Prof. Dodi Wirawan Irawanto, S.E., M.Com., Ph.D.
Rektor Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang
Setiap tahun kita merayakan Hari Kemerdekaan, dan setiap tahun pula perayaan Hari Kemerdekaan setiap 17 Agustus selalu diacarakan dengan gegap gempita. Tidak jarang identik dengan kemewahan dan menghambur-hamburkan dana yang tidak sedikit. Ada pula yang melegitimasi bahwa berpakaian dengan kostum seperti zaman kerajaan adalah refleksi atas kemerdekaan bangsa yang besar ini . Di tengah dinamika politik, ekonomi, dan juga bencana gempa yang sampai hari ini belum dinyatakan sebagai bencana nasional dimana dampaknya sudah terlihat jelas yang berdampak terhadap saudara-saudara kita tahun ini perayaan seharusnya menjadi ruang refleksi tentang makna menjadi bangsa yang merdeka: bangsa yang berdaulat, bersatu, dan saling menjaga. Namun, ketika saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang menghadapi duka akibat bencana gempa, pilihan dan cara kita merayakan kemerdekaan perlu ditimbang kembali dengan hati nurani. Kita sepakat bahwa merah putih memang layak dikibarkan dan mengenang jasa-jasa pahlawan kemerdekaan, tetapi jangan sampai gegap gempita perayaan justru menenggelamkan tangis warga yang kehilangan rumah, keluarga, mata pencaharian, dan rasa aman.
Tidak ada yang keliru dengan upacara, perlombaan institusi, lomba rakyat, atau ekspresi kegembiraan atas kemerdekaan. Semua itu merupakan bagian dari identitas kebangsaan yang perlu dirawat. Kekurang empatian acap kali muncul ketika perayaan dilakukan secara berlebihan, khususnya oleh instansi publik dan perguruan tinggi sebagai salah satu institusi penting yang bertanggung jawab membentuk, menguji, mengembangkan, dan memberi teladan nilai moral serta etika dalam kehidupan publik – dengan anggaran besar dan melegalkan secara administratif untuk panggung hiburan, dekorasi, konsumsi seremonial, hadiah, dan kegiatan yang lebih menonjolkan citra lembaga daripada kepedulian sosial. Sedangkan korban bencana masih membutuhkan makanan, tenda, layanan kesehatan, air bersih, pemulihan pendidikan anak-anak, serta dukungan psikososial.
Dalam perspektif sosiologi umum, empati bukan sekadar perasaan iba personal. Empati adalah kemampuan sosial yang idealnya seharusnya dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia untuk menempatkan diri dalam pengalaman orang lain, memahami luka mereka, lalu mengubah pemahaman itu menjadi tindakan bersama. Masyarakat yang merdeka tidak hanya diukur dari kemeriahannya saat merayakan kemenangan, melainkan dari kesediaan serta ketulusan berbagi beban ketika sebagian anggotanya menderita. Solidaritas sosial tumbuh ketika warga, komunitas, dan institusi menyadari bahwa penderitaan satu daerah adalah persoalan bersama sebagai satu bangsa.
Sebagai negara yang rawan bencana gempa, beberapa kasus bencana sering kali memperlihatkan dua wajah masyarakat. Di satu sisi, hadir relawan, kelompok warga, mahasiswa, organisasi keagamaan, dan komunitas yang bergerak spontan mengumpulkan bantuan. Di sisi lain, masih tampak praktik perayaan yang tidak sensitif terhadap konteks duka nasional. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa empati perlu dilembagakan, bukan hanya diserahkan pada kebaikan individual. Instansi publik, sebagai pengelola mandat rakyat dan anggaran negara, semestinya menjadi teladan pertama dalam kepekaan sosial.
Hakikat bernegara bukanlah memperbesar seremoni, memberikan kesan berlebihan atas selebrasi, melainkan menghadirkan perlindungan dan kesejahteraan bagi warga negara. Negara dan lembaga publik memperoleh legitimasi bukan dari kemewahan acaranya, tetapi dari kemampuannya memastikan warga yang rentan tidak ditinggalkan. Perlu dipahami bahwa kesederhanaan dalam peringatan kemerdekaan bukan berarti mengurangi nasionalisme. Sebaliknya, kesederhanaan adalah bentuk nasionalisme yang lebih dewasa: nasionalisme yang tidak berhenti pada simbol, tetapi hadir dalam keberpihakan nyata kepada semua elemen negeri, utamanya bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan.
Bayangkan apabila sebagian anggaran acara seremonial dialihkan secara terbuka untuk membantu pemulihan korban gempa NTT. Dana itu dapat digunakan untuk paket pangan, kebutuhan anak-anak dan perempuan, perbaikan fasilitas pendidikan darurat, bantuan bagi pelaku usaha kecil, atau penguatan layanan kesehatan. Nilainya mungkin tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan, tetapi pesan moralnya sangat besar: kemerdekaan dirayakan dengan memberi makna pada kehidupan sesama.
Tahun ini, semestinya kita memilih perayaan yang pantas: upacara yang khidmat, doa lintas agama, penggalangan dana yang akuntabel, aksi donor, serta kegiatan gotong royong mengumpulkan paket sembako. Bendera tetap berkibar, lagu kebangsaan tetap dinyanyikan, tetapi hati kita juga harus hadir di NTT. Kemerdekaan yang sejati bukan hanya kebebasan untuk bersuka cita, melainkan juga tanggung jawab untuk tidak berpaling dari duka sesama anak bangsa.




