IDEA JATIM, BATU – Dinas Pendidikan Kota Batu menggelar agenda penting bertajuk “Penguatan dan Evaluasi Kinerja Kepala SD/MI se-Kota Batu” yang berlangsung di Aula Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropis (Balitjestro), Jumat (22/5/2026) pagi. Pertemuan yang dihadiri oleh pengawas SD serta seluruh kepala SD negeri dan swasta se-Kota Batu ini menjadi momentum besar untuk membawa arah pendidikan Kota Batu ke level yang lebih tinggi.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, Ph.D., dalam arahannya menegaskan bahwa dunia pendidikan saat ini tidak bisa lagi dikelola dengan pola-pola lama. Kepala sekolah dituntut untuk bertransformasi menjadi pemimpin pembelajar, penggerak perubahan, serta motor penguat budaya kolaborasi.
“Kegiatan sekolah tidak boleh berhenti pada tataran seremonial saja. Semua program harus memiliki dampak nyata bagi peningkatan mutu pendidikan dan perkembangan peserta didik,” ujar Alfi tegas.

Alfi mengungkapkan bahwa Kota Batu memiliki visi besar di sektor pendidikan. Targetnya tidak lagi sekadar unggul di tingkat lokal, melainkan mampu bersaing secara internasional dan sejajar dengan institusi pendidikan di luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura.
Sebagai langkah konkret, Dinas Pendidikan Kota Batu tengah merencanakan program pengimbasan (benchmarking) serta pemberian apresiasi bagi guru dan kepala sekolah berprestasi untuk berkunjung ke Universiti Teknologi Malaysia (UTM).
Untuk mendukung ekosistem tersebut, Alfi meminta wadah Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) dioptimalkan secara serius. K3S ditargetkan menggelar pertemuan minimal tiga kali dalam setahun demi membangun bonding (ikatan) yang kuat antarkepala sekolah.
“K3S jangan hanya jadi formalitas, tetapi harus menjadi ruang penguatan ide, solidaritas, dan tempat penyelesaian persoalan bersama,” tambahnya.
Salah satu poin krusial yang digarisbawahi oleh Kadisdik adalah mengenai pemerataan kualitas pendidikan di Kota Batu. Ia menyatakan perang terhadap stigma dikotomi sekolah. “Tidak ada lagi istilah ‘sekolah unggulan’ dan ‘sekolah buangan’. Semua sekolah memiliki hak yang sama untuk maju dan berkembang,” tegasnya.

Terkait kebijakan mutasi guru maupun kepala sekolah, Alfi meluruskan persepsi keliru yang kerap berkembang di lapangan. Menurutnya, mutasi adalah murni bagian dari penyegaran organisasi demi pemerataan kualitas, bukan sebuah bentuk hukuman.
Meski sarat dengan arahan strategis, suasana pertemuan tetap berlangsung hangat dan penuh keakraban. Ruangan sempat dipenuhi tawa saat Alfi melontarkan sebuah candaan ringan mengenai dinamika di sekolah.
“Guru-guru sekarang banyak yang glowing, kepala sekolahnya malah gulung-gulung (pusing),” kelakar Alfi disambut tawa para peserta.
Di balik humor tersebut, Alfi sejatinya ingin mengingatkan bahwa tanggung jawab seorang kepala sekolah memang sangat berat. Kepala sekolah tidak boleh hanya memosisikan diri sebagai administrator, melainkan harus mampu menjadi figur “orang tua” yang mengayomi dan merangkul guru-gurunya.
Menutup arahannya, Alfi Nurhidayat mengimbau seluruh kepala sekolah untuk tetap tenang dalam menjalankan tugas, fokus pada pelayanan anak didik, dan tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang tidak jelas sumbernya. Ia membuka pintu komunikasi selebar-lebarnya antara pihak sekolah dengan dinas.
“Segala persoalan di lapangan diharapkan dapat diselesaikan bersama dengan semangat kekeluargaan,” pesannya.
Sebagai pemungkas yang menyentuh hati para pendidik yang hadir, Alfi menitipkan sebuah pesan bijak: “Jika kita mau bersyukur dan ikhlas, Tuhan akan menambah nikmat dari jalan yang tidak terduga.”
Melalui evaluasi dan penguatan ini, terpancar energi baru yang diharapkan mampu membawa dunia pendidikan di Kota Batu terus tumbuh, mengukir prestasi, dan memberikan layanan terbaik bagi generasi penerus bangsa. (*)




