Catatan Kecil
Oleh: Ernaz Siswanto, M.Pd.
Kepala SD Negeri Tulungrejo 03, Desa Sumberbrantas, Kota Batu
“Anak-anak, paham?”
“Pahaaaaam…!”
Jawabannya kompak. Serempak. Begitu meyakinkan. Saya masih ingat betul peristiwa itu. Saat itu saya masih mengajar kelas V SD. Mendengar jawaban siswa yang mantap, saya merasa tenang. Materi hari itu berarti selesai. Saya merasa berhasil mengajar. Namun beberapa menit kemudian, keyakinan itu runtuh.
Saya menunjuk seorang siswa. Sebut saja namanya Lala.
“Lala, coba kerjakan nomor lima di papan tulis.”
Lala maju perlahan. Ia berdiri di depan papan putih dengan spidol di tangan. Tetapi tidak ada yang ditulis. Tangannya diam. Matanya kosong. Teman-temannya yang tadi berteriak “paham” pun mendadak sunyi.
Saat itulah saya tersadar: saya sedang terjebak dalam pseudo teaching, pembelajaran semu. Kelihatannya mengajar. Kelihatannya belajar. Namun sebenarnya tidak ada pemahaman yang benar-benar tertinggal di kepala siswa. Fenomena ini mungkin lebih sering terjadi daripada yang kita sadari.
Di banyak ruang kelas, guru sibuk mengejar target kurikulum. Bab harus selesai. Materi harus habis. Waktu belajar harus efektif. Akhirnya, pembelajaran sering berubah menjadi aktivitas administratif belaka.
LKS atau sekarang lebih akrab disebut LKPD, kerap menjadi “jalan pintas”. Materi diringkas, siswa mengisi titik-titik, lalu pembelajaran dianggap selesai. Anak-anak tampak aktif, padahal sesungguhnya mereka hanya memindahkan kata dari buku ke lembar tugas. Tidak ada proses berpikir yang mendalam. Tidak ada dialog dengan pengetahuan.
Kita sering lupa bahwa tujuan utama belajar bukanlah menuntaskan halaman demi halaman, melainkan membangun pemahaman. Dari refleksi saya sebagai guru, persoalan terbesar di kelas sering kali bukan karena siswa tidak mampu belajar, tetapi karena kita terlalu sibuk menghabiskan waktu daripada membantu mereka memahami cara belajar.
Di sinilah pentingnya metakognisi. Metakognisi sederhananya adalah kesadaran siswa terhadap proses berpikirnya sendiri. Siswa tidak hanya belajar materi, tetapi juga memahami bagaimana dirinya belajar. Mereka tahu kapan mulai bingung, kapan mulai paham, dan strategi apa yang membantu mereka memahami pelajaran. Sayangnya, keterampilan ini jarang benar-benar dilatih di sekolah.
Padahal, ada banyak strategi sederhana yang bisa digunakan guru. Salah satunya adalah strategi PQ4R: Preview, Question, Read, Reflect, Recite, dan Review. Strategi ini mengajak siswa meninjau materi terlebih dahulu, membuat pertanyaan, membaca, merenungkan, mengungkapkan kembali dengan kata-kata sendiri, lalu meninjau ulang pemahaman mereka.
Strategi ini saya temukan ketika membaca berbagai jurnal pendidikan online. Penelitian di Universitas Lampung pada tahun 2024 menunjukkan bahwa strategi ini mampu meningkatkan keterampilan metakognitif siswa secara signifikan. Siswa menjadi lebih sadar terhadap proses belajar mereka sendiri.
Strategi lain yang sederhana namun efektif adalah Diagram KWL Know, Want to Know, dan Learned. Guru cukup membuat tiga kolom sederhana: apa yang sudah diketahui siswa, apa yang ingin mereka ketahui, dan apa yang akhirnya mereka pelajari. Metode ini terasa dekat dengan praktik pembelajaran yang pernah kami pelajari dalam Program Guru Penggerak. Sederhana, tetapi sangat membantu siswa memiliki arah berpikir sebelum membaca atau berdiskusi. Mereka tidak lagi belajar secara pasif, melainkan belajar dengan tujuan.
Selain itu, guru juga dapat membiasakan siswa menulis jurnal belajar di akhir pelajaran. Tidak perlu panjang. Cukup dua atau tiga kalimat.
Misalnya:
“Hal yang paling saya pahami hari ini adalah…”
“Bagian yang masih membuat saya bingung adalah…”
Refleksi kecil seperti ini sangat penting karena membantu siswa mengenali proses berpikirnya sendiri. Mereka belajar menyadari titik lemah dan kekuatan dalam memahami pelajaran. Sebab ukuran pemahaman sejati bukanlah seberapa banyak siswa mampu menghafal, tetapi seberapa jauh mereka mampu menjelaskan kembali dengan bahasa mereka sendiri.
Begitulah, sekarang saya mendapatkan amanah sebagai pimpinan pembelajaran di sekolah atas awan, Sumberbrantas Kota Batu. Saya melihat perubahan ini sebenarnya tidak memerlukan revolusi besar dalam pendidikan. Kita tidak harus mengganti kurikulum secara total. Yang lebih penting adalah mengubah budaya belajar di kelas. Guru perlu mulai menggunakan “bahasa metakognitif” dalam pembelajaran.
Sebelum belajar, tanyakan:
“Apa target belajarmu hari ini?”
Di tengah pembelajaran, pancing dengan pertanyaan:
“Bagian mana yang mulai membuatmu bingung?”
Dan di akhir pelajaran, ajak mereka merefleksikan:
“Apa yang perlu kita pelajari lagi besok?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu perlahan membangun kesadaran belajar pada diri siswa.
Pendidikan kita sesungguhnya tidak kekurangan materi. Yang sering kurang adalah kedalaman.
Jangan sampai ada lagi “Lala-Lala” lain yang berdiri mematung di depan papan tulis hanya karena kita terlalu sibuk mengejar habisnya halaman buku. Sebab belajar sejatinya bukan tentang seberapa banyak materi yang selesai dibaca, melainkan seberapa banyak yang benar-benar dipahami. Dan lebih dari itu, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membuat anak mengerti bagaimana cara terus belajar sepanjang hidupnya.
Allahu Musta’an (Hanya kepada Allah sebaik baik tempat memohon pertolongan)
Kauman, Kota Batu, Ahad 10 Mei 2026 06:49





