IDEA JATIM, MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) secara progresif membekali mahasiswanya dengan karakter kepemimpinan tangguh dalam menghadapi tantangan global melalui gelaran Kuliah Kebangsaan 2026. Acara ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan sebuah manifestasi komitmen kampus dalam menyelaraskan semangat nasionalisme dengan kemajuan teknologi dan integritas moral di era disrupsi.
Bertempat di Gedung Kuliah Bersama (GKB) A20 lantai 9, ribuan mahasiswa diajak menyelami makna kepemimpinan modern. Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menegaskan bahwa di masa depan, keberanian memimpin harus berjalan beriringan dengan penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
“Kebangsaan itu konsep yang dinamis. Para pendiri bangsa merintisnya dengan pengetahuan. Maka untuk membangun bangsa yang maju, penguasaan IPTEK menjadi kunci utamanya,” tegas Prof. Hariyono.
Ia juga menekankan pentingnya persatuan yang produktif. Menurutnya, persatuan tanpa dibarengi kreativitas hanya akan membuat bangsa stagnan. “Kalau hanya bersatu tanpa inovasi, kita tidak akan maju. Pemimpin sejati harus memiliki keberanian moral dan integritas untuk membawa perubahan nyata,” imbuhnya.
Direktur Kemahasiswaan dan Alumni UM, Prof. Dr. Eng. Siti Sendari, S.T., M.T., menambahkan bahwa kuliah ini dirancang lintas disiplin ilmu. Tujuannya agar mahasiswa tidak hanya terpaku pada satu bidang, melainkan mampu berpikir kritis secara multidimensi.
“Kuliah kebangsaan ini adalah ruang strategis untuk memperluas cakrawala berpikir mahasiswa. Penguatan perspektif adalah kunci agar mereka mampu merespons perubahan zaman secara solutif,” jelas Prof. Siti.
Kehadiran Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jawa Timur, Deni Wicaksono, S.Sos., semakin mempertajam diskusi. Ia memuji langkah UM yang memberikan ruang dialog politik yang sehat bagi generasi muda di lingkungan akademik.
“Dunia akademik harus tetap objektif dan berpihak pada kepentingan rakyat. Itulah kekuatan utama kampus,” ujar Deni. Ia pun berpesan bahwa kepemimpinan dimulai dari diri sendiri. “Kepemimpinan tidak harus menunggu jabatan, tapi dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri sebagai generasi digital native yang strategis,” lanjutnya.
Ketua Pelaksana, Rizkiyana Prihatiningtyas, berharap kegiatan ini menjadi pemantik semangat jangka panjang bagi mahasiswa untuk tidak takut mengambil peran penting di masyarakat.
Melalui sinergi antara akademisi dan praktisi politik ini, UM membuktikan bahwa pendidikan kepemimpinan tidak hanya soal teori, tetapi tentang bagaimana mengaplikasikan nilai-nilai kebangsaan dalam aksi nyata yang inovatif demi Indonesia Emas. (*)





