Mendidik Kepekaan Rasa di Era AI: Misi SMAK St. Albertus Malang Membentuk Manusia Utuh

IDEA JATIM, MALANG – Di tengah gelombang pesat perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kian mendominasi berbagai lini kehidupan, dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menjaga esensi kemanusiaan peserta didik agar tidak tergerus oleh mesin. Menjawab tantangan tersebut, SMA Katolik St. Albertus Malang (Dempo) memilih fokus pada penguatan olah rasa dan karakter sebagai fondasi utama pendidikannya.

​Langkah ini menjadi salah satu pilar penting dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-90 SMAK St. Albertus Malang yang mengusung semangat “Go Dempo 90”.

​Kepala SMAK St. Albertus Malang, Bruder Antonius Sumardi, O.Carm menegaskan bahwa sejauh apa pun teknologi berkembang, kecerdasan buatan tetap memiliki keterbatasan mendasar yang tidak bisa menggantikan peran manusia.

​”AI itu memang cerdas, tetapi dia minus rasa. AI tidak punya hati, tidak punya empati, tidak punya perasaan sedih, malu, atau rasa kemanusiaan. Sementara manusia dianugerahi oleh Tuhan kemampuan olah rasa dan olah pikir yang jauh lebih tinggi. Karena itu, kita tidak boleh merasa kalah atau bergantung sepenuhnya pada AI,” ujar Br. Mardi.

​Untuk membentengi para siswa serta mengasah kepekaan personal yang tidak dapat disimulasi oleh teknologi, Dempo mengintegrasikan olah rasa secara terstruktur ke dalam kurikulum dan kegiatan sekolah:

Sejak tahun lalu, seluruh siswa kelas 10 mengenal dan memainkan alat musik gesek, seperti biola, hingga membentuk orkestra sekolah. Musik gesek dipilih karena membutuhkan tingkat ketelitian, kesabaran, dan pendengaran yang peka untuk menghasilkan nada yang harmonis.

​Dan memasuki jenjang berikutnya, siswa difasilitasi dengan beragam instrumen tradisional seperti gamelan, kolintang, hingga angklung.
​Melalui pembelajaran musik kelompok ini, siswa tidak hanya belajar memainkan nada, tetapi juga dilatih untuk menahan ego.

​”Dalam bermusik bersama, anak-anak belajar menahan diri untuk tidak selalu menonjolkan diri sendiri. Mereka harus mendengarkan teman di sampingnya agar tercipta keseimbangan (balance) dan harmoni. Kepekaan rasa ini tidak bisa hanya diajarkan lewat teori, tapi harus dilatih dan dialami langsung oleh diri sendiri,” jelasnya.

​Di sisi lain, semangat perayaan HUT ke-90 ini juga diperkuat dengan pesan spiritual Misa Kudus untuk menjadi “Garam dan Terang”. Seperti garam yang melebur dan memberi rasa tanpa harus memamerkan wujudnya, siswa Dempo didorong untuk memberi dampak nyata, menginspirasi, dan menggerakkan lingkungan sekitar dengan kerendahan hati.

​Menanam Warisan menuju Satu Abad
​Menatap perjalanan menuju usia satu abad (Go 100), pergerakan SMAK St. Albertus tidak hanya berhenti pada pembinaan internal sekolah. Sebagai simbol kesadaran lingkungan dan kontribusi nyata bagi Kota Malang, sekolah bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang meluncurkan gerakan menanam 90 pohon Palem Raja di sepanjang Jalan Dempo.

​Aksi ini bertujuan untuk mengembalikan identitas historis kawasan Jalan Dempo yang sejak puluhan tahun lalu dikenal asri dengan deretan palem raja.

​”Langkah ini adalah simbol bahwa Dempo akan terus berjalan, menginspirasi, dan menggerakkan generasi mendatang. Kami ingin memancar dari dalam—membawa dampak positif tidak hanya lewat kecerdasan, tetapi juga lewat kepekaan rasa dan kepedulian terhadap sesama,” pungkasnya. (*)

Berita Terkini

Menatap Abad Kedua, SMAK St. Albertus Malang Usung Semangat “Go Dempo 90”

IDEA JATIM, ​MALANG – Memasuki usia ke-90 tahun, SMA...

Sembilan Dekade Mengabdi, SMA Dempo Gelar Misa Syukur Perayaan 90 Tahun

IDEA JATIM, MALANG - ​Suasana khidmat dan penuh rasa...

Tim SAR Gabungan Evakuasi Penyintas KMP Mutiara Sentosa II ke Darat

IDEA JATIM, SURABAYA – Proses evakuasi korban insiden terbakarnya...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img