IDEA JATIM, MALANG – Selasa kemarin, MTs Negeri 1 Kota Malang berubah menjadi putih. Total.
Ada 817 anak di sana. Semua memakai pakaian ihram. Kain putih tanpa jahitan itu melilit tubuh-tubuh muda siswa kelas 7 dan 8.
Lalu terdengar suara itu. Sayup-sayup, lalu kompak menggema:
Labbaykallahumma labbayk…
Mereka tidak sedang di Makkah. Belum. Mereka sedang latihan. Manasik haji. Ini agenda tahunan yang paling ditunggu di sana. Sekaligus pembuka rangkaian Idul Adha 1447 Hijriah.
Mengapa harus seheboh itu?
Kan bisa diajarkan di dalam kelas? Lewat papan tulis? Atau proyektor?
Itulah bedanya. Madrasah ini ingin experiential learning. Belajar dari pengalaman langsung. Teori di buku sering kali masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Tapi kalau tubuh sudah bergerak, kaki sudah melangkah dari pos ke pos, rasanya beda. Ada getaran batin yang tertinggal.
Tahun ini ada yang baru. Agar anak-anak tidak loyo, manasik ini dilombakan. Antar-kelas.
Maka, suasana pun berubah jadi kompetisi yang seru. Ada tim juri di setiap pos. Yang dinilai banyak: kekompakan, kesempurnaan gerakan, sampai kefasihan melafalkan doa.
Anak-anak pun tidak ada yang main-main. Semua serius. Semua ingin menang.
”Kami lombakan per angkatan. Biar anak-anak motivasinya tinggi,” ujar Lailatul Chusniah, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan.
Persiapannya ternyata tidak main-main. Bukan sistem kebut semalam. Jauh-jauh hari materi sudah diberikan di jam kokurikuler. Simulasi demi simulasi dilakukan. Guru dan karyawan ikut lembur jadi pendamping.
Hasilnya? Miniatur rukun haji tersaji detail sekali. Mulai dari wukuf di Arafah, tawaf memutari Kakbah, sai, tahalul, sampai melempar tiga jumrah: Ula, Wusta, dan Akabah.
Tapi, ada satu pemandangan yang membuat saya kagum. Ini terjadi saat prosesi wukuf kelas 8.
Biasanya, siapa yang menjadi khatib wukuf? Pasti guru. Atau mengundang ustaz kondang dari luar.
Di MTsN 1 Malang tidak begitu. Yang berdiri di mimbar, yang menyampaikan khotbah, adalah siswa sendiri. Anak usia belasan tahun.
Dan pidatonya? Mantap. Orasinya berbobot.
Dari mana keberanian itu muncul?
Ternyata itu buah dari kultur yang panjang. Madrasah ini punya program berkelanjutan. Salah satunya: Ramadan On The Road. Di program itu, anak-anak memang dilatih mentalnya untuk berdakwah langsung di tengah masyarakat. Jadi, begitu diminta khotbah di depan ratusan temannya, mereka sudah tidak demam panggung lagi.
”Anak-anak sendiri yang khotbah. Kami memang melatih mereka sejak dini,” tambah Bu Lailatul, bangga.
Manasik haji massal ini baru babak pertama. Masih ada babak berikutnya. Tanggal 28 Mei 2026 nanti, madrasah akan menggelar penyembelihan hewan kurban.
Lalu ditutup dengan aksi sosial yang konkret: Baksos Idul Adha. Madrasah tidak mau menikmati daging kurban sendirian. Mereka akan mengirimkan satu ekor sapi ke daerah terpencil. Daerah yang minim pelaksana kurban. Sapi itu dikirim ke sana, disembelih di sana, dan dibagikan untuk warga setempat. Berbagi yang riil.
Lewat manasik ini, rukun Islam kelima bukan lagi sekadar hafalan untuk mengejar nilai rapor. Madrasah ingin menanamkan rukun Islam itu ke dalam kapal sel otak anak-anak. Menjadi doa. Menjadi cita-cita yang hidup.
”Harapannya, karena sudah praktik sejak dini, suatu saat nanti anak-anak kita ini benar-benar bisa menginjakkan kaki ke Tanah Suci yang asli,” harap Bu Lailatul.
Saya membayangkan, sepuluh atau dua puluh tahun lagi, salah satu dari 817 anak itu akan berdiri di depan Kakbah yang asli. Lalu mereka akan mengenang hari Selasa yang putih itu: hari ketika mereka pertama kali belajar mencintai Makkah di halaman madrasah mereka di Malang. (*)





