IDEAJATIM.ID, Malang – Candi Sumberawan di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, tidak hanya menjadi peninggalan sejarah bercorak Buddha, tetapi juga menyimpan nilai budaya, tradisi, serta sumber mata air yang masih dijaga kelestariannya hingga kini. Situs cagar budaya ini terus menarik perhatian peneliti, arkeolog, wisatawan, hingga umat beragama yang datang untuk beribadah maupun melakukan meditasi.
Menurut, Ahmad Akmal Basyar, menjelaskan bahwa kawasan tersebut memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan Kerajaan Majapahit. Dahulu, kawasan ini dikenal dengan nama Kasurangganan atau Taman Bidadari, sebagaimana tertulis dalam kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Kawasan tersebut juga dipercaya pernah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada tahun 1359 ketika melakukan perjalanan ke berbagai wilayah kekuasaan Majapahit. Berdasarkan kajian para ahli, bangunan Candi Sumberawan diperkirakan didirikan sekitar abad ke-14.
Nama Sumberawan berasal dari dua kata, yakni sumber yang berarti mata air dan rawan atau rawa yang berarti telaga. Penamaan tersebut menggambarkan kondisi kawasan candi yang pada masa lalu dikelilingi oleh telaga yang terbentuk dari beberapa sumber mata air di sekitarnya.
Keberadaan Candi Sumberawan mulai dikenal masyarakat setelah ditemukan sekitar tahun 1904 dalam kondisi rusak dan tertutup akar-akar pepohonan. Penelitian arkeologi kemudian dilakukan pada tahun 1934 hingga 1937. Dari penelitian tersebut tidak ditemukan rongga ataupun ruang di dalam tubuh stupa maupun pada bagian fondasi candi. Karena itu, para ahli menyimpulkan bahwa Candi Sumberawan bukan merupakan tempat pendharmaan raja, melainkan berfungsi sebagai tempat pemujaan umat Buddha pada masa lampau.
Seiring berjalannya waktu, kawasan Candi Sumberawan mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah. Situs ini ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2010 dan kemudian memperoleh status Cagar Budaya Peringkat Provinsi pada tahun 2013. Sejak saat itu, jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat, baik dari kalangan akademisi maupun masyarakat umum.
Selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, kawasan Candi Sumberawan juga menyimpan cerita rakyat yang masih dipercaya masyarakat hingga sekarang. Di kawasan tersebut terdapat dua mata air yang disakralkan, yaitu Sendang Kamulyan dan Sendang Kahuripan. Sendang Kamulyan dipercaya sebagai tempat pemandian putri kerajaan pada masa lampau, sedangkan Sendang Kahuripan dikenal sebagai “air kehidupan”.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, seekor babi hutan yang terluka akibat tembakan pada masa penjajahan Belanda pernah masuk ke sendang tersebut dan keluar dalam keadaan sembuh.
Tradisi masyarakat di kawasan Sumberawan juga masih berlangsung hingga kini. Setiap bulan Suro, masyarakat menggelar ritual Selametan Banyu sebagai bentuk rasa syukur atas keberadaan sumber mata air yang menjadi penopang kehidupan.
Prosesi diawali dengan berkumpul di rumah kepala dusun menggunakan pakaian adat, kemudian berjalan kaki menuju kawasan Candi Sumberawan untuk melaksanakan doa bersama.
Bagi sebagian masyarakat, khususnya penganut Islam Kejawen, kawasan Sumberawan dipandang sebagai tempat yang sakral dan dipercaya membawa keberkahan maupun kesembuhan.
Di sisi lain, Candi Sumberawan juga masih dimanfaatkan umat Buddha sebagai tempat beribadah, terutama saat perayaan Hari Raya Waisak. Selain untuk beribadah, kawasan ini kerap dijadikan lokasi penelitian sejarah, arkeologi, serta meditasi.
Mayoritas pengunjung yang datang merupakan peneliti, sejarawan, arkeolog, hingga wisatawan yang ingin mempelajari sejarah Kerajaan Majapahit dan peninggalan Buddha di Jawa Timur.
Tidak sedikit pula pengunjung dari berbagai latar belakang kepercayaan yang datang untuk mengambil air dari mata air di kawasan tersebut sebagai bagian dari kebutuhan ritual keagamaan.
Saat ini, pengelolaan Candi Sumberawan berada di bawah Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).
Masyarakat tidak terlibat secara langsung dalam pengelolaan situs, namun tetap dilibatkan dalam berbagai kegiatan kolaboratif yang berkaitan dengan pelestarian budaya dan penyelenggaraan kegiatan di kawasan cagar budaya tersebut.
Pelestarian sumber mata air juga menjadi perhatian utama. Selain dimanfaatkan untuk kegiatan ritual, air di kawasan Sumberawan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat melalui sistem pipanisasi yang dikelola oleh masing-masing RT. Pengawasan terhadap sistem tersebut dilakukan secara berkala sebanyak dua kali dalam sebulan.
Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan, air di kawasan ini memiliki tingkat keasaman (pH) sebesar 7,7, sehingga tergolong dalam kondisi yang baik.
Keberadaan Candi Sumberawan juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan membuka peluang bagi warga untuk membuka usaha dan berjualan di sekitar kawasan wisata.
“Harapan kami, semakin banyak masyarakat mengenal Candi Sumberawan melalui media digital. Kami juga membuka peluang kolaborasi dengan mahasiswa agar potensi sejarah dan budaya di sini semakin dikenal luas,” ujar Ahmad Akmal Basyar.
Ia berharap pemanfaatan media digital dapat menjadi sarana efektif dalam memperkenalkan Candi Sumberawan kepada masyarakat yang lebih luas. Menurutnya, kolaborasi antara pengelola, pemerintah, dan mahasiswa akan menjadi langkah penting untuk menjaga kelestarian sekaligus meningkatkan daya tarik wisata sejarah ini tanpa menghilangkan nilai budaya, spiritual, dan lingkungan yang telah diwariskan selama berabad-abad. (*)




