IDEA JATIM, MALANG – Saya harus geleng-geleng kepala membaca data ini. Angkanya bikin silau: 2.791 prestasi.
Anda tidak salah baca. Dua ribu tujuh ratus sembilan puluh satu!
Itu bukan total prestasi seluruh sekolah se-Kota Malang. Itu adalah koleksi piala. dan medali yang dikumpulkan oleh siswa-siswi MAN 2 Kota Malang. Sebagian diantaranya, diukir oleh angkatan yang hari Rabu ini diwisuda.
Kepala Madrasah, Dr. H. Samsudin, M.Pd., sampai hafal periodenya. Sejak Juli 2023 hingga Mei 2026. Selama tiga tahun anak-anak itu belajar, mereka seperti tidak punya waktu untuk kalah. Saban hari ada saja piala yang dibawa pulang.
Rabu hari ini, 481 siswa kelas 12 dari madrasah di Jalan Bandung itu akan dikukuhkan sebagai lulusan. Ada dari program IPA, IPS, Bahasa, sampai Keagamaan. Wajah mereka sumringah.
Masa depan seperti sudah antre di depan pintu gerbang madrasah.
Tahun lalu, angka kelulusan ke perguruan tinggi di MAN 2 mencapai 98,6 persen. Kecil sekali yang tersisa. Itu pun hanya karena memilih gap year—menunda kuliah setahun demi mengincar kampus yang lebih bergengsi.
Tahun ini? Dr. Samsudin pasang target lebih gila: harus 100 persen!
Modalnya sudah ada. Saat prosesi wisuda digelar hari ini, 81 siswa sudah mengantongi tiket masuk perguruan tinggi tanpa tes. Jalur SNBP. Jalur prestasi. Angka ini dipastikan meledak lagi begitu jalur UTBK-SNBT dan ujian mandiri diumumkan.
Tapi, yang membuat saya lebih tertarik bukan hanya soal serbuan mereka ke kampus-kampus top di dalam negeri. Melainkan sayap mereka yang mulai mengepak ke luar negeri.
Ada 17 siswa yang tahun ini sudah memegang Letter of Acceptance (LoA). Surat sakti tanda diterima di universitas global. Lima di antaranya berangkat dengan beasiswa penuh.
Ada yang ke Monash University lewat jalur Study Grant. Ada yang menembus Hong Kong University of Science and Technology. Ada pula yang mendapat Outstanding International Student Award dari The University of British Columbia di Kanada.
Bagaimana madrasah tingkat aliyah bisa se-global itu?
Ternyata ada kuncinya. Namanya program MADU MANJA. Singkatan dari MAN 2 Kota Malang Menjelajah Dunia. Kreatif sekali yang bikin nama.
Lewat program ini, sejak dini siswa tidak boleh kuper. Mereka dipaksa melihat dunia. Caranya lewat teleconference rutin dengan lembaga internasional atau langsung menerbangkan siswa dalam program kunjungan ke luar negeri. Mental global itu dibentuk, bukan mendadak jatuh dari langit.
Ada lagi gebrakan baru tahun ini. Khusus untuk program keagamaan.
Biasanya, kalau ada alumni yang mau kuliah ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, mereka harus berjuang sendirian. Kasihan. Cari informasi sendiri, daftar sendiri.
Tahun ini beda. Madrasah dan Komite Madrasah turun tangan langsung secara kelembagaan. “Kami bergerak bersama tim pengelola program keagamaan untuk kembali membuka jalur ke Timur Tengah,” ujar Dr. Gunawan, S.Ag., M.A. Beliau ini Plt Waka Humas sekaligus Waka Sarpras.
Hasilnya? Tiga siswa terbaik program keagamaan langsung melenggang ke Kairo. Tanpa ribet. Sebelumnya, MAN 2 juga sudah punya jalur tol ke Sudan. Ke depan, negara Timur Tengah lainnya akan disasar.
Semua lompatan global ini ternyata punya jangkar. Dan menjadi tema pada acara kelulusan ini : Roots in the Values, Growing for the World. Berakar pada nilai, tumbuh untuk dunia.
”Akar mereka adalah karakter akhlakul karimah dan spiritual keislaman. Kalau akarnya kuat, dilepas ke belahan dunia mana pun, mereka akan tumbuh mewarnai dunia,” tambah Gunawan.
Saya setuju. Anak-anak madrasah hari ini tidak boleh lagi dicap hanya pintar mengaji. Mereka harus bisa mengaji, sekaligus menaklukkan teknologi dan sains di panggung dunia.
Selamat untuk para lulusan MAN 2 Kota Malang. Luruskan niat belajar bagi yang sudah diterima. Bagi yang masih berjuang via jalur tes, tetaplah berprasangka baik pada Tuhan. Jalan sukses tidak pernah hanya satu. (*)





