Ideajatim.id, Malang – Ahad lalu, Aula MAN 2 Kota Malang padat. Riuh. Tapi syahdu. Ada air mata yang ditahan di sudut-sudut mata para ibu. Ada tatapan berat dari para ayah. Hari itu, 261 anak-anak muda resmi diserahkan. Dilepas dari pelukan rumah untuk mengarungi samodra ilmu di Ma’had Al Qalam. Tahun ajaran baru, 2026/2027, dimulai dari sini.
​Kepala Madrasah, Dr. H. Samsudin, M.Pd hari itu absen. Ada tugas dinas luar yang tak bisa ditinggal. Tapi beliau diwakili dengan sangat prima oleh Kepala Tata Usaha, H. Sugeng Winarto, S.Ag., M.Pd.I.
​Pidato Pak Sugeng sore itu langsung menukik ke jantung pertahanan hati para orang tua. “Pendidikan di ma’had tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik,” ujar Sugeng, mantap. “Tetapi juga pembentukan karakter, penguatan akhlak, kedisiplinan, serta pembiasaan ibadah sebagai bekal kehidupan para santri.”
​Saya setuju. Seratus persen.
​Zaman sekarang, apa gunanya anak pintar kalau nilainya hasil copy-paste kecerdasan buatan, tapi tidak punya adab? Di Al Qalam, benteng itu dibangun. Angkanya konkret: 261 santri baru itu tidak dibiarkan liar. Mereka dikawal oleh “pasukan khusus”. Ada 30 orang pengasuh yang mendampingi siang-malam, plus 19 tenaga kependidikan. Formasi yang ideal untuk menjaga lingkungan tetap religius dan kondusif.
​Kepada anak-anak yang masih berwajah polos itu, Sugeng menitipkan resep penting. Pendek-pendek tapi tajam. “Luruskan niat karena Allah, jaga adab kepada guru, taati tata tertib, perkuat ibadah, cintai Al-Qur’an, dan manfaatkan setiap kesempatan,” pesannya.
​Mendengar itu, para orang tua seperti mendapat garansi. Plong.
​Prof. Rohibin, yang didaulat mewakili wali santri, maju ke depan. Kalimatnya bergetar, mencerminkan isi hati ratusan orang tua di ruangan itu. “Kami menitipkan putra-putri kami kepada keluarga besar Ma’had Al Qalam,” katanya dengan nada penuh harap.
​Profesor satu ini sadar betul, mendidik anak zaman now tidak bisa diserahkan total ke sekolah. Harus ada gotong royong. “Semoga mereka memperoleh ilmu yang bermanfaat, memiliki akhlak mulia, dan kelak menjadi generasi yang membanggakan. Kami siap mendukung seluruh program ma’had,” tambah Rohibin. Ini komitmen mahal. Sinergi.
​Acara tidak berhenti di retorika. Di sesi akhir, Ketua Ma’had Al Qalam, Ustaz H. A. Taufiq WAS, Lc., M.A., langsung tancap gas. Beliau membedah “cetak biru” kehidupan di dalam asrama.
​Semua dibuka gamblang. Mulai dari urusan tata tertib, jadwal bangun pagi, pembinaan tahfidz, sampai urusan sensitif: bagaimana aturan menjenguk anak dan sistem perizinan. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Orang tua harus tahu ritme hidup anaknya di dalam.
​”Kami berharap seluruh wali santri dapat mendukung setiap program yang telah disusun sehingga proses pembinaan dapat berjalan secara optimal,” kata Ustaz Taufiq. Kalimatnya tegas, khas orang lapangan yang ingin target tercapai.
​Pertemuan hari itu berakhir dengan jabat tangan yang erat. Suasananya hangat. Ada rasa percaya yang tumbuh.
​Memang begitulah seharusnya.
Madrasah, ma’had, dan orang tua harus berada di dalam satu barisan yang rapat. Hanya dengan saf yang rapat itulah, dari Kota Malang ini, akan lahir generasi baru yang otaknya eropa, tapi hatinya tetap makkah. Generasi Qurani yang berakhlak mulia.
​Mari kita tunggu kiprah 261 santri baru ini beberapa tahun ke depan.
Rasa-rasanya, masa depan itu masih cerah. (*)




