.
Suasana di aula semakin hidup ketika Sr Dr. Muneera Esa dari USM naik ke podium. Ia tidak bicara soal angka-angka rumit, melainkan soal keberanian. Baginya, mobilitas global—baik melalui pertukaran pelajar maupun riset kolaboratif—adalah sebuah petualangan yang akan mengubah cara seseorang berpikir selamanya.
”Jangan takut untuk melintasi batas negara. Melalui global mobility, kalian sedang membangun jejaring yang mungkin sepuluh tahun lagi akan menjadi tiket emas bagi karier internasional kalian. Riset bukan lagi soal apa yang kalian temukan sendiri, tapi soal bagaimana kalian berkolaborasi,” pesan Dr. Muneera di hadapan 150 peserta yang menyimak dengan antusias.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Zul Zakiyuddin Ahmad Rashid dari USM mengingatkan bahwa status “pemimpin” membawa tanggung jawab besar terhadap bumi. Riset-riset masa depan harus memiliki napas keberlanjutan (SDGs).
”Kampus adalah tempat di mana kepedulian terhadap masa depan bumi dimulai. Jika mahasiswa pascasarjana hari ini tidak peduli pada isu SDGs, maka kita sedang menyiapkan masa depan yang rapuh,” tegas Dr. Zul Zakiyuddin.
Ulasan ini memperlihatkan bahwa bagi SPs UM, kerja sama dengan USM adalah bagian dari transformasi identitas. Dari kampus yang berfokus pada keunggulan lokal, menuju institusi yang suaranya terdengar hingga ke mancanegara. Sebuah undangan bagi seluruh civitas akademika untuk berani bermimpi, meneliti, dan berkontribusi secara global. (*)





